Peran Branding dan Media Sosial dalam Membangun Bisnis Minuman Kekinian di Kalangan Mahasiswa

7–11 minutes

Pendahuluan

Bisa kita perhatikan sekeliling area kampus atau kos-kosan. Hampir pasti ada satu-dua booth kecil, akun Instagram, atau story WhatsApp teman yang menawarkan es kopi susu gula aren, thai tea, atau boba dengan kemasan warna-warni yang “instagramable”. Fenomena ini bukan kebetulan. Bisnis minuman kekinian memang jadi salah satu pilihan wirausaha paling digemari mahasiswa karena modalnya relatif kecil, prosesnya sederhana, dan pasarnya jelas: teman sendiri, teman sekelas, hingga warga sekitar kampus.

Namun di balik kesederhanaan itu, persaingan justru sangat ketat. Rasa yang enak saja sudah tidak cukup untuk membuat sebuah brand minuman bertahan. Yang membedakan usaha yang “ramai sebentar lalu hilang” dengan usaha yang bertumbuh adalah strategi branding dan pemanfaatan media sosial yang tepat. Artikel ini akan membahas bagaimana keduanya bekerja sama, ditambah peran micro-influencer dan platform delivery online, dalam membesarkan bisnis minuman kekinian ala mahasiswa.

Branding: Nyawa bagi UMKM, Bukan Sekadar Logo

Banyak mahasiswa yang baru mulai berjualan mengira branding hanya soal membuat logo yang bagus atau nama yang lucu. Padahal branding jauh lebih luas dari itu. Branding adalah keseluruhan cara sebuah usaha “dikenali” dan “dirasakan” oleh konsumennya mulai dari nama, warna, gaya bahasa di media sosial, kualitas rasa, hingga pengalaman saat pelanggan membuka kemasan.

Bagi UMKM, termasuk usaha rintisan mahasiswa, branding yang konsisten berperan penting dalam meningkatkan daya saing dan membedakan produk dari kompetitor yang menjual jenis minuman serupa. Riset mengenai UMKM di sektor kuliner menunjukkan bahwa branding yang kuat, dipadukan dengan inovasi digital, dapat mendorong daya saing usaha kecil di tengah pasar yang makin kompetitif (Laurina et al., 2024). Tanpa branding yang jelas, sebuah usaha minuman akan sulit diingat konsumen mungkin suka rasanya, tapi lupa nama brand-nya, dan akhirnya tidak repeat order.

Persoalannya, tidak sedikit pelaku UMKM termasuk mahasiswa yang sudah aktif berjualan di media sosial namun belum mendapat hasil optimal karena kontennya terlalu fokus “jualan keras” tanpa membangun kedekatan dengan audiens (UNIKOM, 2026). Branding yang baik justru dibangun secara bertahap lewat konsistensi visual, pesan, dan interaksi dengan pelanggan, bukan lewat promosi sesekali yang sifatnya musiman.

Konsep Produk Unik: Kunci agar Diingat Konsumen

Di tengah lautan usaha es kopi susu dan boba yang seragam, produk dengan konsep unik punya peluang jauh lebih besar untuk melekat di ingatan konsumen. Keunikan itu bisa datang dari berbagai sisi: kombinasi rasa yang tidak biasa, cara penyajian yang khas, kemasan yang berbeda, atau bahkan cerita di balik produk tersebut.

Sebagai contoh, sebuah usaha minuman fungsional rintisan mahasiswa memilih memadukan bahan-bahan yang jarang digunakan kompetitor, seperti campuran probiotik dan biji selasih, sekaligus menonjolkan nilai kesehatan sebagai pembeda dari minuman manis pada umumnya (UNIKOM, 2025a). Strategi semacam ini penting karena pasar minuman kekinian sangat kompetitif; keunikan konsep produk menjadi salah satu senjata utama agar usaha tidak sekadar “ikut tren” tetapi punya identitas sendiri yang mudah dikenali.

Konsep unik juga mempermudah proses branding di tahap berikutnya. Produk yang punya “cerita” atau ciri khas akan lebih mudah diterjemahkan menjadi konten menarik di media sosial dibanding produk yang generik. Konsumen, khususnya generasi muda, cenderung membeli bukan hanya karena rasa, tetapi juga karena merasa produk tersebut punya kepribadian yang sesuai dengan gaya hidup mereka.

Media Sosial: TikTok dan Instagram sebagai Etalase Digital

Jika dulu etalase toko berfungsi memamerkan produk kepada orang yang lewat, kini TikTok dan Instagram menjalankan fungsi serupa secara digital bedanya, jangkauannya jauh lebih luas dan tidak terbatas jam operasional. Kedua platform ini memungkinkan UMKM menampilkan produk secara visual dan interaktif, mulai dari proses pembuatan minuman, testimoni pelanggan, hingga konten di balik layar usaha (UNIKOM, 2026).

TikTok unggul dalam menyajikan konten video pendek yang mengikuti tren musik dan gaya editing yang sedang viral, sehingga cocok untuk menampilkan proses “meracik” minuman secara dramatis dan menarik perhatian. Sementara itu, Instagram lebih efektif untuk membangun identitas visual yang konsisten lewat feed yang rapi, highlight story berisi menu dan testimoni, serta interaksi rutin lewat kolom komentar dan direct message.

Riset mengenai strategi pemasaran UMKM kuliner berbasis Instagram menemukan bahwa platform ini efektif digunakan tidak hanya sebagai media promosi, tetapi juga sebagai sarana branding dan interaksi langsung dengan pelanggan, terutama karena konsumen kini terbiasa mencari informasi produk, harga, hingga referensi visual sebelum memutuskan membeli (Widjaja et al., 2026). Hal ini menegaskan bahwa media sosial bukan lagi pelengkap, melainkan kanal utama pemasaran bagi usaha kecil, termasuk bisnis minuman kekinian mahasiswa yang umumnya memiliki anggaran promosi terbatas.

Yang perlu diingat, kunci keberhasilan bukan sekadar rajin posting, melainkan konsistensi konten dan kemampuan membangun kedekatan emosional dengan audiens bukan melulu konten hard selling.

Micro-Influencer: Membangun Kepercayaan Lebih Cepat

Selain mengelola akun sendiri, banyak usaha minuman kekinian mahasiswa memanfaatkan jasa micro-influencer, yaitu kreator konten dengan jumlah pengikut relatif kecil hingga menengah (biasanya belasan ribu hingga seratus ribuan) namun memiliki tingkat interaksi (engagement) yang tinggi dengan audiensnya. Micro-influencer sering dianggap lebih “dekat” dan personal dibanding selebriti besar, sehingga rekomendasi mereka terasa lebih jujur dan dapat dipercaya oleh pengikutnya.

Sebuah studi pendampingan terhadap UMKM kuliner menunjukkan bahwa kolaborasi dengan influencer lokal, dipadukan dengan perencanaan konten yang terstruktur, mampu mendongkrak jangkauan akun media sosial secara signifikan sekaligus meningkatkan kunjungan pelanggan ke gerai (Miswanto et al., 2025). Dalam kasus tersebut, jangkauan akun bahkan meningkat drastis meski jumlah followers-nya bertambah relatif kecil menandakan bahwa engagement dan kepercayaan yang dibangun jauh lebih berpengaruh dibanding sekadar jumlah pengikut.

Bagi mahasiswa yang baru merintis bisnis minuman, bekerja sama dengan micro-influencer di lingkup kampus atau komunitas tertentu misalnya akun kuliner lokal, sesama mahasiswa dengan follower aktif, atau komunitas hobi tertentu bisa jadi strategi yang lebih realistis dan hemat biaya dibanding menyewa influencer besar, sambil tetap efektif membangun kepercayaan calon pelanggan baru.

Platform Delivery: GoFood dan ShopeeFood Memperluas Pasar

Setelah brand dikenal lewat media sosial, tantangan berikutnya adalah memastikan produk mudah diakses. Di sinilah platform pesan-antar makanan seperti GoFood dan ShopeeFood berperan penting. Kedua platform ini memungkinkan usaha minuman kekinian menjangkau konsumen yang lebih luas tidak terbatas pada mereka yang kebetulan lewat di depan booth atau mengetahui lokasi jualan secara langsung.

Bagi mahasiswa, kehadiran di platform delivery juga membantu mengatasi keterbatasan operasional. Usaha bisa tetap berjalan meski pemiliknya sedang kuliah, karena sistem pemesanan dan pengantaran dikelola oleh mitra kurir platform. Selain itu, fitur pencarian dan rekomendasi di dalam aplikasi turut membantu produk ditemukan oleh calon pembeli baru yang sebelumnya belum pernah mendengar brand tersebut sama sekali sebuah bentuk perluasan pasar yang sulit dicapai hanya lewat promosi mulut ke mulut atau media sosial saja.

Kombinasi branding yang kuat di media sosial dan kemudahan akses lewat platform delivery inilah yang membuat siklus pemasaran menjadi lengkap: media sosial menumbuhkan awareness dan kepercayaan, sementara GoFood dan ShopeeFood mengonversi ketertarikan tersebut menjadi transaksi nyata.

Studi Kasus: Seliter, Usaha Olahan Buah Rintisan Mahasiswa UNIKOM

Salah satu contoh penerapan strategi di atas dapat dilihat pada Seliter, sebuah usaha rintisan yang bergerak di bidang olahan buah segar. Nama “Seliter” sendiri diambil dari satuan volume “satu liter”, merepresentasikan porsi besar kemasan yang ditawarkan sebuah pendekatan branding sederhana namun mudah diingat karena langsung menggambarkan nilai jual produknya: segar, mengenyangkan, dan cocok dinikmati bersama.

Seliter memasarkan produknya melalui media sosial sekaligus terdaftar di platform delivery online seperti GoFood, sehingga konsumen di luar area kampus pun tetap bisa memesan tanpa harus datang langsung ke lokasi. Pendekatan ini sejalan dengan pola yang banyak diterapkan usaha minuman kekinian mahasiswa lain, di mana branding nama yang unik, kemasan menarik, dan kehadiran di platform digital saling melengkapi untuk memperluas jangkauan pasar (UNIKOM, 2025a; UNIKOM, 2026).

Perlu digarisbawahi, Seliter di sini dijadikan contoh penerapan konsep, bukan fokus utama pembahasan. Yang lebih penting untuk dicermati adalah pola strategi yang bisa ditiru: nama brand yang mudah diingat, konsistensi promosi di media sosial, dan pemanfaatan platform delivery untuk menjangkau pasar yang lebih luas.

Pelajaran bagi Mahasiswa yang Ingin Merintis Usaha Serupa

Dari pembahasan di atas, ada beberapa pelajaran praktis yang bisa diambil mahasiswa yang tertarik merintis bisnis minuman kekinian:

  1. Bangun branding sejak awal, sekecil apa pun usahanya. Nama, warna, dan gaya komunikasi yang konsisten akan membantu produk lebih mudah diingat dibanding sekadar mengandalkan rasa.
  2. Cari keunikan konsep produk, baik dari rasa, bahan, maupun cara penyajian, agar tidak tenggelam di tengah banyaknya kompetitor yang menjual produk serupa.
  3. Manfaatkan TikTok dan Instagram secara konsisten, bukan hanya untuk berjualan, tetapi juga membangun kedekatan dengan audiens lewat konten yang autentik.
  4. Jajaki kolaborasi dengan micro-influencer di skala kampus atau komunitas untuk membangun kepercayaan calon pelanggan baru secara lebih personal dan hemat biaya.
  5. Daftarkan usaha ke platform delivery seperti GoFood atau ShopeeFood begitu bisnis mulai stabil, untuk memperluas jangkauan pasar tanpa harus menambah beban operasional secara signifikan.

Kelima hal ini sejalan dengan riset mengenai kebiasaan konsumsi minuman kekinian di kalangan mahasiswa, yang menunjukkan tingginya minat generasi muda terhadap produk minuman yang menarik secara visual dan mudah diakses (Veronica & Ilmi, 2020) dua aspek yang sangat bergantung pada strategi branding dan pemasaran digital yang tepat.

Penutup

Bisnis minuman kekinian memang terlihat sederhana untuk dimulai, tetapi untuk bertahan dan berkembang, dibutuhkan lebih dari sekadar resep yang enak. Branding yang konsisten, konsep produk yang unik, kehadiran aktif di TikTok dan Instagram, kolaborasi dengan micro-influencer, serta pemanfaatan platform delivery seperti GoFood dan ShopeeFood adalah satu paket strategi yang saling melengkapi.

Bagi mahasiswa, merintis usaha semacam ini bukan hanya soal mencari penghasilan tambahan, tetapi juga ruang belajar nyata mengenai pemasaran, komunikasi merek, dan pengelolaan bisnis di era digital pengalaman yang tidak selalu bisa didapatkan hanya dari bangku kuliah.

Referensi

Laurina, N. A., Swastuti, E., Nurchayati, N., & Yunita, L. E. (2024). Meningkatkan daya saing UMKM melalui branding dan inovasi digital. Dedikasi Sains dan Teknologi (DST), 4(1), 7–15. https://doi.org/10.47709/dst.v4i1.3636

Miswanto, E. A., Maushal, N. F., Samiaji, D. R., & Prasetyo, J. H. (2025). Pendampingan UMKM Samja Eat and Drink untuk meningkatkan brand awareness melalui optimalisasi Instagram dalam Program Kreativitas Mahasiswa. Jurnal Abdimas: Sosial, Bisnis, dan Lingkungan, 3(1), 11–20. https://doi.org/10.46806/abdimas.v3i1.1578

Universitas Komputer Indonesia. (2025a, Agustus 11). Aruseria: Inovasi minuman fungsional mahasiswa dalam Program P2MW. UNIKOM. https://web.unikom.ac.id/aruseria-inovasi-minuman-fungsional-mahasiswa-dalam-program-p2mw/

Universitas Komputer Indonesia. (2026, Januari 10). Membangun brand UMKM di era digital: Peran media sosial dalam Program INBISKOM. UNIKOM. https://web.unikom.ac.id/membangun-brand-umkm-di-era-digital-peran-media-sosial-dalam-program-inbiskom/

Veronica, M., & Ilmi, I. M. B. (2020). Minuman kekinian di kalangan mahasiswa Depok dan Jakarta. Indonesian Journal of Health Development, 2(2), 83–91. https://doi.org/10.52021/ijhd.v2i2.48

Widjaja, E., Rhapsody, K. N. A., Josiaho, D., Erryanto, K. V. P., & Setiawan, B. (2026). Jurnal strategi pemasaran berbasis media sosial Instagram untuk pengembangan UMKM Nasi Uduk Mama Dari. Jurnal Ekonomi, Manajemen, Bisnis dan Akuntansi Review, 6(1), 1–13. https://doi.org/10.53697/emba.v6i1.4170