“Memangnya Belajar Wirausaha Masih Penting?”
Kalimat itu sempat muncul di kepala saya ketika pertama kali mengetahui bahwa salah satu tugas dalam mata kuliah Kewiraushaan berkaitan dengan Program inbiskom. Sebagai mahasiswa Teknik Informatika, saya lebih seing berurusan dengan kode progrram, database, dan pengembangan aplikasi. Jujur saja, saat itu saya berpkir dunia bisnis mugkin bukan bidang yang akan saya tekuni.
Namun, anggapan tersebut perlahan berubah setelah mengikuti materi dan mulai memperhatikan kondisi di sekitar saya.
Saya jadi sadar bahwa hmpir setiap hari sebenarnya saya melihat contoh dunia usaha. Mulai dari penjual makanan di dekat kampus, kedai kopi kecil, sampai teman yang berjualan melalui media sosial. Menariknya, tidak semua usaha yang prduknya bagus otomatis memiliki banyak pelanggan.
Di situlah saya mulai bertanya-tanya, apa yang sebenarnya membuat sebuah usaha bisa berkembang?
Pelajaran yang Tidak Saya Dapatkan dari Buku
Sebelum mengikuti Program inbiskom, saya mengira keberhasilan bisnis hanya ditentukan oleh modal dan kualitas produk. Logikanya sederhana. Kalau produknya bagus, orang pasti akan membeli.
Nyatanya tidak selalu seperti itu.
Saya pernah melihat dua usaha yang menjual produk hampir sama. Salah satunya terlihat sangat aktif di media sosial. Foto produknya menarik, cara menjawab komentar pelanggan juga ramah, bahkan mereka sering membagikan proses pembuatan prduknya. Sementara usaha yang lain hanya sesekali mengunggah foto dengan kualitas seadanya.
Padahal, kalau dilihat dari prduknya, keduanya tidak jauh berbeda.
Dari situ saya mulai memahami bahwa pelanggan bukan hanya membeli barang. Mereka juga membeli rasa percaya.
Digital Marketing Tidak Semudah yang Ada Di Kepala
Sebelumnya saya kira digital marketing hanya berarti mengupload foto ke Instagram atau membuat video di TikTok. Pas udah memplajari lebih jauh, saya baru memahami bahwa prosesnya jauh lebih panjang.
Pelaku usaha perlu mengenali siapa calon pemblinya, menentukan media promosi yang tepat, menyusun konten yang menarik, hingga mengevaluasi hasil prmosi tersebut. Semua keputusan itu harus dipikrkan dengan matang.
Menurut saya, inilah yang membuat dunia digital menjdi menarik. Kesempatan terbuka untuk siapa saja, tetapi tidak semua orang mampu memanfatkannya dengan baik dan punya konsisten yang luar biasa karena dibidang ini banyak banget pesaingnya.
Branding Bukan Soal Logo yang Bagus
Bagian yang paling mengubah cara pandang saya adalah ketika membahas branding.
Awalnya saya benar benar berpikir branding identik dengan logo atau kemasan prduk. Sekarang saya melihatnya berbeda.
Kalau pelangan merasa nyaman saat membeli, dilayani dengan baik, lalu mendaptkan prduk yang sesuai harapan, pengalaman itu akan mereka ingat. Sebaliknya, pelayanan yang kurang baik bisa membuat org engan kembali, meskipun prduknya sebenarnya berkualitas.
Artinya, branding dibangun dari banyak hal kecil yang dilkukan secara konsisten.
Menurut saya, justru hal hal sederhana seperti itu yang sering menentukan apakah sebuah usaha akan bertahan dalam jangka panjang atau tidak.
AI Mempermudah Segalanya, tapi GAK BAKAL Bisa GANTIIN Manusia
Belakangan ini hampir semua orang membicarakan AI. Awalnya saya tau teknologi ini hanya dipake oleh perusahan besar. Stelah mencoba beberapa tools AI, ternyata pelaku umkm pun bisa memanfaatkannya.
Misal buat mencari ide konten, membuat caption media sosial, atau membantu menyusun konsep promosi.
Menurut saya, AI sanagt sangat membantu, terutama bagi usaha kecil yang memilki keterbatasan waktu dan tenaga.
Namun, saya juga merasa ada satu hla yang tidak bisa digantikan oleh AI, yaitu kreativitas dan hubungan antar manusia. Pelangan tetap ingin dilayani oleh orang yang benar benar memahami kebutuhan mreka, bukan sekadar mendapatkan jawaban otomatis.
Karena itu, saya melihat AI sbg alat bantu, bukan sebagai penganti manusia.
Kenapa Sekarang Orang Lebih Milih Belanja Online?
Kalau dipikir-pikir sekarang hampir semua orang kalau mau beli sesuatu pasti buka HP dulu. Mau beli sepatu, baju, makanan, bahkan kebutuhan sehari-hari juga tinggal scroll marketplace. Jujur aja, saya juga sering begitu. Kadang niatnya cuma lihat-lihat doang, eh ujung-ujungnya checkout.
Menurut saya kebiasaan ini bikin pelaku usaha harus ikut berubah. Kalau masih cuma ngandelin toko offline doang, menurut saya bakal susah buat berkembang. Bukan berarti toko offline udah gak penting, tapi sekarang orang lebih gampang nemuin produk lewat internet daripada jalan muter-muter nyari toko.
Makanya sekarang banyak UMKM yang mulai masuk ke marketplace atau promosi lewat TikTok dan Instagram. Walaupun begitu, ternyata masuk ke media sosial aja belum tentu langsung rame. Kontennya juga harus menarik, pelayanan harus bagus, dan yang paling penting harus konsisten. Nah ini yang menurut saya paling susah. Semangat di awal itu gampang, tapi konsisten upload konten tiap minggu itu beda cerita.
Yang Saya Rasain Setelah Ikut INBISKOM
Sebelum ikut program ini saya mikirnya bisnis ya bisnis aja. Yang penting jualan, ada yang beli, selesai. Ternyata setelah ikut beberapa materi saya baru sadar kalau yang dipelajari jauh lebih luas dari itu.
Saya jadi tau kalau sebuah usaha itu harus punya tujuan yang jelas. Mau jual ke siapa, produknya buat siapa, sampai gimana cara bikin pelanggan percaya. Hal-hal kecil yang dulu saya anggap sepele ternyata justru berpengaruh.
Yang paling bikin saya kepikiran itu soal branding. Dulu saya kira branding cuma logo sama warna. Sekarang saya jadi ngerti kalau cara ngobrol sama pelanggan, cara balas chat, sampai cara ngemas produk juga termasuk branding. Kalau pelanggannya puas, biasanya mereka bakal balik lagi tanpa harus dipaksa.
Menurut saya ilmu kayak gini bukan cuma berguna buat orang yang pengen buka usaha. Buat mahasiswa Teknik Informatika juga kepake. Soalnya sekarang banyak lulusan IT yang akhirnya bikin startup, jadi freelancer, atau buka software house sendiri. Berarti tetap ada hubungannya sama dunia bisnis.
Menurut Saya AI Itu Cuma Alat
Sekarang lagi rame banget orang ngomongin AI. Ada yang takut pekerjaannya diganti AI, ada juga yang manfaatin AI buat bantu kerja sehari-hari. Saya sendiri lebih setuju sama yang kedua.
Saya ngerasa AI itu ngebantu banget kalau dipakai dengan benar. Misalnya lagi bingung bikin caption, nyari ide konten, atau sekadar cari inspirasi desain. Pekerjaan jadi lebih cepet.
Tapi kalau semuanya diserahin ke AI juga menurut saya kurang bagus. Soalnya AI gak tau kondisi usaha kita yang sebenarnya. AI juga gak kenal pelanggan kita. Jadi menurut saya keputusan akhirnya tetap harus dibuat sama manusia.
Karena itu saya nganggep AI lebih cocok dijadiin partner kerja daripada pengganti manusia.
Sebagai Mahasiswa Teknik Informatika, Saya Justru Melihat Peluang
Selama ini saya belajar terkait teknologi. Setelah ikut program inbiskom, saya berpikir bahwa skill tersebut bisa digabung sama dunia usaha. Misal, orang yang bisa membuat website, aplikasi, atau sistem informasi punya peluang untuk membantu umkm grow up lewat solusi digital. Pemahaman pemasaran menjadikan teknologi yang dibuat jadi lebih bermanfaat karena menjawab kebutuhan user.
Saya rasa gabungan dari teknologi dan kewirausahaan akan menjadi skill yang sangat berguna buat nanti lulus..
Kalau Suatu Hari Saya Punya Usaha Sendiri
Kalau suatu hari nanti saya punya usaha sendiri, menurut saya ilmu yang saya dapet dari Program INBISKOM bakal kepake banget. Dulu saya mikir yang penting produknya bagus, nanti juga orang bakal dateng sendiri. Sekarang saya udah gak terlalu yakin sama pemikiran itu.
Saya justru bakal lebih mikirin gimana cara ngenalin produk ke orang lain. Mulai dari bikin nama brand yang gampang diinget, bikin akun media sosial yang aktif, sampai nyoba bikin konten yang gak cuma jualan terus. Soalnya saya sendiri kalau lagi scroll TikTok atau Instagram juga lebih suka lihat konten yang ada ceritanya daripada yang isinya promosi terus.
Selain itu saya juga pengen lebih deket sama pelanggan. Menurut saya pelanggan itu bukan cuma orang yang beli produk kita sekali, tapi orang yang mau balik lagi buat beli kedua kalinya. Kalau mereka puas, biasanya mereka juga bakal cerita ke temennya atau keluarganya. Promosi kayak gitu menurut saya malah lebih ampuh dibanding iklan yang mahal.
Saya sadar membangun usaha itu pasti gak gampang. Bakal ada masa sepi pembeli, konten yang gak masuk FYP, atau produk yang kurang diminati. Tapi justru dari situ kita belajar buat evaluasi. Menurut saya gagal sekali bukan berarti usahanya harus berhenti. Yang penting terus belajar, cari tau apa yang kurang, lalu coba lagi dengan cara yang berbeda.
Mungkin sekarang saya memang belum punya bisnis sendiri. Tapi setidaknya Program INBISKOM bikin saya lebih berani buat mikir kalau suatu saat nanti saya juga bisa punya usaha yang berkembang. Entah itu di bidang teknologi, jasa, atau mungkin usaha lain yang masih berhubungan sama kemampuan yang saya pelajari selama kuliah.
Hal yang Paling Saya Ingat
Kalau ditanya apa pelajaran yang paling saya ingat dari Program inbiskom, jawabannya sederhana.
Produk bagus memang penting.
Tetapi kalau tidak ada yang tau prduk itu, produk tersebut akan sulit grow up.
Sebaliknya, promosi yang menarik juga gak bakal bertahan lama apabila kualitas produknya mengcewakan.
Artinya, kualitas prduk, branding, pelayanan, dan strategi marketing harus berjalan bersama.
Penutup
Sebelum ikut Program inbiskom, saya taunya kewirausahaan hanya sebatas dengan membuka usaha dan mencari cuan. Sekarang saya melihatnya point of view yang berbeda.
Membangun bisnis ternyata membutuhkan proses belajar yang panjang. Pelaku usaha harus memahami konsumennya, mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi, dan terus berinovasi supauya tida tertinggal oleh perubahan zaman alias gaptek.
Bagi saya pribadi, Program inbiskom bukan hanya memenuhi salah satu kegiatan perkuliahan. Prgram ini memberikan gambaran bahwa ilmu yang dipelajari di bangku kuliah ternyata dpt diterapkan untuk menyelesaikan permasalahan nyata di dunia usaha.
Saya memang belum memiliki bisnis sendiri. Namun, atleast sekarang saya memiliki pemahaman baru bahwa peluang usaha bisa datang dari mana saja. Yang terpenting adalah kemauan untuk terus belajarr, mencoba, dan tidak takut menghadapi perubahan.
-Arya Manggala 10123098
-Teknik Informatika