Dalam beberapa tahun terakhir, fenomena thrifting—membeli pakaian bekas (biasanya impor)—telah menjamur di Indonesia. Dengan iming-iming harga murah dan gaya yang unik, thrifting sempat dianggap sebagai ancaman serius bagi industri mode tanah air. Namun, alih-alih tumbang, brand lokal justru bangkit dengan kualitas dan strategi yang semakin matang.
Meskipun thrifting menawarkan sensasi “berburu harta karun”, brand lokal memiliki keunggulan kompetitif yang sulit ditandingi oleh pasar pakaian bekas. Berikut adalah 5 alasan kuat mengapa brand lokal mampu bersaing dan bahkan memenangkan hati konsumen Indonesia.
1. Kualitas Terjamin dan Quality Control (QC) yang Ketat
Kelemahan terbesar dari thrifting adalah kondisi barang yang tidak menentu. Pembeli sering kali menemukan noda, lubang kecil, warna yang pudar, atau jahitan yang lepas setelah membeli.
Sebaliknya, brand lokal menawarkan produk dalam kondisi 100% baru. Mereka menerapkan standar Quality Control (QC) yang ketat sebelum barang sampai ke tangan konsumen. Membeli produk lokal memberikan ketenangan pikiran (peace of mind) karena konsumen tahu mereka mendapatkan barang yang awet, bersih, dan bebas dari cacat tersembunyi.
2. Sizing dan Cutting yang Sesuai Tubuh Indonesia
Pakaian thrift impor biasanya berasal dari negara-negara Barat atau Asia Timur yang memiliki standar ukuran berbeda dengan rata-rata orang Indonesia. Sering kali, baju thrift memiliki potongan yang terlalu panjang atau lebar bahu yang tidak pas.
Brand lokal memiliki keunggulan riset pasar. Mereka mendesain pola (cutting) dan ukuran (sizing) yang dikhususkan untuk postur tubuh orang Indonesia (Asian Fit). Hal ini membuat pakaian lokal jauh lebih nyaman dipakai dan terlihat lebih rapi tanpa perlu biaya tambahan untuk memvermak ke tukang jahit.
3. Relevansi Tren dan Desain yang Adaptif
Pasar thrifting sangat bergantung pada ketersediaan stok lama. Meskipun gaya vintage sedang diminati, tidak semua tren masa kini bisa ditemukan di pasar barang bekas.
Brand lokal sangat lincah dalam membaca tren global dan menerjemahkannya ke selera lokal. Mereka bisa memproduksi koleksi baru dalam hitungan minggu untuk menjawab apa yang sedang hype saat ini. Selain itu, brand lokal sering melakukan kolaborasi dengan seniman atau public figure Indonesia, menciptakan nilai eksklusivitas yang relevan dengan budaya pop masa kini.
4. Kemudahan Akses dan Layanan Purna Jual (After-Sales)
Berbelanja thrift sering kali membutuhkan usaha ekstra: harus mengaduk-aduk tumpukan baju (digging) di pasar yang panas atau berebut (“war”) di live streaming. Jika barang tidak cocok, umumnya barang thrift tidak bisa ditukar.
Brand lokal menawarkan pengalaman belanja yang superior. Dengan kemudahan e-commerce, foto produk yang profesional, panduan ukuran yang jelas, serta layanan pelanggan yang responsif, konsumen dimanjakan dengan kemudahan. Lebih penting lagi, banyak brand lokal kini menawarkan kebijakan penukaran barang (return policy) jika ukuran tidak pas, sesuatu yang hampir mustahil didapatkan di dunia thrifting.
5. Nilai Emosional dan Identitas (Local Pride)
Narasi “Cintai Produk Dalam Negeri” bukan lagi sekadar slogan pemerintah, tetapi telah menjadi gaya hidup anak muda. Ada rasa bangga tersendiri saat mengenakan brand lokal yang kualitasnya setara dengan brand internasional.
Membeli brand lokal memberikan dampak ekonomi langsung terhadap kesejahteraan pengrajin, penjahit, dan pengusaha di Indonesia. Konsumen kini semakin cerdas dan sadar bahwa uang yang mereka belanjakan turut memutar roda ekonomi bangsa, berbeda dengan membeli pakaian bekas impor ilegal yang justru bisa mematikan industri tekstil dalam negeri.
Kesimpulan
Meskipun thrifting memiliki tempat tersendiri bagi pencinta gaya vintage dan pemburu harga miring, brand lokal tetap memegang kendali pasar melalui kualitas, kenyamanan, dan relevansi.
Konsumen masa kini tidak hanya mencari harga murah, tetapi juga value (nilai) dari uang yang mereka keluarkan. Dengan jaminan kondisi baru, ukuran yang pas, dan kemudahan layanan, brand lokal membuktikan bahwa produk dalam negeri adalah pilihan yang paling logis dan etis untuk jangka panjang. Dukungan terhadap brand lokal bukan hanya soal gaya, tapi juga soal masa depan industri kreatif Indonesia.
Referensi :
- Kementerian Perdagangan Republik Indonesia. (2022). Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia Nomor 40 Tahun 2022 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 18 Tahun 2021 tentang Barang Dilarang Ekspor dan Barang Dilarang Impor. JDIH Kementerian Perdagangan. https://jdih.kemendag.go.id
- CNN Indonesia. (2019, September 7). Kemendag temukan bakteri dan jamur di pakaian bekas impor. CNN Indonesia. https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20190907105820-92-428389/kemendag-temukan-bakteri-dan-jamur-di-pakaian-bekas-impor
- Puspitasari, I. (2023, Maret 17). Banjir baju bekas impor, Asosiasi Pertekstilan: IKM paling terpukul. Tempo.co. https://bisnis.tempo.co/read/1703983/banjir-baju-bekas-impor-asosiasi-pertekstilan-ikm-paling-terpukul
- IDN Research Institute. (2022). Indonesia Gen Z report 2022: Understanding the behaviors, lifestyles, and preferences of Indonesia’s Gen Z. IDN Media. https://www.idn.media/idn-research-institute
- Putri, A. R., & Hidayat, R. (2023). Analisis perbandingan keputusan pembelian produk fashion brand lokal dan thrift shop pada Generasi Z. Jurnal Manajemen dan Bisnis, 11(2), 145-158.