Waktu mendengar kata “SEO”, kebanyakan orang langsung membayangkan website, blog, dan Google. Wajar kalau UMKM yang belum punya website — termasuk Dangiang Essentials, merek perawatan tubuh lokal asal Bandung yang kami kembangkan — merasa strategi ini bukan untuk mereka. Padahal, prinsip dasar SEO sebenarnya bukan soal platform, melainkan soal satu hal: membuat produk lebih mudah ditemukan orang yang memang sedang mencarinya.
Dangiang Essentials berfokus pada produk kecantikan alami dan organik, dengan dua lini produk andalan: rangkaian body wash seperti varian Sekar Moisna dan Asih Lembutna yang diformulasikan dengan Niacinamide untuk mencerahkan dan melembapkan kulit, body lotion dengan kandungan 10% Niacinamide, serta loofah organik (spons oyong) untuk mengangkat sel kulit mati dan melancarkan sirkulasi darah, tersedia dalam berbagai ukuran. Kombinasi bahan tradisional Sunda seperti oyong dengan bahan aktif modern seperti Niacinamide inilah yang menjadi pembeda Dangiang Essentials dari brand skincare lain di marketplace.
Dan ternyata, “mesin pencari” itu sekarang ada di mana-mana — bukan cuma Google. Kolom pencarian di Shopee dan Tokopedia adalah mesin pencari. Kolom pencarian di TikTok dan Instagram, yang sekarang makin sering dipakai Gen Z untuk mencari rekomendasi produk, juga mesin pencari. Artinya, sebuah UMKM yang belum punya website sekalipun tetap bisa menerapkan logika SEO dan content marketing — hanya lapangan bermainnya yang berbeda.
Artikel ini membahas bagaimana pelajaran itu diterapkan pada Dangiang Essentials, dan strategi apa saja yang bisa diadaptasi UMKM skincare lain yang berjualan lewat marketplace dan media sosial.
Kenapa Skincare Adalah Kategori yang Sangat Bergantung pada “Pencarian”
Produk skincare punya karakter unik dibanding kategori UMKM lain: pembeli jarang membeli karena impulsif semata. Sebelum membeli, mereka biasanya mencari tahu dulu — apakah produk ini cocok untuk jenis kulitnya, apa kandungannya, dan bagaimana review orang lain. Perilaku ini membuat kategori skincare sangat bergantung pada apa yang muncul saat seseorang mengetik sesuatu di kolom pencarian, baik di marketplace maupun di media sosial.
Ini sejalan dengan realitas UMKM Indonesia secara umum: dari lebih dari 64 juta UMKM di Indonesia, baru sekitar 24% yang telah terdigitalisasi secara optimal. Banyak brand skincare kecil sudah punya akun Instagram dan toko di marketplace, tapi belum benar-benar mengoptimalkan bagaimana produknya ditemukan di dalam platform tersebut. Di titik itulah gap-nya — dan di titik itu pula peluangnya.
Yang menarik, media sosial memang makin serius diperhitungkan sebagai “mesin pencari” alternatif, bukan cuma Google. Pada 2022, Prabhakar Raghavan — Senior Vice President Google yang membawahi divisi Knowledge & Information — mengungkap data internal perusahaan yang menunjukkan sekitar 40% pengguna muda AS (usia 18-24 tahun) tidak lagi membuka Google Search atau Maps untuk kebutuhan sehari-hari seperti mencari tempat makan, melainkan langsung ke TikTok atau Instagram. Tren ini terus menguat: survei Adobe Express awal 2026 terhadap konsumen dan pelaku usaha kecil di Amerika Serikat mencatat hampir separuh responden (49%) kini menggunakan TikTok sebagai mesin pencari, naik dari 41% dua tahun sebelumnya. Meski data-data ini berbasis pasar AS, pola serupa juga makin terasa di Indonesia — fenomena “TikTok made me buy it” dan kebiasaan mengetik keluhan kulit langsung di kolom pencarian TikTok/Instagram menunjukkan arah yang sejalan, khususnya untuk kategori yang sangat bergantung pada riset sebelum membeli seperti skincare. Bagi brand seperti Dangiang Essentials, ini artinya optimasi pencarian bukan cuma soal marketplace, tapi juga soal bagaimana caption dan isi video di TikTok/Instagram bisa “ditemukan” saat calon pembeli mengetik keluhan kulit mereka di kolom pencarian platform tersebut.
SEO Tanpa Website: Menyesuaikan Prinsip Lama ke Platform Baru
SEO klasik biasanya dijelaskan lewat tiga lapisan: on-page (isi halaman itu sendiri), off-page (reputasi dari luar), dan lokal (relevansi berdasarkan lokasi). Ketiga prinsip ini sebenarnya bisa “diterjemahkan” ke ekosistem marketplace dan media sosial:
- “On-page” versi marketplace = judul produk, bullet point deskripsi, dan foto/video produk yang memuat kata kunci yang benar-benar dicari calon pembeli.
- “Off-page” versi marketplace = ulasan, rating, dan jumlah produk terjual — semua ini memengaruhi seberapa tinggi produk muncul di hasil pencarian internal platform.
- “Lokal” versi media sosial = penggunaan kata kunci dan hashtag yang relevan dengan masalah spesifik audiens (jenis kulit, keluhan, lokasi), bukan sekadar hashtag umum yang ramai tapi tidak spesifik.
Sementara content marketing tetap berperan sama seperti pada strategi SEO berbasis website: menyediakan informasi yang benar-benar dibutuhkan calon pembeli, bukan sekadar promosi. Bedanya, medium penyampaiannya berupa caption, video pendek, dan carousel — bukan artikel blog panjang.
Strategi yang Kami Terapkan di Dangiang Essentials
1. Judul dan deskripsi produk disusun berdasarkan masalah, bukan hanya nama varian.
Nama seperti “Sekar Moisna” atau “Asih Lembutna” memang punya nilai lokal dan estetika yang kuat, tapi jika berdiri sendiri sebagai judul produk, calon pembeli yang belum kenal brand-nya tidak akan pernah menemukannya lewat pencarian — karena mereka mencari berdasarkan masalah atau kandungan, bukan nama produk yang belum mereka kenal. Judul yang lebih mudah ditemukan biasanya menggabungkan nama varian dengan kata kunci fungsional yang memang dicari orang, misalnya “Body Wash Niacinamide Pencerah Kulit — Sekar Moisna” atau “Body Lotion 10% Niacinamide untuk Kulit Kusam & Kering”. Kandungan aktif seperti Niacinamide justru jadi kata kunci yang sangat sering dicari, karena sudah dikenal luas manfaatnya untuk mencerahkan kulit — jauh lebih sering dicari dibanding nama brand yang belum familiar.
1b. Loofah organik butuh pendekatan kata kunci yang berbeda dari body wash/lotion.
Produk loofah (spons oyong) menyasar niat pencarian yang berbeda dari body wash — orang yang mencari loofah biasanya sudah tahu fungsinya (mengangkat sel kulit mati, melancarkan sirkulasi), tapi sering belum familiar dengan istilah “loofah” atau “oyong” itu sendiri. Di sinilah pentingnya menyertakan kedua istilah sekaligus dalam judul dan deskripsi — versi internasional (“loofah”) maupun versi lokal (“spons oyong”) — supaya produk tetap muncul di pencarian dari kedua kelompok calon pembeli, yang mencari dengan istilah berbeda untuk kebutuhan yang sama.
2. Riset kata kunci sederhana lewat fitur bawaan platform.
Tidak perlu tools mahal — autocomplete di kolom pencarian Shopee/Tokopedia dan halaman “Discover” TikTok sudah menunjukkan apa yang paling sering dicari orang terkait skincare. Ini jadi acuan gratis untuk menyesuaikan judul produk maupun ide konten.
3. Konten edukatif seputar masalah kulit, bukan cuma “New Arrival”.
Daripada konten yang isinya melulu promosi produk baru, konten yang menjelaskan penyebab masalah kulit tertentu dan cara mengatasinya — dengan produk Dangiang Essentials dimunculkan secara natural sebagai bagian dari solusi — terbukti lebih relevan dengan yang sedang dicari audiens, sekaligus membangun kepercayaan lebih dulu sebelum mengajak membeli.
4. Mendorong ulasan bergambar dan testimoni sebagai bukti sosial.
Karena rating dan jumlah ulasan ikut memengaruhi posisi produk di hasil pencarian marketplace, mendorong pembeli memberikan ulasan foto — lalu me-repost testimoni terbaik ke Instagram — menjadi bagian penting dari strategi, bukan sekadar pelengkap.
5. Konsisten membangun “arsip konten” yang bisa dipakai berulang.
Satu konten edukatif yang sudah terbukti relevan tidak berhenti sekali tayang. Konten yang sama bisa dipakai ulang dalam format berbeda — dijadikan highlight Instagram, dipotong jadi beberapa reels pendek, atau dijadikan template balasan untuk pertanyaan pelanggan yang sering muncul di DM maupun WhatsApp.
Kenapa Strategi Ini Sering Terlewat, Bahkan oleh Brand yang Sudah Jualan
Banyak brand skincare kecil, termasuk yang sudah berada di tahap penjualan aktif seperti Dangiang Essentials, cenderung fokus pada dua hal saja: membuat konten yang estetik dan menjaga stok produk. Optimasi pencarian sering dianggap “nanti saja” karena hasilnya tidak langsung terlihat seperti angka penjualan dari live shopping atau flash sale.
Padahal justru di situ nilainya. Konten dan listing produk yang sudah dioptimasi dengan kata kunci yang tepat akan terus muncul di hasil pencarian tanpa perlu terus-menerus dipromosikan ulang — berbeda dengan konten viral yang jangkauannya menurun drastis begitu tren berganti. Bagi brand skincare yang bersaing dengan ratusan penjual serupa di marketplace, keunggulan seperti ini justru menjadi pembeda jangka panjang yang sulit ditiru kompetitor yang hanya mengandalkan diskon dan iklan.
Mengukur Apakah Strategi Ini Bekerja
Tanpa website, memang tidak ada Google Analytics yang bisa dipantau. Tapi marketplace dan media sosial sebenarnya sudah menyediakan data yang cukup untuk mengevaluasi:
- Impression dan klik di dashboard penjual marketplace — menunjukkan apakah judul dan foto produk cukup menarik perhatian saat muncul di hasil pencarian.
- Conversion rate per produk — dari sekian banyak yang melihat, berapa yang benar-benar membeli. Ini menunjukkan apakah deskripsi produk sudah cukup meyakinkan.
- Insight Instagram/TikTok — konten mana yang paling banyak di-save atau di-share, biasanya menandakan konten itu dianggap benar-benar bermanfaat, bukan sekadar dilihat sekilas.
- Sumber trafik ke marketplace — apakah pembeli datang dari pencarian organik di dalam aplikasi marketplace, atau dari tautan yang dibagikan lewat media sosial. Ini membantu memahami kanal mana yang paling efektif untuk terus dikembangkan.
Evaluasi ini tidak perlu dilakukan setiap hari. Cukup ditinjau secara berkala untuk melihat listing produk atau konten mana yang perlu diperbarui, dan format seperti apa yang paling sering membawa calon pembeli baru.
Tantangan yang Kami Hadapi di Lapangan
Menerapkan strategi ini tidak selalu mulus. Ada beberapa kendala yang cukup umum dialami brand skincare kecil, termasuk Dangiang Essentials:
Algoritma marketplace dan media sosial terus berubah. Kata kunci yang efektif bulan ini belum tentu sama efektifnya bulan depan, karena platform terus menyesuaikan cara kerja pencarian dan rekomendasinya. Solusinya bukan mencari “formula sekali jadi”, melainkan membiasakan diri meninjau ulang performa listing dan konten secara berkala, lalu menyesuaikan kata kunci sesuai tren pencarian terbaru.
Kompetisi kata kunci umum sangat padat. Kata kunci populer seperti “serum wajah” atau “skincare glowing” sudah diperebutkan ribuan penjual, sehingga produk baru sulit bersaing langsung di kata kunci seumum itu. Di sinilah pentingnya kata kunci yang lebih spesifik dan panjang (long-tail keyword) — misalnya menargetkan keluhan kulit yang lebih niche — karena persaingannya lebih longgar sekaligus lebih relevan dengan calon pembeli yang memang serius mencari solusi tersebut, bukan sekadar melihat-lihat. Untuk Dangiang Essentials, kombinasi kata kunci seperti “body wash Niacinamide” jauh lebih realistis untuk bersaing dibanding kata kunci umum “sabun mandi”, sementara “loofah organik” atau “spons oyong alami” punya kompetisi yang jauh lebih longgar dibanding kata kunci skincare arus utama — sekaligus jadi kategori yang lebih jarang digarap serius oleh kompetitor lain di marketplace.
Waktu dan tenaga untuk konsisten membuat konten edukatif. Sebagai tim kecil, memproduksi konten yang benar-benar informatif — bukan sekadar template promosi — membutuhkan waktu riset yang tidak sedikit. Strategi yang membantu adalah membuat satu “bank pertanyaan” dari DM dan chat pelanggan yang paling sering masuk, lalu menjadikannya sumber ide konten yang otomatis relevan karena benar-benar berasal dari kebutuhan nyata calon pembeli.
Mengukur dampak jangka panjang lebih sulit dibanding kampanye berbayar. Iklan berbayar punya angka yang langsung terlihat dalam hitungan hari, sementara efek dari optimasi listing dan konten edukatif baru terasa setelah beberapa bulan berjalan konsisten. Tantangannya lebih ke soal kesabaran dan konsistensi mencatat data dari waktu ke waktu, bukan soal rumit tidaknya prosesnya.
Kendala-kendala ini sebenarnya wajar dialami hampir semua UMKM yang baru mulai serius menggarap sisi “pencarian” dari bisnisnya. Yang membedakan brand yang berhasil dan yang tidak biasanya bukan soal seberapa sempurna strateginya di awal, melainkan seberapa konsisten mereka mau meninjau ulang dan memperbaiki apa yang sudah berjalan.
Bagi UMKM Skincare Lain yang Ingin Memulai
Pengalaman menjalankan Dangiang Essentials menunjukkan bahwa langkah awal yang paling realistis bukan langsung membuat website atau blog, melainkan memaksimalkan dulu apa yang sudah dipakai sehari-hari:
- Audit ulang judul dan deskripsi produk yang sudah ada di marketplace — apakah sudah memuat kata kunci yang benar-benar dicari, atau masih terlalu umum.
- Kumpulkan pertanyaan yang paling sering ditanyakan pelanggan lewat DM/chat, lalu jadikan itu sebagai daftar ide konten edukatif untuk beberapa minggu ke depan.
- Bangun kebiasaan meminta ulasan bergambar setiap kali ada transaksi selesai, karena ulasan ini punya efek ganda: memengaruhi calon pembeli baru sekaligus memengaruhi posisi produk di pencarian marketplace.
- Baru pertimbangkan membangun landing page atau website sederhana ketika basis pelanggan sudah cukup besar dan butuh satu tempat terpusat untuk katalog serta konten edukatif yang lebih lengkap.
Urutan ini penting karena membangun kebiasaan mengoptimasi apa yang sudah ada biasanya jauh lebih realistis untuk tim kecil, dibanding langsung mengejar seluruh strategi SEO sekaligus sejak awal.
Perbedaan Mendasar dengan Sekadar “Rajin Posting”
Satu hal yang sering disalahpahami: rajin posting konten tidak sama dengan menerapkan content marketing yang berbasis SEO. Rajin posting mengukur keberhasilan dari frekuensi, sementara content marketing yang berorientasi pencarian mengukur keberhasilan dari relevansi — apakah konten yang diunggah menjawab sesuatu yang memang sedang dicari orang.
Akun yang rajin posting tanpa strategi pencarian biasanya hanya dilihat audiens yang sudah mengikuti akun tersebut sejak awal, sehingga jangkauannya sulit tumbuh melampaui basis follower yang ada. Sebaliknya, konten yang disusun berdasarkan kata kunci dan pertanyaan yang benar-benar dicari orang punya peluang lebih besar ditemukan calon pembeli baru yang belum pernah dengar nama brand-nya sama sekali. Bagi Dangiang Essentials, pergeseran cara berpikir ini penting: bukan lagi bertanya “konten apa yang mau diposting hari ini”, melainkan “pertanyaan apa dari calon pembeli yang belum terjawab lewat konten yang sudah ada”.
Penutup: Mulai dari Apa yang Sudah Ada
Pelajaran terbesar dari menjalankan Dangiang Essentials adalah: tidak perlu menunggu punya website untuk mulai berpikir seperti SEO. Marketplace dan media sosial yang sudah dipakai sehari-hari sebenarnya sudah punya “mesin pencari” sendiri — tinggal bagaimana produk dan kontennya disusun agar lebih mudah ditemukan oleh orang yang memang sedang mencarinya.
Bagi teman-teman mahasiswa yang sedang membangun bisnis serupa lewat program INBISKOM, langkah paling sederhana untuk memulai adalah meninjau ulang judul dan deskripsi produk yang sudah ada di marketplace hari ini juga, lalu membandingkannya dengan kata kunci yang benar-benar muncul di kolom pencarian. Perubahan kecil semacam ini sering kali berdampak lebih besar daripada sekadar menambah jumlah posting per hari.
Sendi Dwi Putra. — Mahasiswa Teknik Informatika, Universitas Komputer Indonesia
Referensi
- Dangiang Essentials. (2026). Katalog Produk Resmi. Shopee. https://shopee.co.id/dangiangessentials
- Kementerian Koperasi dan UKM RI. (2023). Data Kontribusi UMKM terhadap PDB Nasional.
- Fortune. (2022). Gen Z isn’t ‘Googling.’ They use Instagram, TikTok as search engines — pernyataan Prabhakar Raghavan (SVP Google) di Fortune’s Brainstorm Tech Conference 2022. https://fortune.com/2024/09/10/gen-z-google-verb-social-media-instagram-tiktok-search-engine/
- Detik.com. (2023). Geser Google, TikTok Jadi Platform Baru bagi Gen Z untuk Mencari Informasi. https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-6607313/geser-google-tiktok-jadi-platform-baru-bagi-gen-z-untuk-mencari-informasi
- Adobe Express. (2026). Using TikTok as a Search Engine. Survei terhadap 807 konsumen dan 200 pemilik usaha kecil di Amerika Serikat, data dikumpulkan Januari 2026. https://www.adobe.com/express/learn/blog/using-tiktok-as-a-search-engine
- Win100. (2026). Strategi SEO untuk UMKM yang Terbukti Menguntungkan. https://win100.id/blog/strategi-seo-untuk-umkm/
- Portal Indonesia. (2025). Strategi Menulis Konten SEO yang Efektif untuk UMKM. https://portal-indonesia.com/strategi-menulis-konten-seo-yang-efektif-untuk-umkm/
- Thrive.co.id. (2025). Tips Optimasi SEO untuk Website UMKM: Studi Kasus Produk Kerajinan Lokal. https://www.thrive.co.id/article/tips-optimasi-seo-untuk-website-umkm-studi-kasus-produk-kerajinan-lokal