Coba deh inget-inget lagi, terakhir kali beli kopi, lewat mana? Kalau jawabannya lewat aplikasi, GoFood, GrabFood, atau abis liat konten di Instagram/TikTok terus jadi pengen ngopi, berarti kamu udah jadi bagian dari cerita sukses digital marketing salah satu coffee shop lokal andalan anak muda Indonesia : Fore Coffee.
Sebelum masuk ke strategi, ada baiknya kita liat dulu konteksnya. Industri kopi di Indonesia lagi tumbuh subur banget pertumbuhannya diperkirakan mencapai sekitar 8% per tahun, dan nilai pasarnya diproyeksikan tembus lebih dari satu miliar dolar AS. Fenomena “third wave coffee” bikin kopi bukan lagi cuma minuman, tapi jadi bagian dari gaya hidup, mulai dari soal kualitas biji, asal-usulnya, sampai pengalaman pas beli dan minumnya. Ditambah lagi, penetrasi internet di Indonesia udah nyentuh angka hampir 70% dari total populasi. Kombinasi dua hal ini orang makin doyan kopi berkualitas dan makin melek digital jadi lahan subur buat brand kopi lokal yang jago main di ranah online. Nah, di sinilah Fore Coffee ambil panggung.
Buat yang belum tahu, Fore Coffee ini bukan pemain baru. Brand ini berdiri tahun 2018 di Bandung dengan nama resmi PT Fore Kopi Indonesia, terus ekspansi ke Jakarta dan kota-kota lain. Sekarang gerainya udah tersebar di lebih dari 120 toko di 28 kota, bahkan sempat buka cabang di Singapura. Yang menarik, di tengah persaingan coffee shop kekinian yang makin sesak ada Kopi Kenangan, Janji Jiwa, Kopi Soe, dan puluhan brand lain, Fore Coffee tetap bisa masuk jajaran 10 besar coffee shop di Indonesia. Nah, salah satu kunci utamanya ada di strategi digital marketing yang mereka jalankan. Yuk kita bedah satu-satu.
1. “Fore Coffee” Bukan Sekadar Nama Aplikasi
Salah satu langkah paling fundamental yang diambil Fore Coffee adalah bikin aplikasi sendiri. Ini bukan cuma soal gengsi punya app, tapi strategi yang cerdas banget. Lewat aplikasi Fore, pelanggan bisa pesan kopi dari mana aja, kumpulin poin loyalty, dapet voucher, sampai tahu promo dan menu baru duluan. Buat Gen Z dan milenial yang hidupnya udah nempel sama smartphone, kemudahan kayak gini itu nilai jual yang gede banget.
Deputy CEO Fore Coffee, Elisa Suteja, pernah cerita kalau ide ini muncul karena mereka sadar perilaku konsumen udah berubah, orang mau yang serba cepat dan praktis. Nggak semua orang sempat nongkrong di kafe, tapi tetap pengen ngopi enak. Dari situ, Fore Coffee coba jawab kebutuhan itu dengan bikin kopi berkualitas yang bisa dinikmati di mana aja dan kapan aja.
Yang bikin aplikasi ini makin “lengket” di penggunanya adalah fitur personalisasinya. Fore Coffee bisa nyimpen histori pesanan, kasih rekomendasi menu berdasarkan kebiasaan beli, sampai ngirim notifikasi promo yang relevan sama preferensi masing-masing user. Ini penting banget di era sekarang, soalnya konsumen udah nggak cuma pengen ditawarin produk secara random, mereka pengen ngerasa dikenali. Dengan data pelanggan yang terkumpul lewat aplikasi, Fore Coffee jadi punya modal buat bikin strategi yang lebih presisi, bukan cuma tembak-tembak promo ke semua orang tanpa arah.
2. Main di Semua Platform yang Ada Anak Mudanya
Fore Coffee nggak cuma mengandalkan aplikasi sendiri, mereka juga aktif banget di platform pihak ketiga kayak GrabFood, GoFood, sampai Shopee. Strategi “jemput bola” ini penting karena nggak semua orang mau download aplikasi baru cuma buat beli kopi, banyak yang lebih nyaman pesan lewat aplikasi yang udah mereka pakai sehari-hari.
Yang lebih menarik lagi, Fore Coffee juga manfaatin GrabAds, layanan iklan dari Grab, buat naikin visibility brand mereka. Hasilnya? Menurut laporan yang beredar, kampanye mereka lewat GrabAds bahkan sempat mencatatkan ROAS (Return on Ad Spend) sampai 45 kali lipat. Artinya, setiap rupiah yang dikeluarkan buat iklan, balik lagi jadi penjualan yang jauh lebih besar. Bukti nyata kalau strategi digital ads yang tepat sasaran itu powerful banget buat bisnis F&B.
Manajemen Fore Coffee sendiri sempat nyebut kalau layanan kayak GrabAds ini bener-bener ngubah lanskap bisnis mereka. Bukan cuma soal dorong penjualan jangka pendek, tapi juga bantu naikin brand awareness secara keseluruhan, terutama di kalangan Gen Z yang tumbuh besar di tengah ekosistem digital dan udah kebiasa liat iklan yang muncul pas lagi buka aplikasi pesan-antar makanan. Ini nunjukkin kalau Fore Coffee nggak asal pasang iklan di sembarang tempat, mereka pilih kanal yang emang udah “nangkring” duluan di keseharian target marketnya, jadi iklannya kerasa lebih natural dan nggak terlalu mengganggu.
3. Konten Video dan Kolaborasi Influencer yang Nggak Asal Endorse
Kalau kamu scroll Instagram atau TikTok, kemungkinan besar pernah lihat konten Fore Coffee yang interaktif, entah itu behind the scene proses roasting kopi, campaign musiman, atau kolaborasi sama figur-figur yang punya kredibilitas di dunia kopi. Salah satu yang cukup ikonik adalah kolaborasi mereka dengan Mikael Jasin, barista yang diakui secara internasional. Kolaborasi kayak gini bukan sekadar numpang tenar, tapi strategi buat membangun trust, biar konsumen makin percaya kalau Fore Coffee ini serius soal kualitas, bukan cuma jualan gaya-gayaan.
Riset dari jurnal akademik yang mengulas strategi digital marketing Fore Coffee juga nyebutin kalau konten video jadi media komunikasi utama mereka buat narik perhatian Gen Z dan milenial. Ini masuk akal, soalnya dua generasi ini emang lebih suka konten yang ringkas, visual, dan langsung nyantol di scroll pertama.
4. Kampanye yang Punya Cerita, Bukan Cuma Diskon
Fore Coffee juga jago bikin campaign yang punya “nyawa”. Contohnya kampanye Tani Series, yang ngangkat cerita soal keberlanjutan dan keterlibatan petani kopi lokal. Lewat kampanye ini, Fore Coffee nggak cuma jualan minuman, tapi juga membangun citra sebagai brand yang peduli sama rantai pasok kopi dari hulu ke hilir.
Ada juga kampanye “Cita Rasa Budaya Kopi Baru” yang dirilis bertepatan sama momen Hari Kemerdekaan, buat memperkenalkan racikan biji kopi Nusantara ke audiens yang lebih luas. Terus ada juga campaign yang lebih “ngena” di hati kayak Fore Coffee Berbagi dan Fore Coffee 50 Ribu, yang berhasil narik perhatian publik karena kesan personal dan approachable-nya.
Kalau diperhatiin, pola yang dipakai Fore Coffee ini konsisten: bikin campaign yang punya nilai atau cerita di baliknya, bukan cuma banting harga. Strategi ini bikin brand mereka lebih nempel di ingatan konsumen dibanding sekadar promo diskon biasa.
5. Nggak Lupa Sisi “Hijau”-nya
Satu hal yang cukup jarang dibahas tapi menarik: Fore Coffee juga menerapkan green marketing dalam strategi mereka. Mulai dari kemasan yang bisa didaur ulang, penggunaan paper bag ketimbang plastik, sedotan berbahan kertas, sampai penyediaan tempat sampah khusus buat kemasan bekas mereka. Dari sisi bahan baku, mereka juga klaim ambil biji kopi langsung dari perkebunan organik.
Ini relevan banget kalau ngomongin target market mereka, anak muda urban yang makin sadar isu lingkungan. Jadi selain digital marketing yang gencar, Fore Coffee juga pintar nyelipin isu sustainability sebagai bagian dari branding mereka secara keseluruhan.
6. Inovasi Produk yang Jalan Bareng Strategi Digital
Satu hal yang sering luput dibahas: strategi digital marketing itu bakal percuma kalau produknya sendiri nggak jalan. Fore Coffee cukup rajin ngeluarin varian menu baru yang disesuaikan sama selera pasar, mulai dari varian cheese, gula aren, sampai menu signature dan pilihan non-kopi buat yang nggak minum kafein. Konsumen juga dikasih kebebasan milih jenis biji kopi sesuai selera masing-masing.
Kenapa ini penting dibahas di artikel soal digital marketing? Karena inovasi produk kayak gini justru jadi “amunisi” buat konten digital mereka. Setiap ada menu baru, otomatis ada bahan campaign baru buat di-posting, di-review sama food influencer, atau dijadiin konten short video. Jadi digital marketing dan pengembangan produk itu saling menghidupi nggak bisa jalan sendiri-sendiri. Brand yang cuma jago bikin konten tapi produknya stagnan lama-lama bakal kehabisan bahan cerita, begitu juga sebaliknya.
Jadi, Apa yang Bisa Kita Pelajari?
Dari studi kasus Fore Coffee, ada beberapa poin penting yang relevan buat siapa aja yang lagi belajar atau merintis bisnis, termasuk kita yang lagi ikut program kewirausahaan kayak sekarang:
Pertama, digital marketing itu bukan cuma soal “punya akun Instagram terus posting rutin”. Fore Coffee nunjukkin kalau kombinasi dari kemudahan transaksi (aplikasi), jangkauan luas (platform pihak ketiga), konten yang relevan (video dan kolaborasi kredibel), sampai campaign yang bercerita, itu semua harus jalan bareng biar hasilnya maksimal.
Kedua, konsistensi itu penting. Fore Coffee nggak berhenti di satu strategi doang, mereka terus adaptasi dari yang awalnya fokus di aplikasi dan media sosial, sekarang mulai ngelirik konten short video di Reels, TikTok, sampai YouTube Shorts karena tahu itu yang lagi disukai audiens muda.
Ketiga, brand yang kuat itu dibangun dari cerita, bukan cuma diskon. Orang inget Fore Coffee bukan cuma karena “kopi murah”, tapi karena mereka punya positioning yang jelas: kopi berkualitas dengan pengalaman modern dan sentuhan cerita lokal.
Tentu, bukan berarti Fore Coffee tanpa tantangan. Beberapa pengamat menilai Fore Coffee berisiko terjebak jadi “brand kopi kekinian yang generik” kalau nggak hati-hati menjaga diferensiasi, apalagi kompetitor kayak Kopi Kenangan udah punya identitas kuat lewat rasa gula arennya, atau Janji Jiwa yang identik dengan harga terjangkau. Ini jadi pengingat juga buat kita : sekuat apapun strategi digital marketing, kalau nggak dibarengi diferensiasi produk yang jelas, brand bisa gampang tenggelam di tengah keramaian.
Buat kita yang lagi belajar bisnis dan pemasaran digital, studi kasus Fore Coffee ini bisa jadi bahan renungan yang cukup relevan. Nggak harus langsung bikin aplikasi sendiri kayak mereka, tapi prinsip dasarnya kenali kebiasaan target market, manfaatkan platform yang udah ada trafiknya, bikin konten yang related, dan jangan lupa kasih “alasan” ke konsumen buat peduli sama brand kita itu semua bisa mulai diterapkan sekecil apapun skala bisnis kita.
Referensi:
Permana, E., & Haliza, N. (2025). Analisis Strategi Digital Marketing Fore Coffee dalam Menarik Konsumen Milenial dan Gen Z. Jurnal Ilmiah Ekonomi, Akuntansi, dan Pajak, 2(2), 263–278. https://doi.org/10.61132/jieap.v2i2.1087
Rengganawati, H., Assegaf, M. M., & Sriharyati, S. (2023). Strategi Promosi Digital Fore Coffee Dalam Menciptakan Brand Awareness Fore Flagship Store Surabaya. ATRABIS Jurnal Administrasi Bisnis, 9(1), 165–174. https://doi.org/10.38204/atrabis.v9i1.1454
UKM Indonesia. (n.d.). Maksimalkan Peluang, Inilah Strategi Bisnis Fore Coffee Bisa Terus Berkembang. Diakses dari https://ukmindonesia.id
Olenka.id. (2024, September). Intip Strategi Fore Coffee Manfaatkan Teknologi Digital Hingga Raih ROAS 45X. Diakses dari https://olenka.id