GITA: Gelang Pintar yang Membantu Pengemudi Ojek Online Tunarungu Berkendara Lebih Aman

7–10 minutes

Pengemudi ojek online setiap hari harus mengikuti rute yang ditampilkan di layar ponsel sambil tetap waspada terhadap kondisi lalu lintas. Bagi pengemudi yang memiliki gangguan pendengaran atau tunarungu, tantangan ini menjadi lebih berat karena mereka tidak bisa mendengar klakson, sirene, atau suara peringatan lain di jalan.

Dari persoalan tersebut, dikembangkan sebuah inovasi bernama GITA (Gelang Isyarat Tunjuk Arah). GITA adalah sepasang gelang berbasis Internet of Things (IoT) yang dirancang untuk membantu pengemudi ojek online tunarungu mengetahui arah jalan dan mendeteksi kendaraan darurat, tanpa perlu melihat layar ponsel secara terus menerus.

Masalah yang Melatarbelakangi GITA

Berdasarkan data sensus penduduk tahun 2022, lebih dari 255 ribu orang di Indonesia mengalami ketulian total, dan sekitar 669 ribu orang mengalami kesulitan mendengar berat. Sebagian dari mereka bekerja sebagai pengemudi ojek online melalui platform seperti Grab, Gojek, Maxim, dan Gaspol Jek. Lebih dari seribu pengemudi tunarungu juga tergabung dalam Komunitas Ojol Tunarungu Indonesia (KOTRI).

Ada dua masalah keselamatan yang mereka hadapi di jalan:

  • Pertama, kebiasaan melihat layar ponsel saat berkendara. Tanpa panduan suara, satu satunya cara mengikuti rute adalah dengan melihat layar ponsel langsung. Penelitian menunjukkan kebiasaan ini dapat meningkatkan risiko kecelakaan hingga 3,6 kali lipat, dan sekitar 75 persen pengendara motor di Indonesia diketahui menggunakan ponsel saat berkendara. Sebuah studi juga menemukan adanya hubungan positif yang signifikan antara gangguan akibat penggunaan ponsel dan perilaku berkendara pada pengemudi ojek online, di mana semakin sering pengemudi teralihkan oleh ponsel, semakin berisiko pula cara mereka mengemudi.
  • Kedua, ketidakmampuan merespons sinyal suara di jalan. Pengemudi tunarungu tidak bisa mendengar klakson maupun sirene ambulans yang seharusnya menjadi tanda bahaya dini, sehingga berisiko terlambat merespons kondisi darurat di sekitarnya. Keterbatasan ini dapat berdampak pada menurunnya kesadaran situasional pengemudi saat berkendara, misalnya tidak menyadari ada ambulans dari belakang atau klakson peringatan saat bermanuver di tengah kemacetan.

Kombinasi kedua masalah ini menunjukkan adanya kesenjangan dalam sistem navigasi yang selama ini belum mengakomodasi kebutuhan keselamatan pengemudi tunarungu, khususnya yang bekerja sebagai pengemudi ojek online.

Cara Kerja GITA

Navigasi haptik sendiri merupakan metode penyampaian informasi arah melalui rangsangan taktil berupa getaran pada kulit pengguna, sehingga memungkinkan navigasi tanpa bergantung pada indra penglihatan maupun pendengaran. Penelitian menunjukkan bahwa pergelangan tangan merupakan lokasi yang cukup optimal untuk menerima sinyal taktil semacam ini, dengan tingkat akurasi persepsi yang tinggi. Perangkat navigasi hands-free berbasis getaran juga dinilai memiliki keunggulan dibandingkan navigasi berbasis layar, karena penggunanya tidak perlu mengalihkan pandangan dari lingkungan sekitar.

GITA berupa sepasang gelang haptik yang dikenakan di pergelangan tangan kiri dan kanan. Gelang di tangan kiri bergetar saat pengemudi harus belok kiri, dan gelang di tangan kanan bergetar saat harus belok kanan. Pola getaran ini juga menyesuaikan jarak manuver dan kecepatan kendaraan.

Aplikasi mobile GITA membaca rute perjalanan dari Google Maps, lalu menerjemahkan instruksi arah tersebut menjadi sinyal getaran yang dikirim ke gelang melalui koneksi Bluetooth Low Energy (BLE), teknologi Bluetooth hemat daya yang cocok untuk perangkat wearable.

Selain navigasi, aplikasi GITA dilengkapi model kecerdasan buatan bernama YAMNet buatan Google, yang telah dilatih ulang untuk mengenali suara sirene, klakson, dan suara darurat lain melalui mikrofon ponsel. Ketika suara darurat terdeteksi, gelang akan langsung bergetar sebagai peringatan kepada pengemudi secara real time.

YAMNet sendiri merupakan model klasifikasi suara berbasis Convolutional Neural Network (CNN) yang dibangun menggunakan arsitektur MobileNetV1. Arsitektur ini memanfaatkan teknik depthwise separable convolution, yaitu proses pengolahan sinyal suara yang dipecah menjadi dua tahap, penangkapan pola lokal dan penggabungan informasi antar channel, sehingga model tetap ringan dan bisa dijalankan pada perangkat dengan keterbatasan komputasi seperti smartphone.

Komponen Utama Gelang GITA

Beberapa komponen utama yang menyusun gelang GITA:

1. Seeed Studio XIAO ESP32-S3, mikrokontroler yang menerima perintah navigasi dari aplikasi ponsel melalui Bluetooth, lalu menerjemahkannya menjadi instruksi getaran. Mikrokontroler ini dipilih karena sudah mendukung Bluetooth Low Energy 5.0 dan konsumsi dayanya rendah, baik saat aktif maupun dalam mode tidur, sehingga cocok untuk perangkat wearable yang perlu bertahan lama.

2. DRV2605L Haptic Motor Controller, mengatur aktuator getar agar menghasilkan pola getaran sesuai instruksi dari mikrokontroler. Komponen ini juga dilengkapi fitur pelacakan resonansi otomatis, sehingga getaran yang dihasilkan tetap konsisten.

3. Linear Resonant Actuator (LRA), aktuator yang menghasilkan getaran di pergelangan tangan. LRA dipilih karena responsnya cepat dan pola getarannya mudah dibedakan, dibandingkan jenis aktuator getar lain yang umumnya memiliki waktu respons lebih lambat.

4. Baterai LiPo 500 mAh, menjadi sumber daya mandiri agar gelang bisa digunakan secara nirkabel sepanjang satu shift kerja.

5. Casing Thermoplastic Polyurethane (TPU), melindungi komponen di dalamnya, dicetak menggunakan printer 3D dengan bahan fleksibel agar nyaman dipakai.

Perbedaan GITA dengan Inovasi Sejenis

Konsep navigasi haptik sebenarnya sudah pernah dikembangkan sebelumnya. Ada alat yang menerjemahkan perintah GPS menjadi enam jenis pola getaran, namun dirancang untuk pengemudi mobil, bukan pengendara motor. Pengemudi mobil relatif minim merasakan getaran selama berkendara, sehingga pola getaran seperti ini belum tentu efektif diterapkan pada pengendara motor yang sudah terbiasa merasakan getaran dari mesin dan kondisi jalan. Ada juga gelang navigasi ganda untuk pesepeda yang menggunakan dua motor getar di kedua pergelangan tangan dan terhubung ke aplikasi melalui Bluetooth, terbukti mudah dipahami untuk navigasi belok demi belok, tetapi alat ini ditujukan untuk pesepeda pada umumnya dan belum mempertimbangkan kebutuhan spesifik pengendara motor tunarungu. Selain itu, ada inisiatif rompi identitas bagi pengemudi tunarungu, namun solusi ini hanya membantu penumpang mengenali kondisi pengemudi, tanpa memberikan panduan arah maupun peringatan bahaya.

GITA menawarkan beberapa hal yang belum ada pada inovasi inovasi tersebut:

1. Konsep gelang ganda dengan prinsip sederhana, kiri bergetar untuk kiri dan kanan bergetar untuk kanan, sehingga tidak perlu menghafal pola getaran yang rumit.

2. Integrasi kecerdasan buatan untuk mendeteksi suara darurat langsung melalui mikrofon ponsel.

3. Tujuh pola getaran yang dirancang khusus untuk konteks berkendara motor, yaitu belok kiri, belok kanan, putar balik, jalan lurus, sampai tujuan, perubahan rute, dan peringatan darurat, dengan algoritma yang menyesuaikan jarak peringatan berdasarkan kecepatan kendaraan.

Tujuan dan Manfaat

Pengembangan GITA bertujuan meningkatkan kemandirian dan keselamatan berkendara pengemudi ojek online tunarungu, melalui panduan haptik yang intuitif dan deteksi suara darurat berbasis kecerdasan buatan.

Ada dua manfaat yang diharapkan. Pertama, mengurangi risiko kecelakaan akibat kebiasaan melihat layar ponsel saat berkendara, sekaligus membantu pengemudi tetap patuh terhadap aturan lalu lintas yang melarang penggunaan ponsel saat mengemudi. Kedua, meningkatkan keselamatan pengemudi tunarungu maupun pengguna jalan lain, karena kini mereka bisa mendeteksi dan merespons kehadiran kendaraan darurat seperti ambulans, mobil polisi, atau pemadam kebakaran, sesuatu yang sebelumnya sulit mereka sadari akibat keterbatasan pendengaran.

Proses Pengembangan

Pengembangan GITA dilakukan melalui dua tahap yang berjalan bersamaan, yaitu pembangunan perangkat keras berupa gelang haptik, dan pengembangan perangkat lunak berupa aplikasi mobile yang terintegrasi kecerdasan buatan. Setiap sprint dimulai dari penyusunan daftar kebutuhan pengembangan atau product backlog, dilanjutkan dengan sprint planning untuk menentukan target dan pembagian tugas, pemantauan progres harian melalui daily scrum, hingga sprint review dan sprint retrospective di akhir periode untuk mengevaluasi hasil kerja dan merumuskan perbaikan pada siklus berikutnya.

Setelah pengembangan selesai, GITA melalui dua tahap pengujian. Pengujian pertama adalah integration testing, yaitu menguji kelancaran koneksi Bluetooth antara ponsel dan gelang, ketepatan model AI dalam mendeteksi suara darurat, kesesuaian penerjemahan rute dari Google Maps, serta kepresisian getaran di kedua pergelangan tangan. Setiap bug atau ketidaksesuaian kinerja yang ditemukan akan diperbaiki sebelum masuk ke tahap pengujian berikutnya. Pengujian kedua adalah user acceptance test, yang dilakukan langsung di lapangan bersama tiga pengemudi ojek online tunarungu dari Komunitas Ojol Tunarungu Indonesia, untuk memastikan gelang dan aplikasi benar benar bisa digunakan dengan aman saat berkendara sesungguhnya.

Keseluruhan proses pengembangan ini direncanakan berlangsung selama empat bulan, mulai dari tahap penentuan konsep dan pembelian komponen, perakitan perangkat keras, pemrograman komunikasi antara gelang dan aplikasi, integrasi model AI, hingga pengujian akhir dan dokumentasi. Kegiatan ini didukung oleh pendanaan program Kreativitas Mahasiswa bidang Karsa Cipta, yang dialokasikan untuk kebutuhan bahan habis pakai seperti komponen elektronik, jasa cetak PCB dan casing, kursus daring pendukung, hingga biaya perjalanan untuk survei kebutuhan pengguna dan uji coba lapangan bersama komunitas pengemudi tunarungu.

Harapan ke Depan

Melalui program ini, tim menargetkan tersusunnya prototipe gelang navigasi GITA beserta aplikasi pendukungnya, sekaligus dokumentasi proses pengembangan sebagai bahan pembelajaran dan promosi produk. Luaran lain yang direncanakan mencakup laporan kemajuan, laporan akhir, serta akun media sosial untuk mendokumentasikan perkembangan proyek ini kepada masyarakat.

GITA diharapkan dapat berkontribusi pada penguatan hak hak penyandang disabilitas, khususnya di sektor transportasi dan pekerjaan, sejalan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan terkait pengurangan kesenjangan sosial. Pengembangan GITA juga menjadi salah satu contoh bagaimana teknologi wearable dan kecerdasan buatan bisa dirancang dengan mempertimbangkan kebutuhan spesifik kelompok pengguna tertentu, bukan sekadar solusi umum yang diterapkan tanpa penyesuaian.

Ke depannya, tim berencana melanjutkan pengembangan GITA berdasarkan hasil uji coba lapangan bersama pengemudi tunarungu, agar produk ini dapat terus disempurnakan sebelum digunakan secara lebih luas.

Referensi

BPS (2022) Jumlah Penduduk Berumur 5 Tahun ke Atas menurut Kelompok Umur, Daerah Perkotaan/Perdesaan, Jenis Kelamin, dan Tingkat Kesulitan Mendengar, INDONESIA, Tahun 2022. Tersedia di: https://sensus.bps.go.id/topik/tabular/sp2022/145/0/0

Dingus, T.A., Guo, F., Lee, S., Antin, J.F., Perez, M., Buchanan-King, M. dan Hankey, J. (2016) ‘Driver crash risk factors and prevalence evaluation using naturalistic driving data’, PNAS, 113(10), hlm. 2636–2641.

Widyanti, A., Pratama, G.B., Anindya, A.H., Sari, F.P., Sumali, A., Salma, S.A., Yamin, P.A.R. dan Soetisna, H.R. (2020) ‘Mobile phone use among Indonesian motorcyclists: prevalence and influencing factors’, Traffic Injury Prevention, hlm. 459–463.

Otoom, M., Alzubaidi, M.A. dan Aloufee, R. (2022) ‘Novel navigation assistive device for deaf drivers’, *Assistive Technology*, 34(2), hlm. 129–139.

Escobar Alarcón, M.C. dan Ferrise, F. (2017) ‘Design of a Wearable Haptic Navigation Tool for Cyclists’. Tersedia di: https://www.researchgate.net/publication/321155566_Design_of_a_Wearable_Haptic_Navigation_Tool_for_Cyclists

Liputan6 (2025) Gojek Sediakan Rompi Khusus untuk Mitra Driver Tunarungu. Tersedia di: https://www.liputan6.com/disabilitas/read/6228740/gojek-sediakan-rompi-khusus-untuk-mitra-driver-tunarungu-bantu-permudah-komunikasi-di-jalan

Bluetooth SIG (2023) Bluetooth Core Specification, Version 5.4. Tersedia di: https://www.bluetooth.com/specifications/specs/core-specification-5-4/

Brusa, E., Delprete, C. dan Di Maggio, L.G. (2021) ‘Deep Transfer Learning for Machine Diagnosis: From Sound and Music Recognition to Bearing Fault Detection’, Applied Sciences, 11(24), hlm. 11663.

Ratuayu Nurfajar

Mahasiswa Teknik Informatika, Universitas Komputer Indonesia