Pembelajaran fisika dasar pada anak usia sekolah dasar masih sering dianggap sebagai materi yang sulit dan membosankan. Hal ini disebabkan karena konsep-konsep fisika kerap disampaikan dalam bentuk abstrak, berupa teks dan rumus, tanpa disertai pengalaman konkret yang dekat dengan dunia anak. Padahal, anak usia sekolah dasar berada pada tahap perkembangan kognitif yang membutuhkan pembelajaran melalui pengalaman langsung, eksplorasi, dan permainan untuk memahami hubungan sebab-akibat, seperti dorongan, tarikan, dan gerak benda.
Di sisi lain, orang tua dan guru saat ini mulai menyadari pentingnya media belajar alternatif yang tidak hanya menghibur, tetapi juga mampu membantu anak memahami konsep sains secara bertahap. Namun, pasar mainan edukatif di Indonesia masih didominasi oleh produk impor dengan harga relatif mahal. Produk lokal yang menggabungkan permainan fisik, eksperimen sederhana, dan penjelasan konsep yang sistematis masih terbatas jumlahnya.
Perkembangan teknologi digital dan kebiasaan anak yang semakin akrab dengan gawai membuka peluang baru dalam pengembangan media pembelajaran. Anak-anak cenderung lebih tertarik pada konten visual dan video dibandingkan buku teks konvensional. Oleh karena itu, integrasi teknologi digital ke dalam media belajar berbasis permainan menjadi solusi yang relevan dengan karakteristik belajar anak masa kini.
Berdasarkan kondisi tersebut, tim PKM-K mengembangkan Kinetix, sebuah mainan edukatif berupa mini catapult dengan konsep do it yourself (DIY) yang dipadukan dengan video edukatif berbasis QR code. Produk ini dirancang untuk mengenalkan konsep gaya, energi, dan gerak secara menyenangkan, sekaligus dikembangkan sebagai luaran usaha dalam Program Kreativitas Mahasiswa bidang Kewirausahaan (PKM-K).
Kinetix merupakan alat peraga edukatif berbentuk miniatur catapult yang dirancang agar dapat dirakit sendiri oleh anak dengan pendampingan orang tua atau guru. Konsep DIY dipilih untuk mendorong keterlibatan aktif anak sejak tahap perakitan, sehingga proses belajar tidak hanya terjadi saat bermain, tetapi juga saat merakit produk.
Setiap paket Kinetix terdiri dari komponen mini catapult berbahan kardus tebal ramah lingkungan, petunjuk perakitan yang sederhana, serta QR code yang terhubung dengan video edukatif. Video tersebut berisi penjelasan konsep fisika dasar seperti gaya, energi potensial, energi kinetik, dan pengaruh sudut peluncuran, yang disampaikan dengan bahasa sederhana dan visual menarik.Integrasi QR code menjadi salah satu keunggulan utama Kinetix. Teknologi ini memungkinkan anak mengakses materi pembelajaran secara cepat menggunakan gawai yang sudah akrab dengan keseharian mereka. Selain itu, konten video dapat diperbarui secara berkala tanpa harus mengubah produk fisik, sehingga nilai edukatif Kinetix tetap relevan dengan perkembangan kurikulum dan kebutuhan pembelajaran.
Sebagai produk PKM-K, Kinetix tidak hanya dirancang sebagai media pembelajaran, tetapi juga sebagai produk usaha yang memiliki nilai jual. Produk ini memanfaatkan bahan baku lokal, proses produksi sederhana, serta strategi pemasaran digital untuk menjangkau pasar secara lebih luas.
Keunggulan Kinetix terletak pada integrasi antara permainan fisik dan konten edukatif digital. Berbeda dengan mainan edukatif konvensional yang hanya mengandalkan instruksi tertulis, Kinetix memanfaatkan video edukatif untuk menjelaskan konsep yang abstrak secara visual dan komunikatif.
Penggunaan QR code mencerminkan pemanfaatan kemajuan teknologi yang sesuai dengan kebiasaan anak di era digital. Anak-anak saat ini cenderung lebih tertarik belajar melalui video dibandingkan membaca buku, sehingga pendekatan ini membuat proses belajar menjadi lebih menarik dan mudah dipahami. Konsep DIY juga mendorong learning by doing, di mana anak belajar melalui pengalaman langsung, bukan sekadar menerima informasi secara pasif.
Dari sisi ekonomi, Kinetix memiliki keunggulan harga karena dirancang menggunakan bahan sederhana dan proses produksi yang tidak rumit. Hal ini membuat produk lebih terjangkau dibandingkan kit eksperimen impor, sekaligus meningkatkan daya saing produk lokal di pasar mainan edukatif
Peluang pasar Kinetix dianalisis menggunakan beberapa pendekatan, antara lain Business Model Canvas (BMC), analisis SWOT, dan analisis PESTEL.Dalam BMC, Kinetix memiliki mitra utama berupa pemasok bahan baku lokal, percetakan kemasan, kreator konten video edukatif, serta platform media sosial sebagai saluran promosi. Aktivitas utama meliputi produksi mini catapult, pembuatan konten video, pengemasan, dan pemasaran digital. Segmen pasar utama adalah orang tua anak usia sekolah dasar dan guru yang membutuhkan media belajar alternatif berbasis permainan.
Analisis SWOT menunjukkan bahwa kekuatan Kinetix terletak pada konsep unik integrasi mainan fisik dan video edukatif berbasis QR code, biaya produksi relatif rendah, serta relevansi dengan kebutuhan pembelajaran anak. Kelemahannya adalah skala produksi yang masih terbatas dan perlunya edukasi pasar agar konsumen memahami nilai edukatif produk. Peluangnya berasal dari meningkatnya kebutuhan media belajar alternatif dan tren pembelajaran berbasis bermain, sedangkan ancamannya berasal dari persaingan dengan produk impor dan perubahan preferensi konsumen.
Analisis PESTEL juga menunjukkan lingkungan eksternal yang mendukung. Dari aspek sosial dan teknologi, meningkatnya kesadaran orang tua terhadap pendidikan sains dan kebiasaan penggunaan gawai menjadi faktor pendukung utama. Dari aspek ekonomi, harga terjangkau menjadi nilai tambah di tengah kondisi ekonomi yang selektif.
Sebagai luaran PKM-K, Kinetix dianalisis dari sisi kelayakan ekonomi untuk memastikan keberlanjutan usaha. Modal awal usaha direncanakan sebesar Rp6.000.000 yang digunakan untuk pengadaan bahan baku, produksi, pembuatan konten video edukatif, kemasan, dan promosi digital.
Berdasarkan analisis ekonomi usaha, diperoleh harga pokok produksi (HPP) sebesar Rp35.000 per unit dengan harga jual Rp45.000. Proyeksi laba rugi kumulatif selama dua tahun menunjukkan bahwa meskipun usaha mengalami kerugian pada periode awal akibat biaya investasi, pada periode selanjutnya usaha mulai menghasilkan keuntungan yang stabil.Total keuntungan selama dua tahun diproyeksikan sebesar Rp6.600.000 dengan total biaya usaha Rp6.000.000. Perhitungan Return on Investment (ROI) menghasilkan nilai sebesar 110%, yang menunjukkan bahwa usaha Kinetix mampu mengembalikan modal awal sekaligus menghasilkan keuntungan tambahan. Dengan demikian, Kinetix dinilai layak secara finansial dan memiliki potensi untuk dikembangkan lebih lanjut.
Keberlanjutan usaha Kinetix dirancang dalam jangka panjang melalui beberapa tahapan, mulai dari pengenalan produk, peningkatan kualitas, perluasan pasar, hingga diversifikasi produk. Dalam lima tahun ke depan, Kinetix ditargetkan menjadi usaha mandiri yang stabil tanpa bergantung pada pendanaan PKM.
Dari sisi edukatif, Kinetix memberikan dampak positif terhadap pembelajaran fisika anak sekolah dasar. Anak dapat belajar konsep gaya dan energi melalui eksperimen sederhana yang menyenangkan. Proses merakit dan menggunakan mini catapult juga melatih keterampilan motorik, pemecahan masalah, dan kemampuan berpikir kritis.
Kinetix juga berkontribusi pada pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Quality Education) melalui penyediaan media pembelajaran inovatif, serta SDG 9 (Industry, Innovation, and Infrastructure) melalui pengembangan produk lokal berbasis teknologi.
Kinetix merupakan inovasi mainan edukatif berbasis mini catapult dan QR code yang dikembangkan sebagai luaran Program PKM-K. Produk ini menggabungkan permainan fisik, teknologi digital, dan konsep DIY untuk menciptakan pengalaman belajar fisika yang menyenangkan dan relevan dengan karakteristik anak era digital.
Berdasarkan analisis pasar dan kelayakan ekonomi, Kinetix dinilai layak dikembangkan sebagai produk usaha yang berkelanjutan. Dengan dukungan strategi pemasaran digital dan pengembangan konten edukatif yang berkelanjutan, Kinetix memiliki potensi untuk menjadi alternatif mainan edukatif lokal yang kompetitif sekaligus berdampak positif bagi dunia pendidikan.