Bagi kalian yang tinggal di Bandung atau sering berkunjung ke Kota Kembang, pasti sudah tidak asing lagi dengan kawasan Lengkong Kecil. Jika kita melintas di siang hari, mungkin jalanan ini terlihat seperti kawasan jalan raya pada umumnya. Namun, coba datang saat matahari terbenam. Kawasan Lengkong Kecil seketika bertransformasi secara pesat menjadi salah satu pusat kegiatan ekonomi dan primadona pariwisata kuliner malam yang sangat ikonik di Kota Bandung.
Tingginya konsentrasi massa dan perputaran aktivitas di koridor publik ini tentu membawa dampak yang sangat positif. Ratusan tenant, pedagang kaki lima, hingga musisi jalanan berpadu menciptakan iklim usaha lokal yang hidup dan menggerakkan roda perekonomian warga. Namun, layaknya dua sisi mata uang, di balik gemerlap dan keramaian malam tersebut, tersimpan tantangan besar yang memicu kompleksitas tinggi terhadap pemeliharaan ketentraman dan ketertiban umum.
Dilema Ketertiban di Tengah Geliat Ekonomi
Mari kita lihat fakta riil di lapangan. Ketika antusiasme pengunjung membludak, kita sering kali dihadapkan pada rentetan permasalahan tata ruang. Beberapa permasalahan yang kerap terjadi antara lain adalah adanya pedagang yang membandel dan melanggar batas zonasi jualan yang telah ditentukan, fenomena parkir liar kendaraan—baik roda dua maupun roda empat—yang memakan bahu jalan dan memicu penyempitan jalur lalu lintas secara ekstrem, hingga potensi gesekan sosial.
Lebih jauh lagi, pada jam-jam larut malam, keramaian ini berisiko membentuk kerumunan massa abnormal yang tidak terkendali. Suara bising dari kendaraan yang berebut jalan, teriakan, atau dentuman musik yang terlalu keras pada akhirnya berisiko tinggi mengganggu kenyamanan dan kualitas istirahat warga sekitar yang bermukim di area tersebut. Hal ini memunculkan sebuah pertanyaan besar: Bagaimana cara menyeimbangkan potensi ekonomi pariwisata dengan hak kenyamanan warga lokal?
Keterbatasan Sistem Pengawasan Konvensional: Mengapa Patroli Saja Tidak Cukup?
Mungkin di antara kita ada yang bertanya-tanya, bukankah sudah ada petugas keamanan seperti Satpol PP dan kamera CCTV yang terpasang di berbagai sudut jalan? Benar sekali. Hingga saat ini, sistem pengawasan dan penegakan regulasi di ruang publik kawasan tersebut memang masih sangat mengandalkan metode konvensional. Metode ini mencakup patroli periodik secara fisik oleh personil Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Bandung, serta penindakan berdasarkan pelaporan aduan dari masyarakat secara manual.
Sayangnya, pendekatan konvensional ini memiliki celah keterbatasan yang cukup signifikan. Pertama, dari segi efisiensi waktu respon dan keterbatasan jumlah personel pengawas. Sangat tidak mungkin mengharapkan segelintir petugas untuk mengawasi setiap jengkal jalanan sepanjang malam. Kedua, sifat penindakannya cenderung reaktif—di mana petugas baru datang dan bertindak setelah pelanggaran terjadi dalam durasi yang cukup lama atau setelah kemacetan parah sudah terlanjur terjadi.
Sementara itu, bagaimana dengan CCTV? Infrastruktur kamera Closed-Circuit Television (CCTV) konvensional yang terpasang di ruang publik saat ini belumlah “pintar”. CCTV tersebut sebatas berfungsi sebagai perekam video pasif yang sangat membutuhkan intervensi manusia untuk memantau layar monitor secara terus-menerus selama 24 jam penuh. Bayangkan betapa lelahnya operator yang harus memelototi puluhan layar secara bersamaan. Akibatnya, penumpukan pelanggaran ketertiban harian sering kali terlambat diidentifikasi, sehingga mempersulit optimalisasi pemeliharaan keamanan kota yang bersifat preventif.
Solusi Masa Depan: Integrasi AI-CCTV dan Sensor IoT (Multimodal Sensing)
Untuk mengurai benang kusut tata kelola kota tersebut, kita tidak bisa lagi hanya mengandalkan tenaga manusia. Kita memerlukan sebuah transformasi dari pemantauan pasif-reaktif menuju sistem otomatisasi deteksi dini (early warning system) yang berjalan secara real-time. Sebagai bentuk kontribusi nyata mahasiswa UNIKOM terhadap pengembangan Smart City (kota cerdas), konsep Smart City sendiri tidak hanya berfokus pada penggunaan teknologi digital semata, tetapi juga pada bagaimana teknologi tersebut mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat secara berkelanjutan.
Dalam konsep kota cerdas, pengambilan keputusan dilakukan berdasarkan data (data-driven decision making), sehingga setiap kebijakan yang diterapkan dapat lebih cepat, tepat, dan efisien. Oleh karena itu, pemanfaatan Artificial Intelligence (AI), Internet of Things (IoT), dan komputasi awan menjadi fondasi penting dalam membangun sistem pelayanan publik modern.
Kota Bandung sendiri telah dikenal sebagai salah satu daerah yang aktif mengembangkan berbagai program Smart City melalui digitalisasi layanan pemerintahan dan pemanfaatan teknologi informasi. Kehadiran sistem pengawasan berbasis AI-CCTV dan sensor IoT di kawasan Lengkong Kecil diharapkan dapat menjadi salah satu bentuk pengembangan lanjutan yang secara langsung mendukung terciptanya ruang publik yang aman, tertib, dan nyaman bagi seluruh masyarakat.
Inovasi kami berjudul: “Sistem Terintegrasi AI-CCTV dan Sensor IoT sebagai Pendeteksi Dini Pelanggaran Ketertiban Masyarakat di Kecamatan Lengkong”.
Apa yang membedakan produk ini dari sistem yang sudah ada? Keterbaruan teknologi (novelty) yang kami rancang dari awal ini bertumpu pada metode analitik data multi-input atau multimodal sensing. Tujuannya sangat krusial: meminimalisir tingkat salah deteksi (false alarm). Bayangkan jika sistem terus-menerus mengirimkan alarm palsu ke petugas, tentu sistem tersebut malah akan merepotkan. Oleh karena itu, sistem pengawasan cerdas ini mengintegrasikan dua pilar arsitektur teknologi secara simultan:
1. AI-CCTV (Computer Vision) sebagai “Mata” yang Cerdas Kamera pengawas tidak lagi sekadar merekam. Kami mengimplementasikan model pembelajaran mendalam (deep learning) pengenalan objek (Object Detection) langsung ke dalam sistem CCTV. Algoritma Kecerdasan Buatan ini dilatih secara khusus untuk mendeteksi pelanggaran tata ruang, seperti kendaraan yang terparkir di area larangan secara presisi. Tidak hanya itu, kami juga menyematkan algoritma analisis kerumunan (Crowd Analytics) yang secara matematis mampu menghitung densitas atau kepadatan massa. Jika terjadi penumpukan massa secara abnormal di satu titik sempit, sistem visual ini akan langsung mendeteksinya.
2. Sensor IoT (Acoustic Sensor Node) sebagai “Telinga” Lingkungan Melihat saja tidak cukup, sistem juga harus bisa mendengar. Kami merancang perangkat keras berupa Acoustic Sensor Node fisik berbasis mikrokontroler (IoT) yang responsif terhadap variabel ambien kebisingan luar ruangan (outdoor). Node IoT ini nantinya diletakkan di tiang-tiang fasilitas publik di sepanjang jalan Lengkong Kecil. Menggunakan modul mikrofon khusus, sensor ini mengekstrak lonjakan desibel bising ekstrem. Apa artinya lonjakan desibel ini? Di tengah kebisingan normal jalan raya, lonjakan ekstrem biasanya mengindikasikan adanya teriakan akibat konflik fisik, keributan massa, atau polusi suara kendaraan bermotor yang memekakkan telinga.
Bagaimana Pusat Kendali Web Dashboard Bekerja?
Data analisis visual dari AI-CCTV dan data frekuensi audio dari sensor IoT tersebut dikirimkan secara simultan (bersamaan) menuju pangkalan data berbasis jaringan komputasi awan (cloud network). Di sinilah letak keunggulan operasional (otak) dari sistem kami.
Kami membangun sebuah platform aplikasi pusat kendali berupa Web Dashboard interaktif. Dashboard ini secara otomatis akan mengkomparasikan kedua parameter—visual dan audio—tersebut. Logikanya begini: Apabila model AI mendeteksi adanya kerumunan abnormal secara visual, dan bertepatan dengan itu terjadi lonjakan desibel suara konflik dari sensor IoT, maka sistem akan memvalidasi status bahaya tersebut secara instan.
Validasi ganda ini memastikan bahwa alarm yang dikirim benar-benar akurat. Dalam hitungan detik, sistem mengirimkan notifikasi peringatan dini beserta visualisasi data spasial (koordinat lokasi pelanggaran) langsung ke layar operator keamanan daerah. Dengan demikian, petugas tidak perlu lagi keliling menebak-nebak di mana titik kemacetan atau keributan terjadi.
Harapan, Tujuan, dan Luaran Riset
Pengembangan riset komputasi tata kota (Urban Computing) ini tidak main-main. Sebagai luaran dari program PKM ini, tim menargetkan terciptanya laporan kemajuan riset teknis, laporan akhir fungsionalitas alat, dan yang paling utama: Prototipe Sistem Pengawasan berupa purwarupa fungsional terintegrasi end-to-end yang terhubung langsung secara real-time ke platform Web Dashboard monitoring daerah Lengkong Kecil.
Manfaat dari implementasi produk ini diharapkan dapat dirasakan oleh tiga pilar utama:
- Bagi Otoritas Wilayah (Satpol PP/Pemerintah Daerah): Sistem ini akan meningkatkan efisiensi strategi patroli melalui pemanfaatan data riil di lapangan (data-driven policing). Waktu respon penindakan pelanggaran akan jauh lebih cepat sebelum masalah meluas.
- Bagi Masyarakat dan Pelaku Usaha: Hadirnya pemantauan otomatis ini akan membantu menciptakan ekosistem wisata kuliner malam yang tertib, aman, minim kemacetan, dan kondusif bagi kenyamanan warga lokal maupun pendatang yang ingin berwisata.
- Bagi Perkembangan Ilmu Pengetahuan: Prototipe ini akan menjadi referensi saintifik yang sangat berharga mengenai implementasi Embedded AI dan telemetri IoT dalam memecahkan masalah tata ruang kota di Indonesia.
Tantangan Mahasiswa dalam Mewujudkan Smart City
Tentu saja, perjalanan menyusun dan merancang proposal PKM-Karsa Cipta ini memberikan banyak pelajaran berharga bagi kami. Menggabungkan dua domain teknologi yang cukup rumit—yaitu Computer Vision dan elektronika IoT—membutuhkan diskusi panjang, studi literatur yang mendalam, dan eksperimen algoritma yang tidak kenal lelah. Namun, semangat Digital Entrepreneurship dan inovasi yang ditanamkan di UNIKOM mendorong kami untuk terus mencari solusi atas permasalahan nyata yang ada di sekitar kita.
Kami percaya bahwa ketertiban sebuah kota bukanlah tanggung jawab tunggal aparat penegak hukum. Ketertiban adalah buah karya kolaborasi antara kesadaran masyarakatnya, tata kelola pemerintah yang baik, dan tentunya, pemanfaatan inovasi teknologi yang tepat guna. Semoga langkah kecil melalui purwarupa AI-CCTV dan IoT ini bisa menjadi batu loncatan bagi Kota Bandung untuk benar-benar mengimplementasikan konsep Smart City yang ramah bagi seluruh warganya.
Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca gagasan kami. Mari terus berinovasi dan salam mahasiswa!
DAFTAR PUSTAKA
[1] A. Bochkovskiy, C.-Y. Wang, and H.-Y. M. Liao, “YOLOv4: Optimal Speed and Accuracy of Object Detection,” arXiv preprint arXiv:2004.10934, Apr. 2020.
[2] L. Luo, H. Qin, X. Song, M. Wang, H. Qiu, and Z. Zhou, “Wireless Acoustic Sensor Networks for Urban Noise Environmental Monitoring and Event Classification,” IEEE Internet of Things Journal, vol. 7, no. 8, pp. 6211-6225, Apr. 2020.
[3] N. Senel, G. Elger, K. Kefferpütz, and K. Doycheva, “Multi-Sensor Data Fusion for Real-Time Multi-Object Tracking,” Processes, vol. 11, no. 2, p. 501, Feb. 2023.