Bagi beberapa orang, soft cookies hanyalah camilan manis untuk menemani kopi. Namun bagi Raditya Reskyananta Saputra, sepotong cookies lembut merupakan ingatan tentang masa kecilnya, eksperimen dapur yang melelahkan, dan perjuangan keras seorang mahasiswa dalam merintis kemandirian finansial.
Kerinduan Masa Kecil dan Inspirasi Levain Bakery
Cerita YumKies sebenarnya berasal dari kenangan. Selama masa kecil, saya sangat menyukai sereal dengan bentuk cookies kecil yang unik. Sayangnya, produk tersebut tidak lagi dijual. Kerinduan akan tekstur renyah dan lembut itu masih ada.
Bertahun-tahun kemudian, pandangannya tertuju pada tren Levain Bakery cookies—kue asal New York yang terkenal dengan ukurannya yang tebal, padat, dan terlihat sangat menggugah selera. Rasa penasaran pun muncul: “Bisa enggak ya, aku bikin cookies seperti ini?”
Nekat tanpa tahu resep pasti, saya langsung terjun ke dapur untuk melakukan Research and Development (R&D) pertamanya.
Pada awalnya, Resky tidak tahu apa itu brown sugar Karena keduanya berwarna cokelat, saya akhirnya membuat kesimpulan sendiri bahwa gula aren sama dengan brown sugar. Akibatnya? Cookies pertama saya keras seperti batu.
Kegagalan pertama tidak menghentikannya. Resky sempat mencoba berbagai jenis kue, mulai dari membuat roti tawar, cinnamon roll, hingga donat, tetapi nasib selalu membawa dia kembali ke adonan kue kering.
Semester 2, Uang Jajan Tambahan, dan Lahirnya “YumKies”
Setelah memasuki semester kedua perkuliahan di jurusan Teknik Informatika UNIKOM, ada kebutuhan yang mendesak. Mahasiswa sering merasa uang saku orang tua tidak mencukupi karena saya aktif berolahraga dan membutuhkan lebih banyak protein dan nutrisi. Resky sendiri bingung, gimana saya bisa mendapatkan uang jajan tambahan?
Dia teringat pada Soft Cookies. Kali ini, ia berhasil menghasilkan formula yang tepat dengan lebih banyak RnD. Saat mencari nama yang tepat, saya menemukan Yummy Cookies, yang kemudian disingkat menjadi YumKies untuk menjadi lebih modern.
Modal yang sangat terbatas pada awal masa jualan, jadi Resky hanya menggunakan oven tangkring (oven kompor manual).
Karena menggunakan oven tangkring, tekstur dan kematangannya belum sempurna sepenuhnya, tetapi Resky nekat menjualnya ke teman-teman kuliah untuk meminta pendapat mereka. Ternyata mereka sangat menyukainya karena rasanya unik!
Maraton 12 Jam demi 50 Cookies
Titik balik pertama YumKies terjadi berkat bantuan sang adik. Setelah Resky berhasil mengunci empat varian rasa dasar (Signature, Double Choco, Nutella, dan S’mores), adiknya berinisiatif menawarkan kue-kue tersebut ke teman-teman sekolahnya.
Hasilnya? Penjualan langsung meledak!
Namun, ledakan orderan ini menjadi ujian fisik yang luar biasa bagi Resky. Dengan keterbatasan oven tangkring yang hanya mampu memanggang sekitar 6 cookies per jam, Resky harus berdiri di dapur selama 12 jam penuh demi mengejar target 50 lebih cookies dalam sehari. Capek dan melelahkan, tentu saja. Namun, rasa bangga karena produknya laku keras mengalahkan rasa lelah tersebut.
Tembus 23 Juta Penonton Internasional
Resky sangat memahami kekuatan digital sebagai mahasiswa informatika. Ia mulai gencar melakukan promosi di Instagram melalui Reels, Story, dan Feeds. Selain itu, ia menantang dirinya untuk mencoba Meta Ads untuk menjangkau lebih banyak pengguna.
Strategi digital ini menghasilkan hasil yang menguntungkan. Pada titik tertinggi, konten dari Reels yang dia unggah menjadi viral secara organik. Video tersebut berhasil menarik lebih dari 5.000 pengikut di Instagram YumKies dan mencapai 23 juta penonton di seluruh dunia.
Musuh Terbesar Adalah Diri Sendiri
Di balik pertumbuhan pesat YumKies, hambatan terbesar Resky adalah dirinya sendiri, bukan pesaing atau bahan baku yang mahal.
Memisahkan uang pribadi dari uang bisnis sangat sulit bagi anak muda yang mengelola bisnis sendirian. Resky seringkali “khilaf” menggunakan uang hasil penjualan YumKies untuk keperluan pribadi karena kebutuhan harian yang tinggi, terutama untuk mendukung gaya hidup sehat dan pemenuhan protein olahraganya.
Namun, kedewasaan bisnis muncul secara bertahap. Resky mulai belajar menyisihkan keuntungan sedikit demi sedikit untuk investasi dalam alat untuk meningkatkan kinerja YumKies. Kini, dapur produksinya sudah mulai dicicil dengan mixer, freezer, dan oven yang lebih canggih, sehingga tidak perlu lagi menunggu selama 12 jam di depan oven kompor.
Mimpi Besar dari Dapur Kuliah
Di semester 6, Raditya Reskyananta Saputra tidak lagi sekadar mahasiswa biasa yang mencari uang untuk jajan. Ia adalah pendiri merek soft cookies yang terkenal di internet.
Berhasil membangun YumKies sampai saat ini sambil tetap kuliah adalah pencapaian terbesar saya saat ini. Kedepannya, mimpi terbesar saya adalah memiliki dapur khusus (produksi) sendiri untuk YumKies. Saya ingin punya ruang yang luas dan leluasa untuk berkreasi, memproduksi, dan membawa YumKies ke tingkat yang jauh lebih besar lagi.
YumKies telah tumbuh menjadi perusahaan yang menjanjikan dari kekeliruan menganggap gula aren sebagai brown sugar. Perjalanan Resky menunjukkan bahwa tidak memiliki banyak alat atau pengetahuan bukanlah alasan untuk berhenti, karena konsistensi dan rasa ingin tahu adalah kunci kesuksesan.