
Di era perkembangan teknologi yang pesat dan arus informasi yang cepat, bahasa Inggris bukan lagi menjadi primadona namun kewajiban bagi kita untuk meguasainya guna tetap survive dan tidak tersingkirkan oleh arus teknologi yang selalu berevolusi. Belajar bahasa inggris bukan hanya soal menghafal kosakata atau tata bahasa tetapi bagaimana bahasa itu digunakan. Mempunyai kemampuan berbahasa Inggris dapat memberi kita banyak manfaat yaitu; membuka perspektif baru kita karena kita dapat lebih mudah mengakses informasi dunia luar dengan lebih cepat, membuka peluang jejaring dengan orang asing, mengeksplor budaya asing, mengenalkan produk bisnis secara internasional, bertemu kekasih asing, mengakses ilmu pengetahuan dan banyak pintu kesempatan yang dapat kita raih dengan berbahasa Inggris. Sayangnya, menurut data EF EPI indeks kecakapan bahasa Inggris, Indonesia di mata global tergolong dalam kategori rendah, Indonesia mendapat skor sebanyak 471 poin menempati peringkat ke-80 dari 123 negara dan hasil studi PISA tahun 2022 yang dilakukan pada anak usia 15 tahun, data menunjukkan bahwa kemampuan literasi membaca pelajar Indonesia masih tertinggal belakang yang menempati Indonesia pada peringkat ke-6 dari 8 negara di Asia Tenggara. Berdasarkan dua laporan tersebut, hal ini menjadi concern bagi Tim SIRAGA untuk membantu menumbuhkan minat berbahasa Inggris lewat literasi dengan metode storytelling. Program ini didesain sebagai ruang bermain bagi anak usia dini, karena belajar bahasa asing bukan tentang tata bahasa yang sempurna, melainkan tentang melihat dunia lebih luas dan menikmati prosesnya dengan cara yang menyenangkan.
Dikutip dari Aspire Early Education, tujuan storytelling adalah salah satu pengajaran tertua di dunia untuk berkomunikasi dan mengajar. Storytelling bukan sekedar membaca kata-kata di atas kertas, melainkan alat yang sangat ampuh untuk menyampaikan pesan dengan cara yang berkesan dan menggugah perasaan. Dalam pendidikan anak usia dini, storytelling memiliki peran penting dalam menumbuhkan kreativitas, mengasah kemampuan berbahasa, dan membangun kecerdasan emosional anak. Lewat cerita, anak-anak diperkenalkan pada kosakata baru, cara pandang yang berbeda, serta nilai-nilai kehidupan yang berharga. Walaupun storytelling bersifat menghibur namun ia jugab bisa bersifat mendidik. Cerita bisa menghibur sekaligus mengajarkan pengetahuan dengan cara yang lebih dekat dan mudah dipahami. Cerita juga bisa berdasarkan peristiwa faktual atau hasil imajinasi. Media yang digunakan juga beragam; tulisan,lisan,visual,audio, atau pertunjukan sepertk buku,film,podcast,fotografi,teater, dan banyak lagi.
Mengapa kami memilih pendekatan storytelling? Anak-anak secara alami menyukai cerita dan dongeng. Melalui cerita bergambar, gerakan, dan suara-suara lucu, kosakata bahasa Inggris diserap dengan cara yang menyenangkan dan anak tidak merasa terbebani. Dilansir dari BBC, cerita membentuk persepsi anak tentang dunia dan eye-opening situasi terhadap dunianya, ketika mereka membaca terutama fiksi membantu anak menyelesaikan masalah di kehidupan nyata. Membaca fiksi menumbuhkan empati dan mempunyai kemampuan memahami perbedaan pemikiran dan perilaku. Dikutip dari NeuroLeadership institute, Ketika kita menyimak sebuah cerita baik melalui pendengaran maupun penglihatan, aktivitas saraf di otak kita ternyata selaras dengan pola saraf pembicaerrea. Fenomena ini disebut “neutral copling” atau “mirroring” (pencerminan). Ia mengutip dari penelitian Greg. J. Stephens, Lauren J. Silbert, dan Uri Hasson yang mana tealh banyak dirujuk, proses ini terjadi di berbagai area otak secara bersamaan, seperti korteks motorik, korteks sensorik, dan korteks frontal. Keselarasan ini memungkinkan terbentuknya pemahaman bersama tentang situasi yang diceritakan. Selain itu, jaringan saraf ini semakin kuat ketika kita merasakan antisipasi terhadap akhir cerita, perasaam penasaran yang memicu pelepasan dopamin, semacam “candu alami” otak yang membuat kita terus ingin mendengar lebih banyak. Nah, karena itulah ketika kita mengalami peristiwa penuh emosi atau mendengar cerita yang menyentuh perasaan, otak kita melepaskan dopamin lebih banyak dari biasanya. Akibatnya, memori terhadap peristiwa atau cerita itu jadi lebih kuat dan membekas lebih lama yang mana itu membuat kita mengingat dengan lebih jelas dan detail.
Maka dari itu perkenalkan Tim SIRAGA yaitu singkatan dari simak, reka, dan peraga. Program yang berfokus pada peningkatan minat literasi dan pemahaman bahasa Inggris anak usia dini melalui metode penceritaan kembali secara visual. Program kami sejalan dengan poin keempat Asta Cita Prabowo-Gibran yang menyatakan “Memperkuat pembangunan sumber daya manusia (SDM), sains, teknologi, pendidikan, kesehatan, prestasi olahraga, kesetaraan gender, serta penguatan peran perempuan, pemuda, dan penyandang disabilitas.” dengan diusungnya program ini Tim SIRAGA diharapkan dapat memperkuat pembangunan sumber daya manusia dan menyerbarkan ilmu pengetahuan yaitu bahasa Inggris lewat storytelling. Perbedaan program Tim SIRAGA dengan metode pada biasanya ialah terletak pada pendekatan interaktif dengan metode mengajak anak untuk menyimak, memperagakan dan menceritakan kembali isi cerita melalui bantuan media visual seperti video dari Youtube, penggunaan aplikasi powerpoint yang dilengkapi animasi dan gamifikasi untuk pre-test dan post-test, serta perekaan ulang pemahaman anak mengenai video yang ditonton. Hal ini kami rancang agar anak mudah ter-enganged dan dapat berinteraksi dua arah. Selain itu progam Tim SIRAGA mempunyai manfaat bagi orang tua yaitu menjadi solusi untuk membantu anak dalam menyajikan konten edukatif berbahasa Inggris dengan biaya minim dan membimbing anak-anak untuk melatih kemampuan kognitif serta meningkatkan kepercayaan diri dalam berbahasa inggris.
Masyarakat Mitra yang Tim SIRAGA pilih berasal dari daerah LebakGede, Coblong, Bandung karena berdasarkan dengan interview santai oleh Tim kepada beberapa warga guna memahami permasalahan dan menggali informasi, banyak anak di sekitar daerah LebakGede cenderung menggunakan gawai hanya untuk menonton video-video pendek dari aplikasi Youtube dan Tiktok. Hal ini menjadi perhatian karena bebasnya penggunaan gawai tanpa pengawasan orang dewasa dapat membawa efek negatif seperti penurunan attention span pada anak. Wilayah LebakGede memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi wilayah yang dapat menjadi influence yang baik bagi daerah lainnya karena areanya yang strategis, dimana dekat dengan berbagai fasilitas pendidikan dan pusat keramain dia Kota Bandung. Pemilihan mitra ini adalah usaha kami untuk membantu mewujudkan Indonesia Emas 2045 dengan pendekatan cerdas, kreatif, inovatif. Tim SIRAGA berencana untuk kolaborasi antara penggunaan gawai sebagai alat yang dapat membantu anak dalam belajar bahasa Inggris. Berdasarkan permasalahan ini lahirlah Tim kami untuk membantu masyarakat terkhususnya anak usia dini mencapai generasi emas yang dapat berkompetisi di kancah internasional dan dapat meningkatnya minat literasi sejak usia dini.
Pelaksanaan program SIRAGA ini kami rancang khusus untuk membantu meningkatkan daya literasi anak usia dini. Upaya ini dilakukan di daerah LebagGede secara luring. Rangkaian kegiatan yang akan dilaksanakan dimulai dengan pembuataan akun sosial media guna mendokumentasikan kegiatan, lalu pengajuan sosialisasi kepada masyarakat serempat melalui rt/rw, dan proses pelatihan anak dengan tiga tahap yaitu; Tahap Pre-Test dimana anak akan diajak berinteraksi dan mengerjakan quiz dengan PowerPoint interaktif, kemudian Tahap Simak yang mana anak akan diminta untuk menyimak video storytelling menggunakan layar proyeksi dengan pengulangan sebanyak tiga kali, lalu anak akan pindah ke Tahap Peraga, anak diminta untuk memperagakan hasil dari sesi simak dan reka untuk menajamkan rasa kepercayaan diri anak dan melatih perkembangan motorik sang anak. Terakhir, Tahap Post-test dimana tahap ini anak-anak akan diuji untuk melihat seberapa efektif program dari Tim SIRAGA.
Berdasarkan rangkaian kegiatan storytelling yang kami susun untuk anak usia dini secara konkret baik dalam mengembangkan metode pembelajaran yang menyenangkan hingga berorientasi pada tumbuh kembang anak baik secara kognisi maupun lainnya. Seluruh rancangan kegiatan pun berpusat child-centered yang memperhatikan perkembangan kognitif, bahasa, sosial-emosional, serta motorik pada anak. Tema-tema yang diangkat pun dipilih secara cermat agar relevan dengan keseharian anak, nilai-nilai positif, dan kisah yang menginspirasi bagi anak.
Mengakhiri pembahasan panjang terkait program implementasi program Tim SIRAGA untuk anak usia dini, kita dihadapkan pada sebuah pertanyaan kecil, “Apa pesan yang ingin kita sampaikan?” karena dengan dapat menjawab pertanyaan ini kita tau bahwa bercerita atayu storytelling bukan sekedar alur cerita dan kata-kata tapi terdapat makna di dalamnya. Sejak dahulu kala nenek moyang kita sudah menggunakan itu untuk menghubungkan generasi, menyebarkan nilai-nilai luhur dari masa lalu ke masa depan, dan membentuk pondasi kesadaran kultural seorang anak sejak usia dini. Di tengah arus modernisasi yang pragmatis, kita kerap lupa bahwa tidak hanya anak usia dini yang membutuhkan cerita namun kita juga perlu amunisi kognisi yang terasah, terawat dan disinilah cerita memiliki peran penting untuk membantu kita. Bercerita atau storytelling bukan hanya tentang meluangkan waktu, melainkan medium untuk ber’asa’, belajar, dan mengasihi dan membantuk makna. Melalui dongeng, anak dapat belajar bahwa dunia tidak selalu hitam atau putih saja, namun dunia ini memiliki banyak warna di setiap peristiwa, bahwa kegagalan bagian dari perjalanan hidup mahaiswa, sekecil apapun kebaikan yang kita buat.
Mari kita sadari bahwa mendongeng adalah bentuk warisan nenek moyang dan bentuk cinta memaknai hidup lebih dalam. Makna tentang hidup yang tak harus sesuai dengan ekspektasi, perbuatan yang seharusnya dihindari, dan terinspirasi menjadi pribadi yang lebih baik. Setiap kali kita membuka buku cerita, tanamkan kepada diri kita bahwa cerita yang kita baca ialah refleksi daripada kehidupan manusia dan wariskanlah kepada generasi selanjutnya terutama anak usia dini sehingga mereka tumbuh dalam memori terdalam mereka dan jauh lebih tahan lama dari gadget yang mereka pakai, tercanggih sekalipun. Maka, Tim SIRAGA ingin membantu untuk menuruskan warisan itu dan menggabungkannya dengan bahasa internasional yaitu bahasa asing yang dapat digunakannya saat tumbuh nanti agar kerap anak-anak dapat belajar memaknai hidup sekaligus membantu perkembangan kemampuan bahasa inggris mereka sehingga mereka dapat bersaing di ranah internasional. Kami harap dengan adanya program ini juga melalui proses yang kecil dapat membuahkan hasil yang besar, karena setiap cerita yang disampaikan adalah benih yang satu hari akan tumbuh menjadi pohon karakter yang besar, imajinasi yang luas, dan rasa kemanusiaan yang mendalam.