Membangun Brand dari Nol: ”Perjalanan Wirausaha Anak Muda di Era Digital”

Di era digital seperti sekarang, membangun bisnis bukan lagi sesuatu yang hanya bisa dilakukan oleh mereka yang sudah “mapan”. Banyak anak muda mulai merintis usaha dari rumah, dengan modal kecil tapi ide besar. Salah satunya ya aku sendiri — memulai usaha dimsum mentai homemade dari dapur kecil, cuma berbekal rasa penasaran, resep uji coba, dan semangat jualan.

Dari Iseng Jadi Serius

Awalnya cuma iseng, karena suka makan dimsum tapi bosan dengan yang itu-itu aja. Jadilah coba bikin sendiri dengan saus mentai yang creamy dan pedas manis ditambah ada tobiko nya. Ternyata, keluarga dan beberapa teman suka. Dari situ mulai seriusin — bikin brand i_dimsum, susun menu, pilih kemasan yang menarik, dan mulai pasarkan lewat Instagram serta WhatsApp Story.

Belajar Branding Tanpa Sekolah Bisnis

Karena nggak punya latar belakang bisnis, banyak hal soal branding, promosi, dan pelayanan aku pelajari sambil jalan. Mulai dari bikin logo, nulis caption biar “ngena”, sampai eksperimen packaging supaya tampak premium tapi tetap terjangkau. Ternyata branding itu bukan soal tampil mewah, tapi soal menyampaikan nilai dan rasa percaya ke pelanggan.

Digital Marketing Itu Nyata Hasilnya

Setelah aktif promosi lewat media sosial, efeknya cukup terasa. Postingan menu mingguan, testimoni pelanggan, dan promo terbatas bisa bikin penjualan naik drastis. Alhamdulillah, walau masih skala kecil, orderan rutin terus berdatangan. Tools sederhana seperti Canva dan CapCut udah cukup banget buat bantu promosi asal konsisten dan tahu target market.

Peluang Datang Saat Kita Bergerak

Di tengah proses itu, aku juga ikut beberapa kegiatan wirausaha kampus. Salah satunya sempat gabung sesi mentoring dan sharing bareng teman-teman lain yang juga sedang membangun usaha. Dari situ aku belajar pentingnya networking, insight soal harga, supplier, bahkan cara ngatur keuangan bisnis kecil.

Bukan karena ikut programnya, tapi karena usahanya memang terus dijalankan — program hanya membantu memperluas sudut pandang dan menambah dorongan.

Usaha Bukan Soal Instan, Tapi Soal Konsisten

Kalau ditanya, “apa sih kunci mulai usaha kecil kayak gini?” Jawabanku simpel: mulai aja dulu, perbaiki sambil jalan. Jangan nunggu sempurna, karena nggak akan ada waktu yang “paling tepat”. Usaha kecil kayak jualan dimsum pun bisa berkembang kalau dijalankan dengan niat, belajar terus, dan tetap jujur sama pelanggan.

Semoga kisah ini bisa jadi pemantik semangat buat teman-teman mahasiswa atau siapa pun yang pengen mulai wirausaha dari hal kecil. Karena dari kecil pun, kalau konsisten dan bernilai, bisa jadi besar.

Cerita dari Dapur Kecil: Proses Produksi i_dimsum

Setiap hari produksi dimulai dari pagi, biasanya aku mulai cek stok bahan: ayam fillet, kulit dimsum, telur, dan bahan saus mentai seperti mayones, saus sambal, dan tobiko, bahkan untuk kulitnya aku buat langsung sendiri tanpa beli kulit yang udah jadi dipasaran. Kalau stok aman, aku mulai bikin adonan ayam dulu. Sambil itu, kukusan disiapkan, dan kemasan dicek satu per satu.

Karena masih produksi sendiri, semua dilakukan manual. Mulai dari membungkus dimsum satu-satu, mengukusnya, sampai bikin saus mentai dengan topping keju melt yang harus dicairkan dengan suhu pas biar nggak pecah, part terserunya itu waktu bagian torch bagian atas dimsumnya itu yang bikin rasanya tambah enak karna ada smoky-smoky nya, sampe sampe satu rumah wangi dimsum. Kadang capek, tapi pas liat hasil akhir dan testimoni pelanggan yang bilang “enak banget kak!” langsung ke-charge lagi semangatnya.

Tentu aja, nggak semuanya mulus. Pernah juga saus mentainya terlalu asam karena mayonesnya beda merek. Atau tiba-tiba gas habis pas lagi produksi rame-rame. Belum lagi kalau pas hujan deras, pengiriman bisa telat karena driver ojek online susah nyampe ke rumah.

Tantangan lain adalah ngatur waktu antara kuliah, tugas, dan produksi. Kadang mesti ngerjain laporan sambil nunggu dimsum matang di kukusan. Tapi selama ini, support dari teman dekat dan pelanggan yang loyal bikin aku tetap semangat jalanin usaha ini.

Strategi Biar Tetap Dilirik Pembeli

Di awal-awal, jujur aja agak susah dapet pembeli. Tapi lama-lama mulai nyoba beberapa strategi:

  • Bikin promo diskon harga dimsum.
  • Posting behind the scene di IG dan tiktok biar orang tahu prosesnya beneran homemade.
  • Kolaborasi sama teman yang influencer, jadi bisa lebih dikenal lagi.

Selain itu, aku juga rajin balas chat dengan ramah dan cepat. Banyak pelanggan repeat order karena katanya suka pelayanan yang cepat dan nggak ribet, caranya juga tinggal chat lewat DM instagram lalu isi format pemesanan, bayar, tinggal tunggu deh sampe pesenannya jadi.

Respon Pelanggan Bikin Haru

Salah satu momen paling bikin aku terharu adalah waktu ada pelanggan yang bilang, “Kak, dimsumnya aku bawa buat arisan keluarga, semuanya suka dan minta nambah!” Rasanya seneng banget bisa bikin orang lain happy dari makanan buatan tangan sendiri.

Ada juga pelanggan yang pesan dimsum buat ulang tahun adiknya. Dia minta packaging lucu dan tulis pesan kecil. Waktu kirim foto hasilnya dan dia bilang “wah kak cantikk bgt thank youuuu ”, itu priceless banget!
bahkan banyak juga yanng sampe repeat order berkali kali, senengnya!!

Tips Buat Kamu yang Mau Mulai Jualan

Buat kamu yang lagi mikir mau mulai jualan juga, apalagi di bidang kuliner, ini beberapa tips dari pengalaman aku sendiri:

  1. Mulai dari yang disukai. Kalau kamu suka makan atau masak, itu udah modal utama.
  2. Uji coba resep dulu, jangan buru-buru jual. Minta pendapat jujur dari keluarga/teman.
  3. Gunakan media sosial sejak awal. Meskipun belum sempurna, tetap posting proses dan cerita.
  4. Perhatiin kemasan dan foto produk. Jangan asal-asalan, karena visual itu penting banget.
  5. Belajar keuangan basic. Catat semua pengeluaran dan pemasukan, walau kecil karna itu berguna banget buat kedepannya.

Belajar dari Feedback: Pelanggan Adalah Guru Terbaik

Salah satu hal yang paling aku syukuri selama menjalankan usaha ini adalah banyaknya masukan dari pelanggan. Ada yang kasih ide topping baru, request varian pedas banget, sampai komentar soal packaging. Awalnya sempat baper kalau ada kritik, tapi lama-lama aku sadar, itu semua justru bantu aku berkembang.

Contohnya, dulu aku cuma pakai kemasan mika biasa. Tapi karena beberapa pelanggan bilang kurang aman untuk pengiriman, aku upgrade ke box yang lebih kuat dan estetik. Hasilnya? Banyak yang makin suka dan bilang jadi cocok buat hampers juga.

Pelanggan tuh kadang tahu apa yang kita butuh tahu, cuma kita aja yang harus belajar dengar dan siap berubah. Dari situ aku belajar: bisnis yang baik itu bukan cuma soal jualan, tapi soal mendengar dan melayani dengan hati.

Kenapa Harus Produk Lokal dan Homemade?

Di tengah banyaknya makanan instan dan frozen yang mudah dibeli di e-commerce, aku tetap percaya kekuatan produk homemade lokal. Karena beda rasanya. Beda energinya. Ketika makanan dibuat dengan perhatian, bahan segar, dan rasa cinta, hasil akhirnya pun terasa lebih “hidup”.

Dimsum yang aku buat setiap harinya gak pernah disimpan lama. Bahkan sering kali pelanggan pesan dulu, baru aku bikin. Itulah kenapa rasanya selalu fresh dan gak amis.

Dengan mendukung produk homemade seperti i_dimsum, kita bukan cuma makan — tapi ikut mendukung mimpi, usaha kecil, dan semangat anak muda yang ingin maju lewat jalan usahanya sendiri.

Menghitung Keuntungan Bukan Cuma Soal Uang

Dulu waktu baru mulai, aku kira yang namanya “untung” itu cuma soal selisih harga jual dan modal. Tapi makin ke sini, aku sadar kalau untung itu lebih luas dari angka. Ada rasa puas waktu lihat pelanggan repeat order. Ada rasa bangga saat pesanan laris sampai harus lembur. Bahkan ada rasa senang ketika usaha ini bisa bantu aku beli kebutuhan sendiri tanpa minta dari orang tua.

Waktu pertama kali dapat keuntungan bersih dan bisa traktir keluarga makan — itu momen kecil tapi bermakna banget. Bukan cuma karena uangnya, tapi karena rasanya beda: hasil dari usaha sendiri.

Memang belum besar, tapi usaha kecil kayak gini ngajarin aku soal tanggung jawab, sabar, dan nikmatnya proses. Buatku, dimsum ini bukan cuma makanan — tapi juga jalan belajar jadi lebih mandiri dan percaya diri.

Menu Favorit dan Rencana Baru

Salah satu menu yang paling banyak dipesan saat ini adalah Dimsum isi 6 dengan saus mentai dengan tambahan chili oil. Banyak pelanggan suka karena pas banget buat dimakan sendiri, apalagi kalo pakai add on topping katsuboshi-nya bikin cita rasa makin unik dan gurih.

Ada juga menu musiman seperti Dimsum Birthday Cake yang cocok buat hadiah ulang tahun. Isinya campuran dimsum original, chilioil, lilin, bahkan ucapan happy birthday dalam kemasan rame-rame — yang praktis tapi tetap estetik.

Ke depan, aku lagi eksperimen untuk bikin varian baru seperti:

  • Dimsum goreng Lumer, yang bagian tengahnya meleleh pas digigit.

Harapannya, menu makin variatif tapi tetap mempertahankan ciri khas: dimsum buatan tangan, fresh setiap hari, dan full rasa homemade.

Semangat Buat Kamu yang Lagi Berproses

Buat kamu yang lagi ragu memulai, ingat satu hal: semua hal besar berawal dari langkah kecil. Gak apa-apa belum sempurna, yang penting jalan dulu. Gagal itu biasa, asal jangan berhenti belajar.

Kalau aku yang cuma punya dapur kecil bisa mulai jualan dimsum, kamu juga bisa memulai apapun dari tempatmu sekarang. Ide yang kelihatan sederhana pun bisa jadi besar kalau dijalankan dengan konsisten dan hati.

Semangat terus ya! Jangan pernah remehkan usaha kecilmu — karena besar itu bukan soal ukuran, tapi soal dampak dan ketekunan !!..

Yuk Coba i_dimsum!

Kalau kamu pengen nyobain dimsum yang gak cuma enak tapi juga dibuat penuh perhatian, boleh banget intip akun IG usahaku: @i_dimsum.id
Kita punya berbagai pilihan paket, dari yang isi 6 sampai 16!! bahkan bisa buat birthday juga lohh. buat lebih lengkapnya bisa langsung kepoin instagramnya yaa!!

Pakai saus mentai homemade, ada add on topping keju melt dan katsuboshi yang bikin rasa makin meledak di mulut. Bisa kirim ke area kampus dan sekitarnya juga, tinggal DM aja! 😉