Tomicha: Berawal dari Secangkir Matcha, Bertumbuh Menjadi Sebuah Harapan

6–9 minutes

“Siapa sangka, segelas matcha yang hampir setiap minggu saya beli justru menjadi awal lahirnya sebuah usaha.”

Sebagai pecinta matcha, hampir setiap kali berkunjung ke kafe dan saya selalu memesan menu tersebut. Namun, semakin sering mencobanya, saya justru merasa ada sesuatu yang kurang. Beberapa minuman memiliki rasa susu yang terlalu dominan sehingga karakter matchanya kurang terasa. Ada pula yang sudah memiliki cita rasa yang baik, tetapi harganya cukup tinggi sehingga tidak selalu ramah di kantong pelajar dan mahasiswa.

Dari pengalaman sederhana itu muncul sebuah pertanyaan dalam benak saya, “Bagaimana jika saya membuat matcha dengan rasa yang benar-benar saya inginkan, tetapi tetap bisa dinikmati oleh semua kalangan?”

Pertanyaan tersebut menjadi awal dari lahirnya Tomicha. Bagi saya, Tomicha bukan hanya sebuah usaha minuman, tetapi sebuah perjalanan panjang yang dipenuhi proses belajar, keberanian mengambil risiko, menerima kritik, hingga terus melakukan inovasi untuk menghadirkan produk terbaik.


Berawal dari Ide yang Pernah Gagal

Keinginan untuk membangun sebuah usaha sebenarnya sudah muncul sejak tahun sebelumnya. Saat itu saya sempat memiliki rencana membuat sebuah brand minuman kopi. Saya mulai memikirkan konsep usaha, membuat beberapa ide logo, bahkan sempat melakukan voting desain. Namun, di tengah proses tersebut saya merasa konsep yang saya bangun belum benar-benar sesuai dengan keinginan saya. Akhirnya, rencana tersebut berhenti begitu saja.

Awalnya saya merasa kecewa. Akan tetapi, dari pengalaman tersebut saya belajar bahwa membangun usaha tidak bisa dipaksakan. Sebuah bisnis membutuhkan produk yang benar-benar diyakini oleh pemiliknya.

Memasuki akhir Januari hingga awal Februari, saya kembali mendapatkan ide. Kali ini saya tidak lagi memilih kopi, melainkan matcha, minuman yang memang saya sukai sejak lama. Inspirasi tersebut juga datang dari seorang teman yang gemar meracik minuman matcha. Dari sana saya mulai berpikir, mengapa tidak mencoba membuat brand matcha dengan cita rasa premium tetapi tetap memiliki harga yang terjangkau?


Membangun Tomicha dari Nol

Setelah menemukan konsep usaha, saya mulai mencari berbagai informasi mengenai jenis matcha powder yang memiliki kualitas baik. Saya bertanya kepada beberapa penjual, membaca berbagai ulasan, hingga membandingkan karakter rasa dari beberapa produk sebelum akhirnya menentukan bahan baku yang paling sesuai.

Saya juga mulai memikirkan identitas usaha.

Nama Tomicha berasal dari bahasa Jepang, yaitu “Tomi” yang berarti kejayaan atau kemakmuran, sedangkan “Cha”berarti teh. Nama tersebut saya pilih sebagai doa agar usaha ini dapat terus berkembang, memberikan manfaat bagi banyak orang, sekaligus menjadi sumber keberkahan.

Dalam proses membangun identitas merek, saya menyadari bahwa saya tidak harus mengerjakan semuanya sendiri. Saya bekerja sama dengan seorang teman yang memiliki kemampuan di bidang desain grafis. Setelah saya menjelaskan konsep yang diinginkan, ia berhasil membuat logo yang sesuai dengan karakter Tomicha. Pengalaman tersebut mengajarkan saya bahwa kolaborasi merupakan salah satu kunci penting dalam membangun usaha.

Tidak berhenti sampai di situ, saya juga mulai mencari kemasan yang sederhana, lucu, mudah dibawa ke mana saja, tetapi tetap terlihat menarik ketika dipasarkan.


Belajar Menjadi Matcharista

Bagian yang paling menantang justru dimulai ketika saya harus meracik minuman.

Sebagai seseorang yang belum pernah menjadi matcharista, saya benar-benar memulai semuanya dari nol. Selama bulan Februari, hampir setiap hari saya melakukan trial and error. Saya mencoba berbagai takaran matcha, susu, dan bahan pendukung lainnya.

Pada percobaan awal, rasa susu masih jauh lebih dominan dibandingkan rasa matchanya. Hal tersebut membuat saya belum puas dengan hasil yang diperoleh. Saya terus mencoba mengubah komposisi sedikit demi sedikit hingga menemukan keseimbangan rasa yang tepat.

Selain itu, saya juga harus menentukan harga jual yang sesuai. Saya ingin Tomicha menjadi minuman berkualitas yang tetap dapat dinikmati oleh pelajar dan mahasiswa tanpa harus mengeluarkan biaya yang terlalu besar.

Menjelang akhir Februari, saya akhirnya menemukan resep yang menurut saya sudah cukup baik. Saat itulah saya mulai memiliki keberanian untuk membuka pre-order pertama.


Momen yang Tidak Akan Saya Lupakan

Saya masih mengingat bagaimana perasaan saya ketika pertama kali mengunggah poster pre-order Tomicha di media sosial. Rasanya campur aduk antara senang, gugup, dan takut. Berkali-kali saya membuka Instagram dan WhatsApp hanya untuk melihat apakah sudah ada pesanan yang masuk.

Di dalam hati saya terus bertanya, “Apakah ada yang akan membeli? Apakah mereka akan menyukai rasa matcha yang saya buat?”

Ketika pesanan pertama akhirnya masuk, saya merasa sangat bersyukur. Meskipun jumlahnya belum banyak, momen tersebut menjadi bukti bahwa ada orang yang percaya dan bersedia mencoba produk yang saya buat.

Sejak saat itu saya semakin yakin untuk terus mengembangkan Tomicha.


Bertumbuh Bersama Masukan Pelanggan

Perjalanan Tomicha tidak berhenti setelah produk mulai terjual.

Setelah membuka beberapa kali pre-order, saya menerima banyak sekali kritik dan saran dari pelanggan. Salah satu masukan yang paling saya ingat muncul setelah pre-order ketiga pada bulan Maret. Saat itu ada pelanggan yang menyarankan agar tekstur matcha dibuat lebih creamy.

Masukan tersebut tidak saya anggap sebagai kritik yang menjatuhkan. Justru saya kembali melakukan berbagai percobaan resep.

Saya kembali mengubah takaran bahan, mencoba berbagai komposisi baru, hingga akhirnya menemukan formula yang jauh lebih baik dibandingkan sebelumnya.

Jika dibandingkan dengan Tomicha pada bulan-bulan awal, saya sendiri merasakan perubahan rasa yang sangat drastis. Hal yang paling membuat saya bahagia adalah ketika pelanggan mengatakan bahwa rasa Tomicha sekarang jauh lebih enak dibandingkan sebelumnya. Bahkan beberapa pelanggan mulai melakukan repeat order. Bagi saya, pembelian pertama mungkin muncul karena rasa penasaran, tetapi repeat order menjadi tanda bahwa mereka benar-benar menyukai produk saya.


Strategi Pemasaran dan Perkembangan Usaha

Dalam memperkenalkan Tomicha kepada masyarakat, saya memanfaatkan berbagai media sosial seperti InstagramTikTok, dan WhatsApp. Selain itu, saya juga telah membuat akun YouTube yang nantinya akan digunakan sebagai media promosi tambahan.

Sistem penjualan yang saya gunakan adalah pre-order (PO) sehingga setiap minuman dibuat setelah pesanan diterima. Dengan cara ini kualitas produk tetap terjaga karena minuman selalu dibuat dalam kondisi segar.

Sejak mulai berjualan pada Maret 2026 hingga awal Juli 2026, Tomicha telah berhasil menjual sekitar 135 botol. Selain melayani pembelian individu, Tomicha juga dipercaya untuk memenuhi pesanan pada acara pernikahankegiatan himpunan mahasiswa, hingga pesanan dari perkantoran.

Bagi saya, pencapaian tersebut merupakan langkah awal yang sangat berarti karena seluruh prosesnya dimulai dari nol.


Nilai Kewirausahaan yang Saya Pelajari

Menjalankan Tomicha membuat saya memahami bahwa membangun usaha tidak selalu berjalan mulus. Ada kalanya penjualan tidak sesuai harapan, ada bahan baku yang terbuang, atau hasil yang diperoleh belum sesuai ekspektasi.

Namun, saya percaya bahwa setiap usaha pasti memiliki risiko. Saya memilih untuk tetap berani mencoba dan tidak takut mengalami kerugian. Di balik setiap kegagalan selalu ada pembelajaran yang membuat saya berkembang menjadi lebih baik.

Saya juga belajar bahwa kritik bukanlah sesuatu yang harus dihindari. Justru melalui kritik dan saran dari pelanggan, Tomicha dapat berkembang hingga memiliki cita rasa yang jauh lebih baik dibandingkan saat pertama kali diluncurkan.

Dampak dan Harapan untuk Tomicha

Perjalanan membangun Tomicha tidak hanya memberikan pengalaman dalam menjalankan usaha, tetapi juga membentuk cara pandang saya terhadap dunia kewirausahaan. Saya belajar bahwa membangun sebuah bisnis tidak harus dimulai dengan modal yang besar atau pengalaman yang sempurna. Yang terpenting adalah keberanian untuk memulai, kemauan untuk terus belajar, dan kesediaan menerima setiap masukan sebagai bahan evaluasi.

Melalui Tomicha, saya juga belajar pentingnya membangun hubungan dengan pelanggan. Setiap komentar, kritik, maupun saran yang diberikan bukan saya anggap sebagai penilaian negatif, melainkan sebagai kesempatan untuk memperbaiki kualitas produk. Berkat masukan tersebut, saya berhasil menemukan cita rasa yang lebih baik dan lebih sesuai dengan selera pelanggan.

Selain itu, saya menyadari bahwa sebuah usaha tidak hanya berorientasi pada keuntungan. Kepuasan pelanggan ketika menikmati produk yang saya buat memberikan kebahagiaan tersendiri dan menjadi motivasi bagi saya untuk terus berkembang. Melihat pelanggan kembali melakukan repeat order atau merekomendasikan Tomicha kepada orang lain menjadi salah satu pencapaian yang sangat berarti bagi saya.

Ke depannya, saya berharap Tomicha dapat terus tumbuh menjadi brand lokal yang dikenal tidak hanya karena kualitas produknya, tetapi juga karena komitmennya dalam memberikan pengalaman terbaik bagi pelanggan. Saya ingin terus berinovasi, memperluas jangkauan pemasaran, dan menghadirkan lebih banyak varian menu yang dapat dinikmati oleh berbagai kalangan.


Penutup

Perjalanan Tomicha mengajarkan saya bahwa membangun sebuah usaha bukan hanya tentang menghasilkan keuntungan, tetapi juga tentang keberanian untuk memulai, konsistensi dalam belajar, serta kemauan untuk terus berkembang.

Saat ini Tomicha telah memiliki empat varian menu, yaitu Mat-Cha dengan harga Rp18.000Choco-Cha seharga Rp21.000Berry-Cha seharga Rp21.000, dan Kohi-Cha seharga Rp21.000. Dari seluruh varian tersebut, Mat-Cha dan Choco-Cha menjadi menu yang paling diminati sekaligus menjadi best seller pilihan pelanggan.

Ke depannya, saya berharap Tomicha dapat terus menghadirkan inovasi menu baru yang sesuai dengan selera masyarakat tanpa meninggalkan kualitas rasa yang telah menjadi ciri khasnya. Saya juga berencana memperluas jangkauan pemasaran dengan membuka stand di kegiatan Car Free Day, mengikuti berbagai bazar, serta menjadi tenant pada berbagai acara.

Bagi saya, Tomicha bukan sekadar sebuah usaha minuman. Tomicha adalah bukti bahwa sebuah ide sederhana dapat berkembang menjadi sesuatu yang lebih besar ketika dibangun dengan keberanian untuk memulai, kemauan untuk terus belajar, serta kesediaan menerima setiap kritik dan masukan. Saya percaya bahwa perjalanan Tomicha masih sangat panjang. Semoga langkah kecil yang saya mulai hari ini dapat membawa Tomicha menjadi brand lokal yang terus berkembang, memberikan manfaat bagi banyak orang, dan tetap menjadi pilihan bagi para pecinta matcha.