Halo teman-teman pembaca setia UNIKOM! Pernah nggak sih kalian jalan-jalan sore atau malem sekitaran Bandung, terus ngelihat penjual martabak berjejeran di pinggir jalan? Rasanya hampir di setiap sudut jalan kita bisa nemuin gerobak martabak, mulai dari yang legendaris sampai yang baru buka. Martabak emang udah jadi comfort food sejuta umat di Indonesia. Kalau kita lagi pusing tugas kuliah, laper tengah malem, atau main ke rumah pacar, martabak selalu jadi pilihan aman yang nggak pernah salah.
Tapi, sebagai mahasiswa yang lagi dapet tugas mata kuliah Kewirausahaan (KWU) dan ikutan program Inkubasi Bisnis dan Komunikasi (INBISKOM), fenomena menjamurnya penjual martabak ini justru memicu sebuah pertanyaan besar: Kalau semua orang jualan martabak dengan rasa yang mirip-mirip, gimana caranya bisnis kita bisa stand out, dilirik konsumen, dan nggak tenggelam dalam kompetisi pasar yang super ketat?
Jawabannya jelas nggak cuma sekadar bikin adonan yang enak. Di era industri kreatif dan digitalisasi kayak sekarang, rasa yang lezat itu baru syarat dasar, semacam tiket masuk ke dalam pasar. Rahasia asli biar bisnis kita bisa bertahan, melompat lebih tinggi, dan punya pelanggan setia yang fanatik adalah Branding. Di artikel ini, berdasarkan data, riset pasar, dan pengalaman seru kelompok saya selama ngejalanin bisnis martabak di program INBISKOM, saya pengen ngebahas tuntas gimana caranya ngubah persepsi jajanan pasar konvensional kayak martabak menjadi sebuah brand kuliner kekinian yang bernilai jual tinggi dan punya positioning kuat di benak konsumen.
Apa Sih Sebenarnya Branding Itu?
Sering banget kita ketemu orang yang salah kaprah, ngira kalau udah bikin logo yang estetik, punya nama usaha yang unik, dan nyetak stiker buat ditempel di kemasan, berarti proses branding-nya udah selesai. Padahal itu baru pucuk kecil dari gunung es branding yang sebenernya. Menurut pakar pemasaran terkemuka, Philip Kotler, sebuah merek (brand) bukan cuma sekadar nama, istilah, tanda, simbol, atau desain. Brand adalah janji sebuah perusahaan atau penjual untuk secara konsisten memberikan seperangkat fitur, manfaat, dan layanan tertentu yang khas kepada para pembeli.
Jadi, singkatnya, branding adalah sebuah proses holistik untuk membangun dan menanamkan persepsi tertentu ke dalam benak atau pikiran konsumen. Ketika ditarik ke dalam ranah bisnis kuliner martabak kelompok kita, branding adalah tentang gimana impresi atau perasaan yang muncul di hati pelanggan pas mereka pertama kali denger nama usaha kita, ngelihat tampilan menunya, ngerasain gigitan pertamanya, sampai gimana pengalaman mereka pas ngobrol sama tim kita yang melayani. Kita pengen ketika orang mikir tentang “cemilan malam premium yang seru”, yang langsung muncul di kepala mereka adalah martabak kelompok kita, bukan kompetitor lain.
Menentukan Brand Personality: Menemukan Jiwa Bisnis Martabak
Sebelum melangkah ke desain visual, langkah paling awal yang tim kita lakuin berdasarkan referensi kelompok adalah menentukan Brand Personality atau kepribadian dari brand martabak kita. Sama kayak manusia, brand itu harus punya sifat dan karakter yang jelas biar konsumen bisa ngerasa nyambung secara emosional.
Melalui sesi diskusi kelompok yang cukup panjang di program INBISKOM, kita nemuin kalau target pasar utama kita adalah mahasiswa, anak muda rentang usia 18-25 tahun, serta keluarga muda yang aktif di media sosial dan suka mengeksplorasi kuliner baru. Oleh karena itu, kita sepakat ngebentuk brand personality yang “Fun, Friendly, Trendy, but Reliable”. Kita nggak mau kelihatan kaku kayak restoran bintang lima yang formal, tapi kita juga nggak mau kelihatan asal-asalan. Sifat “Fun dan Trendy” ini yang nantinya bakal mendasari seluruh komunikasi visual kita, gaya bahasa di media sosial, hingga inovasi produk yang kita tawarkan.
Psikologi Warna dan Desain Identitas Visual

Identitas visual itu krusial. Dalam dunia bisnis makanan, pemilihan warna itu nggak boleh sembarangan. Ada ilmu ilmiahnya yang disebut Color Psychology in Marketing. Riset menunjukkan bahwa warna-warna hangat seperti merah, kuning, dan oranye memiliki kemampuan fisiologis untuk meningkatkan denyut nadi, merangsang nafsu makan, dan menciptakan rasa lapar atau antusiasme dalam otak manusia.
Makanya, untuk bisnis martabak kelompok kita, kita memilih dominasi warna kuning keemasan dikombinasikan dengan sentuhan cokelat gelap. Warna kuning merepresentasikan kehangatan adonan martabak yang baru matang, keceriaan, dan energi anak muda. Sementara warna cokelat gelap memberikan kesan premium dan soliditas bahwa produk kita menggunakan topping cokelat berkualitas tinggi. Tipografi atau font yang kita pakai dalam logo juga sengaja dipilih yang bertipe rounded (membulat) untuk memperkuat kesan bisnis yang ramah.
Inovasi Kemasan: Mengubah Kardus Berminyak Jadi Media Promosi

Kelemahan terbesar penjual martabak tradisional adalah kemasan kardus standar yang gampang rembes minyaknya. Di era modern ini, kemasan bukan lagi sekadar alat pelindung makanan, melainkan touchpoint branding paling vital.
Anak muda zaman sekarang punya kebiasaan: “Kamera harus makan duluan sebelum mulut.” Peluang emas ini yang kita manfaatkan. Kita mendesain ulang kemasan martabak dengan konsep yang kokoh, menggunakan bahan ramah lingkungan yang bagian dalamnya dilapisi laminasi anti-minyak (food grade). Di bagian luar kemasan, kita naruh logo dan quotes lucu seputar kehidupan perkuliahan yang relatable. Pas konsumen ngelihat kemasannya yang estetik, mereka bakal secara sukarela membagikan foto kemasan itu ke Instagram Stories mereka. Ini adalah organic word-of-mouth marketing yang efeknya luar biasa tanpa biaya sepeser pun!
Menemukan Unique Selling Proposition (USP)
Branding yang kuat harus didukung oleh produk yang punya karakter unik, atau Unique Selling Proposition (USP). Berdasarkan data kelompok yang kita kumpulkan, kita membedakan bisnis kita dari ratusan penjual martabak lain:
| Aspek Bisnis | Martabak Konvensional Pinggir Jalan | Martabak Kekinian Kelompok INBISKOM Kita |
|---|---|---|
| Inovasi Topping | Terbatas pada cokelat, kacang, keju, meses standar. | Kita nggak cuma nyediain cokelat dan kacang, tapi topping premium modern seperti Kismis dan Pisang. |
| Porsi & Ukuran | Hanya ukuran besar, kadang terlalu berat/mahal buat personal. | Kita ngerti mahasiswa kadang nggak kuat beli seloyang besar sendirian. Jadi kita rilis varian “Tipis Kering” lebih tipis dibanding original. |
| Higienitas Proses | Terkadang kurang memperhatikan sanitasi gerobak terbuka. | Kita menerapkan konsep Hygienic Kitchen, di mana kru memakai sarung tangan dan masker saat memasak adonan. |
| Pengalaman Digital | Hanya melayani transaksi tunai, tidak ada media sosial aktif. | Integrasi QRIS, aktif di Instagram/TikTok, terdaftar di Google Maps & e-delivery. |
Kekuatan Storytelling: Menjual Cerita di Balik Adonan
Konsumen modern cenderung mulai bosan sama gaya jualan konvensional yang sifatnya hard-selling. Strategi branding kekinian yang jauh lebih ampuh adalah Storytelling Marketing, yaitu teknik menyampaikan pesan melalui cerita.
Dalam bisnis kita, kita membagikan cerita behind the scenes. Kita ceritain perjuangan mahasiswa Sistem Informasi yang nekat belajar bisnis kuliner. Mulai dari momen panik pas adonan pertama bantat, sampai bagi waktu ngerjain tugas kampus sambil jualan. Narasi jujur ini bikin audiens di medsos merasa punya kedekatan emosional. Mereka beli bukan cuma karena lapar, tapi karena mereka ingin mensupport perjuangan UMKM mahasiswa.
Konsistensi di Ranah Digital (Digital Touchpoints)
Branding offline yang keren bakal sia-sia kalau digitalnya mlempem. Titik sentuh digital sangat krusial. Langkah pertama kita adalah memastikan titik lokasi usaha terdaftar di Google My Business. Saat mahasiswa kelaparan di kos jam 9 malam dan ngetik “martabak terdekat”, brand kita muncul di urutan atas dengan foto resolusi tinggi dan rating yang bagus.
Di Instagram dan TikTok, kita nggak melulu hard-selling. Kita buat content pillars yang seimbang: ada hiburan, behind the scenes, dan interaksi dengan followers. Konsistensi warna (kuning-cokelat) di setiap feeds bikin tampilan storefront digital kita terlihat sangat profesional.
Brand Activation: Menghidupkan Identitas Merek Lewat Momen Bazaar INBISKOM
Branding yang keren di media sosial atau kemasan yang estetik bakal terasa kurang nendang kalau kita nggak mengeksekusinya langsung dalam interaksi nyata dengan konsumen. Di sinilah pentingnya konsep Brand Activation atau aktivasi merek. Aktivasi merek adalah proses membawa brand kita langsung ke hadapan audiens lewat sebuah pengalaman interaktif yang berkesan. Bagi kelompok kita, momen emas untuk melakukan brand activation ini adalah saat pelaksanaan pameran atau bazaar kewirausahaan resmi yang diadakan oleh program INBISKOM di lingkungan kampus.
Pas bazaar berlangsung, kita nggak mau stan martabak kita kelihatan biasa aja kayak gerobak kaki lima pada umumnya. Kita menyelaraskan identitas visual digital kita ke dunia nyata. Mulai dari memasang dekorasi banner dengan dominasi warna kuning-cokelat yang khas, memutar musik yang upbeat untuk menarik perhatian pengunjung, sampai kru kelompok yang kompak memakai celemek (apron) khusus berlogo usaha kita. Keselarasan visual ini bikin stan kita langsung mencolok di antara puluhan stan lainnya di area bazaar.
Kesimpulan
Melalui perjalanan menyusun tugas KWU dan mengikuti INBISKOM ini, satu hal yang bisa disimpulkan: bisnis kuliner tradisional sama sekali nggak bisa dipandang sebelah mata. Di tangan generasi muda yang kreatif, produk lokal sederhana bisa bertransformasi jadi brand modern dengan daya saing tinggi.
Strategi branding yang matang dari penentuan personality, psikologi warna visual, kemasan interaktif, penajaman USP produk, storytelling, hingga konsistensi digital adalah kunci keberhasilan bisnis. Semoga artikel ini bisa menginspirasi teman-teman mahasiswa UNIKOM lainnya untuk berani berinovasi dan membangun brand kebanggaan lokal!
Penulis:
Farel Rizky Dwi Saputra | 10523202 | IS-5
DAFTAR REFERENSI / PUSTAKA
- Kotler, P., & Keller, K. L. (2016). Marketing Management (15th ed.). Pearson Education.
- Tjiptono, F. (2019). Strategi Pemasaran: Prinsip & Penerapan. Andi Offset.
- Wheeler, A. (2015). Designing Brand Identity: An Essential Guide for the Whole Branding Team. John Wiley & Sons.
- Jurnal Inovasi dan Kewirausahaan UNIKOM. (2024). Pengembangan Strategi UMKM Kuliner Berbasis Digital Media di Wilayah Bandung. Kelompok Riset Inkubator Bisnis Unikom.