Halo, para pejuang cuan dari Kampus Biru!Pernah nggak sih kalian terpikir kalau tumpukan baju di lemari yang sudah jarang dipakai, atau bal-balan baju dari pasar loak, bisa jadi modal utama untuk beli gadget terbaru atau bayar cicilan semesteran? Kalau jawabanmu “iya”, berarti kamu punya insting wirausaha yang tajam!Dunia thrifting bukan lagi sekadar tren musiman. Di era keberlanjutan (sustainability) ini, bisnis baju bekas telah bertransformasi menjadi industri jutaan rupiah. Tapi, gimana caranya supaya bisnis thrift kita nggak cuma sekadar “jual baju murah”, tapi punya nilai jual tinggi layaknya brand high-end? Yuk, kita bedah tuntas lewat kacamata kewirausahaan digital!1. Mindset Wirausaha: Mengapa Thrifting?Sebagai mahasiswa UNIKOM yang akrab dengan teknologi, kita harus melihat thrifting bukan sebagai bisnis “loakan”, melainkan solusi Circular Economy.- Low Capital, High Return: Dengan modal relatif kecil, margin keuntungan bisa mencapai 100-300% jika kamu tahu cara kurasinya.- Eco-Friendly: Kamu membantu mengurangi limbah tekstil. Ini adalah Unique Selling Point (USP) yang sangat disukai generasi Z.2. Kunci Utama: Kreasi Produk & KurasiBisnis thrifting yang sukses bukan tentang seberapa banyak barang yang kamu punya, tapi seberapa “estetik” barang tersebut di mata pembeli.- Rework/Upcycling: Jangan ragu untuk menjahit ulang atau menambahkan aksen pada baju yang punya noda kecil. Di UNIKOM, kita diajarkan untuk inovatif. Ubah kemeja kedodoran menjadi crop top kekinian!- Deep Cleaning: Ini wajib. Pastikan barang yang sampai ke tangan konsumen sudah bersih, wangi, dan bebas kuman. Customer experience dimulai dari aroma paket saat dibuka.3. Branding Produk: Membangun Karakter “Toko”Kenapa orang mau beli kaos bekas seharga Rp150.000 di akun A, padahal di pasar cuma Rp20.000? Jawabannya adalah Branding.- Visual Identity: Tentukan palet warna feeds Instagram atau TikTok-mu. Gunakan logo yang simpel tapi memorable.- Niche Market: Jangan serakah. Pilih spesialisasi, misalnya: 90s Vintage, Streetwear, Workwear, atau Korean Style. Menjadi ahli di satu gaya lebih baik daripada menjual segalanya tapi tidak punya karakter.4. Digital Marketing: Manfaatkan Algoritma!Kita adalah mahasiswa kampus IT dan desain. Malu dong kalau konten promosi kita biasa saja?- Live Shopping: Manfaatkan fitur Live di TikTok atau Shopee. Interaksi langsung menciptakan kepercayaan (trust) yang tinggi.- SEO & Hashtag: Gunakan keyword yang relevan. Misalnya, jangan cuma pakai #Thrift, tapi gunakan #ThriftBandung atauhuuh #VintageOutfit biar tepat sasaran ke warga lokal.- Storytelling: Ceritakan sejarah di balik baju tersebut. “Jaket ini berasal dari tahun 90-an dengan material yang sudah tidak diproduksi lagi.” Narasi menambah nilai emosional barang.5. Business Matching & Networking di UNIKOMNah, ini yang paling seru. Sebagai mahasiswa UNIKOM, kamu punya akses ke INBISKOM (Inkubator Bisnis dan Teknologi).Melalui program seperti P2MW (Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha), kamu bisa mendapatkan pendanaan dan pendampingan. Jangan jalan sendirian! Lakukan Business Matching:- Cari teman dari DKV untuk urusan desain logo dan konten.- Cari teman dari Sistem Informasi untuk buat website katalog sederhana.- Cari teman dari Akuntansi untuk merapikan pembukuan keuanganmu.- Kolaborasi antar jurusan adalah kunci sukses ekosistem bisnis di kampus kita.6. Tips Mengikuti P2MW dan Program InkubasiJika kamu ingin serius membawa bisnis thrifting-mu ke level nasional lewat P2MW:- Susun Pitch Deck yang Menarik: Jelaskan masalah (limbah baju) dan solusimu (bisnis thrift berbasis digital).- Transparansi Keuangan: Catat setiap rupiah modal dan keuntungan.- Inovasi Digital: Tambahkan fitur unik, misalnya fitur “Virtual Try-On” sederhana atau integrasi katalog berbasis web.KesimpulanBisnis thrifting adalah perpaduan antara seni, ketelitian, dan strategi digital. Bagi mahasiswa UNIKOM, peluang untuk menyulap barang bekas menjadi bisnis berskala nasional terbuka lebar melalui dukungan INBISKOM. Jadi, tunggu apa lagi? Ambil kameramu, mulai kurasi baju terbaikmu, dan mari kita mulai berwirausaha!Salam Inovasi!Signature: Divisi Kewirausahaan Mahasiswa UNIKOM Program INBISKOM – Akselerasi Bisnis DigitalReferensi:- Kotler, P., & Armstrong, G. (2021). Principles of Marketing. Pearson Education.- Hawley, J. M. (2006). Digging for Diamonds: A Conceptual Framework for Understanding Reclaimed Textile Products. Clothing and Textiles Research Journal.- Panduan Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) Halo, para pejuang cuan dari Kampus Biru!Pernah nggak sih kalian terpikir kalau tumpukan baju di lemari yang sudah jarang dipakai, atau bal-balan baju dari pasar loak, bisa jadi modal utama untuk beli gadget terbaru atau bayar cicilan semesteran? Kalau jawabanmu “iya”, berarti kamu punya insting wirausaha yang tajam!Dunia thrifting bukan lagi sekadar tren musiman. Di era keberlanjutan (sustainability) ini, bisnis baju bekas telah bertransformasi menjadi industri jutaan rupiah. Tapi, gimana caranya supaya bisnis thrift kita nggak cuma sekadar “jual baju murah”, tapi punya nilai jual tinggi layaknya brand high-end? Yuk, kita bedah tuntas lewat kacamata kewirausahaan digital!1. Mindset Wirausaha: Mengapa Thrifting?Sebagai mahasiswa UNIKOM yang akrab dengan teknologi, kita harus melihat thrifting bukan sebagai bisnis “loakan”, melainkan solusi Circular Economy.- Low Capital, High Return: Dengan modal relatif kecil, margin keuntungan bisa mencapai 100-300% jika kamu tahu cara kurasinya.- Eco-Friendly: Kamu membantu mengurangi limbah tekstil. Ini adalah Unique Selling Point (USP) yang sangat disukai generasi Z.2. Kunci Utama: Kreasi Produk & KurasiBisnis thrifting yang sukses bukan tentang seberapa banyak barang yang kamu punya, tapi seberapa “estetik” barang tersebut di mata pembeli.- Rework/Upcycling: Jangan ragu untuk menjahit ulang atau menambahkan aksen pada baju yang punya noda kecil. Di UNIKOM, kita diajarkan untuk inovatif. Ubah kemeja kedodoran menjadi crop top kekinian!- Deep Cleaning: Ini wajib. Pastikan barang yang sampai ke tangan konsumen sudah bersih, wangi, dan bebas kuman. Customer experience dimulai dari aroma paket saat dibuka.3. Branding Produk: Membangun Karakter “Toko”Kenapa orang mau beli kaos bekas seharga Rp150.000 di akun A, padahal di pasar cuma Rp20.000? Jawabannya adalah Branding.- Visual Identity: Tentukan palet warna feeds Instagram atau TikTok-mu. Gunakan logo yang simpel tapi memorable.- Niche Market: Jangan serakah. Pilih spesialisasi, misalnya: 90s Vintage, Streetwear, Workwear, atau Korean Style. Menjadi ahli di satu gaya lebih baik daripada menjual segalanya tapi tidak punya karakter.4. Digital Marketing: Manfaatkan Algoritma!Kita adalah mahasiswa kampus IT dan desain. Malu dong kalau konten promosi kita biasa saja?- Live Shopping: Manfaatkan fitur Live di TikTok atau Shopee. Interaksi langsung menciptakan kepercayaan (trust) yang tinggi.- SEO & Hashtag: Gunakan keyword yang relevan. Misalnya, jangan cuma pakai #Thrift, tapi gunakan #ThriftBandung atauhuuh #VintageOutfit biar tepat sasaran ke warga lokal.- Storytelling: Ceritakan sejarah di balik baju tersebut. “Jaket ini berasal dari tahun 90-an dengan material yang sudah tidak diproduksi lagi.” Narasi menambah nilai emosional barang.5. Business Matching & Networking di UNIKOMNah, ini yang paling seru. Sebagai mahasiswa UNIKOM, kamu punya akses ke INBISKOM (Inkubator Bisnis dan Teknologi).Melalui program seperti P2MW (Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha), kamu bisa mendapatkan pendanaan dan pendampingan. Jangan jalan sendirian! Lakukan Business Matching:- Cari teman dari DKV untuk urusan desain logo dan konten.- Cari teman dari Sistem Informasi untuk buat website katalog sederhana.- Cari teman dari Akuntansi untuk merapikan pembukuan keuanganmu.- Kolaborasi antar jurusan adalah kunci sukses ekosistem bisnis di kampus kita.6. Tips Mengikuti P2MW dan Program InkubasiJika kamu ingin serius membawa bisnis thrifting-mu ke level nasional lewat P2MW:- Susun Pitch Deck yang Menarik: Jelaskan masalah (limbah baju) dan solusimu (bisnis thrift berbasis digital).- Transparansi Keuangan: Catat setiap rupiah modal dan keuntungan.- Inovasi Digital: Tambahkan fitur unik, misalnya fitur “Virtual Try-On” sederhana atau integrasi katalog berbasis web.KesimpulanBisnis thrifting adalah perpaduan antara seni, ketelitian, dan strategi digital. Bagi mahasiswa UNIKOM, peluang untuk menyulap barang bekas menjadi bisnis berskala nasional terbuka lebar melalui dukungan INBISKOM. Jadi, tunggu apa lagi? Ambil kameramu, mulai kurasi baju terbaikmu, dan mari kita mulai berwirausaha!Salam Inovasi!Signature: Divisi Kewirausahaan Mahasiswa UNIKOM Program INBISKOM – Akselerasi Bisnis DigitalReferensi:- Kotler, P., & Armstrong, G. (2021). Principles of Marketing. Pearson Education.- Hawley, J. M. (2006). Digging for Diamonds: A Conceptual Framework for Understanding Reclaimed Textile Products. Clothing and Textiles Research Journal.- Panduan Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) 2024, Kemendikbudristek.