Dari Diary ke Digital Product: Peluang Bisnis di Balik Tren Journaling di Kalangan Mahasiswa

5–8 minutes

Kalau dulu buku diary identik dengan sampul bergembok kecil berisi curahan hati anak SMA, sekarang cerita itu jauh berubah. Coba buka Instagram atau TikTok, ketik kata “journaling”, dan lihat sendiri betapa ramainya konten seputar aktivitas menulis jurnal ini. Journaling bukan lagi sekadar tempat curhat, tapi sudah jadi semacam ritual harian yang lekat dengan kesehatan mental, produktivitas, sampai pengembangan diri.

Yang menarik untuk dilihat bukan cuma manfaatnya, tapi juga peluang yang tersimpan di baliknya. Dari kebiasaan menulis jurnal yang kelihatannya personal dan sederhana ini, ternyata muncul juga peluang bisnis yang lumayan serius—mulai dari perlengkapan fisik seperti washi tape dan stiker, sampai produk digital seperti template planner dan e-book. Tulisan ini mencoba mengulik bagaimana journaling bisa berubah jadi ide bisnis, terutama dalam bentuk produk digital, sekaligus memberi gambaran langkah praktis yang bisa dicoba mahasiswa yang tertarik menekuninya.

Journaling, Lebih dari Sekadar Menulis

Sebelum bicara soal peluang bisnisnya, ada baiknya dipahami dulu kenapa journaling bisa sepopuler ini. Dari sisi psikologis, kebiasaan menulis jurnal memang membawa manfaat yang cukup nyata. Sebuah penelitian eksperimental pada mahasiswa menemukan bahwa teknik journaling efektif menurunkan stres akademik dan bisa dipakai sebagai cara sederhana untuk mengelola emosi sendiri. Penelitian lain yang menyasar remaja juga menunjukkan hal serupa: mereka yang rutin menulis jurnal cenderung merasa lebih percaya diri, lebih bahagia, lebih puas dengan hidupnya, dan lebih mudah menghadapi perasaan-perasaan negatif.

Kalau dipikir-pikir, ini masuk akal mengingat tekanan yang dihadapi anak muda sekarang. Tuntutan akademik, media sosial yang bikin gampang insecure, ditambah kekhawatiran soal masa depan, membuat banyak orang mencari cara yang murah tapi efektif untuk mengelola perasaannya. Journaling pas untuk kebutuhan itu karena nyaris tidak butuh biaya—cukup alat tulis dan niat untuk konsisten.

Journaling zaman sekarang juga sudah jauh berkembang dari sekadar tulisan tangan biasa. Muncul istilah creative journaling, yaitu praktik menulis jurnal yang dipadukan dengan elemen visual seperti menggambar, hand lettering, kolase, sampai dekorasi pakai washi tape atau stiker lucu. Dari sinilah, pelan-pelan, pasar baru mulai terbentuk.

Ketika Hobi Berubah Jadi Peluang

Ada contoh menarik dari seorang mahasiswi Teknik Mesin di Semarang yang mulai berjualan perlengkapan creative journaling sejak 2017. Awalnya sederhana saja: ia rutin menyisihkan uang bulanan untuk membeli perlengkapan journaling kesukaannya, sampai akhirnya kepikiran untuk membalik arah—kenapa tidak menjual barang serupa dan menghasilkan uang dari situ? Hasilnya lumayan mengejutkan. Dalam sebulan, penjualannya bisa tembus sekitar 200 buah dengan omzet kurang lebih Rp4 juta, seiring makin banyak orang yang tertarik dengan hobi creative journaling.

Cerita semacam ini sebenarnya cukup umum ditemukan di dunia usaha kecil: bisnis yang paling nyambung dengan pasarnya sering kali lahir dari kebutuhan pribadi si pendirinya sendiri. Orang yang sudah lama menekuni journaling biasanya paham betul apa yang dicari sesama pelaku journaling lain—jenis kertas yang enak dipakai, template yang praktis, sampai gaya visual yang lagi disukai komunitas. Pemahaman semacam ini yang justru susah didapat kalau seseorang terjun ke bisnis tanpa benar-benar mengenal produknya dari dalam.

Bergeser ke Ranah Digital

Kalau dulu bisnis journaling identik dengan barang fisik, sekarang arahnya mulai bergeser ke produk digital. Salah satu pendorongnya adalah percepatan transformasi digital yang membuka banyak celah inovasi, baik dari sisi pemasaran maupun penciptaan produk baru. Pertumbuhan pengguna internet di Indonesia yang cukup pesat juga didominasi kelompok usia muda, sekitar 10 sampai 34 tahun—yang notabene adalah segmen utama penggemar journaling itu sendiri.

Beberapa bentuk produk digital yang bisa lahir dari kebiasaan journaling, di antaranya:

  • Digital planner dan printable — template jurnal atau planner dalam format PDF yang bisa dicetak sendiri, atau dipakai langsung di tablet lewat aplikasi seperti GoodNotes. Biaya produksinya kecil karena tidak ada bahan fisik yang perlu dicetak ulang, tapi bisa dijual berkali-kali tanpa batas stok.
  • Template Notion atau aplikasi produktivitas — bagi yang punya sedikit kemampuan desain, template Notion untuk journaling, pelacak mood harian, atau perencana studi cukup diminati, mengingat Notion sudah jadi aplikasi favorit banyak mahasiswa untuk mengatur tugas sehari-hari.
  • E-book atau panduan journaling tematik — misalnya panduan gratitude journaling untuk pemula, jurnal refleksi untuk menghadapi masa ujian, atau jurnal keuangan sederhana untuk belajar mengelola uang saku.
  • Komunitas atau kelas berbayar — bisa berupa kelas daring singkat tentang cara memulai journaling, atau komunitas berlangganan yang rutin membagikan template baru tiap bulan.

Model bisnis seperti ini sejalan dengan tren startup digital di Indonesia, yang umumnya didirikan oleh individu atau kelompok kecil dengan produk utama berupa produk digital yang dijual ke masyarakat luas. Modalnya jauh lebih ringan dibanding usaha fisik, jadi cukup masuk akal buat mahasiswa yang biasanya terbatas dari sisi dana tapi tidak kekurangan ide.

Bagaimana Cara Memulainya?

Setelah tahu peluangnya, pertanyaan selanjutnya tentu soal langkah awal. Berikut beberapa hal yang bisa jadi acuan.

  • Mulai dari pengalaman sendiri. Sama seperti kisah pengusaha journaling tadi, titik awal paling wajar adalah kebiasaan journaling pribadi. Coba perhatikan, apa yang sering dibutuhkan tapi susah ditemukan di pasaran? Bisa jadi template journaling khusus untuk jurusan tertentu, atau jurnal refleksi untuk masa-masa ujian yang bikin stres.
  • Lakukan riset pasar sederhana. Amati komunitas journaling di media sosial—Instagram, TikTok, atau Pinterest. Perhatikan konten seperti apa yang paling banyak direspons, produk apa yang sering direkomendasikan, dan keluhan apa yang sering muncul dari para penggemarnya.
  • Bangun branding yang konsisten. Branding bukan cuma soal logo, tapi keseluruhan citra yang melekat pada produk—mulai dari palet warna, gaya visual, sampai cara berkomunikasi di media sosial. Karena produk journaling sangat mengandalkan estetika, konsistensi branding jadi salah satu faktor penentu apakah pembeli mau kembali lagi atau tidak.
  • Manfaatkan digital marketing secukupnya. Karena produknya digital, strategi promosi pun sebaiknya fokus ke kanal digital juga—konten edukatif seputar manfaat journaling, kerja sama dengan micro-influencer di niche self-improvement, atau memanfaatkan marketplace digital yang sudah ada. Strategi seperti SEO, content marketing, dan media sosial masing-masing punya kelebihan sendiri, tinggal disesuaikan dengan tujuan dan target audiensnya.
  • Uji coba dalam skala kecil dulu. Sebelum meluncurkan produk secara besar-besaran, coba jual dengan sistem pre-order untuk mengukur minat pasar sekaligus mendapat masukan langsung dari pembeli pertama.
  • Manfaatkan program pendukung mahasiswa wirausaha yang tersedia. Bagi yang ingin serius mengembangkan ide ini, program seperti P2MW (Program Pengembangan Mahasiswa Wirausaha) bisa jadi jalan pendanaan yang cukup membantu untuk merealisasikan ide bisnis journaling digital menjadi usaha yang lebih terstruktur.

Tantangan yang Perlu Diwaspadai

Tentu saja, peluang ini bukan tanpa hambatan. Persaingan di pasar produk digital journaling cukup ramai, mengingat sudah banyak kreator dari berbagai negara yang lebih dulu terjun ke bidang ini. Belum lagi soal pembajakan atau penyalinan produk digital tanpa izin, yang sampai sekarang masih jadi masalah klasik di industri kreatif digital.

Tantangan lain datang dari sisi keterampilan teknis, misalnya kemampuan desain grafis atau mengelola platform penjualan digital, yang mungkin belum dikuasai semua orang. Untungnya, hal ini relatif bisa diatasi karena sekarang banyak sekali sumber belajar daring yang tersedia gratis atau dengan biaya terjangkau.

Dari kisah nyata pengusaha kecil yang bermula dari hobi pribadi, sampai pergeseran tren ke arah produk digital seperti planner dan e-book, journaling menawarkan jalan yang cukup realistis bagi mahasiswa untuk mulai merintis usaha dengan modal yang tidak terlalu besar. Kuncinya ada pada kemampuan mengubah kebiasaan pribadi menjadi solusi bagi orang lain, dibarengi strategi branding dan pemasaran digital yang tepat sasaran.

Daftar Pustaka

Ambarwati, D., dkk. (2024). Strategi Pemasaran Digital dan Startup Digital di Indonesia. JCBD: Journal of Computers and Digital Business, 3(3), 105-111.

Bisnis.com. (2019). Mengintip Peluang Bisnis Jurnal Kreatif yang Masih Laris. Diakses dari https://entrepreneur.bisnis.com/read/20190525/263/927258/mengintip-peluang-bisnis-jurnal-kreatif-yang-masih-laris

Tim Peneliti Jurnal Psikologi Terapan. (2025). Efektivitas Teknik Journaling terhadap Penurunan Stres Akademik pada Mahasiswa. Jurnal Psikologi Terapan.

Universitas Sebelas Maret. (2024). Edukasi dan Pelatihan Journaling Diri dalam Upaya Peningkatan Kesehatan Mental Remaja. Jurnal Pengabdian UNS.

Kompas.com Lifestyle. (2024). Memahami Diri di Tahun 2024 melalui “Journaling”. Diakses dari https://lifestyle.kompas.com/read/2024/01/12/142900820/memahami-diri-di-tahun-2024-melalui-journaling