Strategi Pemasaran Digital Zula Kids dalam Menjangkau Orang Tua Muda

7–11 minutes

Pendahuluan

Perkembangan ekonomi digital dalam satu dekade terakhir telah mengubah secara fundamental cara manusia menjalankan aktivitas ekonomi, khususnya dalam sektor perdagangan ritel dan industri kreatif. Teknologi internet, media sosial, serta marketplace daring telah menjadikan proses jual beli tidak lagi bergantung pada ruang fisik, melainkan pada kemampuan sebuah merek untuk tampil, dikenal, dan dipercaya di ruang digital. Dalam konteks ini, pelaku usaha kecil dan mahasiswa wirausaha memiliki peluang yang sangat besar untuk bersaing dengan brand besar karena batasan modal dan lokasi semakin berkurang. Selama sebuah produk memiliki nilai yang relevan dengan kebutuhan pasar dan dikomunikasikan secara efektif melalui platform digital, maka peluang untuk berkembang tetap terbuka luas.

Industri pakaian anak merupakan salah satu sektor yang sangat dipengaruhi oleh transformasi digital tersebut. Orang tua masa kini, khususnya generasi milenial dan generasi Z, tidak lagi hanya mengandalkan toko fisik dalam memenuhi kebutuhan anak-anak mereka. Proses pencarian referensi produk, perbandingan harga, hingga evaluasi kualitas banyak dilakukan melalui Instagram, TikTok, dan marketplace seperti Shopee. Mereka tidak hanya membeli pakaian, tetapi juga membeli rasa aman, kenyamanan, serta identitas yang melekat pada sebuah merek. Oleh karena itu, dalam industri pakaian anak, kepercayaan dan citra merek memiliki peran yang sangat penting dalam menentukan keputusan pembelian.

Dalam konteks tersebut, Zula Kids hadir sebagai brand celana anak yang dikembangkan melalui pendekatan kewirausahaan mahasiswa dalam program INBISKOM. Zula Kids tidak sekadar bertujuan menjual produk pakaian, tetapi berupaya membangun sebuah merek yang dekat dengan orang tua muda sebagai target pasar utama. Celana anak dipilih sebagai fokus produk karena merupakan kebutuhan esensial dalam aktivitas sehari-hari anak, baik untuk bermain, belajar, maupun beraktivitas di luar rumah. Dengan mengedepankan kenyamanan, kualitas bahan, serta desain yang sesuai dengan karakter anak, Zula Kids berupaya memposisikan dirinya sebagai solusi yang relevan bagi orang tua yang ingin memberikan yang terbaik bagi anak mereka tanpa harus mengeluarkan biaya yang terlalu tinggi.

Pendekatan pemasaran Zula Kids dirancang sejak awal untuk berorientasi pada platform digital, khususnya Instagram dan Shopee. Instagram digunakan sebagai ruang untuk membangun citra, narasi, dan kedekatan emosional antara merek dengan konsumen, sedangkan Shopee dimanfaatkan sebagai sarana utama transaksi dan distribusi produk. Kombinasi ini mencerminkan praktik pemasaran digital modern sebagaimana dijelaskan oleh Kotler dan Keller bahwa komunikasi merek dan proses pembelian saat ini berjalan dalam satu ekosistem digital yang terintegrasi. Dengan demikian, kajian terhadap Zula Kids menjadi relevan untuk melihat bagaimana sebuah usaha mahasiswa dapat membangun brand dan menjangkau pasar melalui strategi digital marketing yang terencana.


Pembahasan

PEMBAHASAN (VERSI DIPERLUAS DAN DIPERDALAM)

Zula Kids merupakan merek pakaian anak yang berfokus pada produksi celana anak untuk usia balita hingga sekolah dasar. Pemilihan fokus pada celana didasarkan pada kenyataan bahwa jenis pakaian ini merupakan kebutuhan utama anak dalam aktivitas sehari-hari. Anak-anak menggunakan celana dalam berbagai situasi, mulai dari bermain, belajar, hingga kegiatan keluarga, sehingga kenyamanan dan kualitas menjadi faktor yang sangat penting. Proses produksi Zula Kids dimulai dari perancangan pola, pemilihan dan pemotongan kain, proses penjahitan, pemeriksaan kualitas, hingga pengemasan sebelum akhirnya dipasarkan melalui Instagram dan Shopee. Setiap tahap ini dirancang untuk memastikan bahwa produk yang sampai ke konsumen memiliki kualitas yang layak dan sesuai dengan standar yang diharapkan.

Dalam konteks industri fashion anak, fokus pada satu kategori produk justru menjadi kekuatan strategis. Banyak brand pakaian anak gagal berkembang karena mencoba menjual terlalu banyak jenis produk sekaligus tanpa diferensiasi yang jelas. Dengan hanya berfokus pada celana, Zula Kids dapat mengoptimalkan kontrol kualitas, efisiensi produksi, serta konsistensi desain. Hal ini sejalan dengan konsep strategic focus dalam kewirausahaan, di mana usaha rintisan dianjurkan untuk menguasai satu ceruk pasar sebelum melakukan ekspansi. Celana anak juga merupakan produk yang memiliki tingkat repeat purchase tinggi, karena anak cepat tumbuh dan celana cepat kotor atau rusak akibat aktivitas fisik, sehingga permintaan bersifat berulang dan berkelanjutan.

Pendekatan pengembangan produk yang diterapkan oleh Zula Kids sejalan dengan konsep minimum viable product yang diperkenalkan oleh Ries (2011), yaitu membangun produk dalam versi awal yang cukup layak untuk dijual dan kemudian diuji langsung ke pasar untuk memperoleh umpan balik. Dalam praktiknya, Zula Kids meluncurkan beberapa model celana dasar dan mengamati respon konsumen melalui penjualan di Shopee serta interaksi di Instagram. Umpan balik tersebut kemudian digunakan untuk menyempurnakan desain, ukuran, dan bahan agar semakin sesuai dengan kebutuhan pengguna. Dengan demikian, proses inovasi tidak terjadi di ruang tertutup, tetapi berlangsung secara berkelanjutan melalui interaksi dengan pasar.

Pendekatan MVP ini sangat relevan bagi usaha mahasiswa karena memungkinkan pengujian pasar tanpa harus mengeluarkan modal besar di awal. Dalam konteks Zula Kids, setiap model celana yang dirilis bukan sekadar produk jualan, tetapi juga berfungsi sebagai alat riset pasar. Jika suatu model lebih laku, lebih banyak disimpan (wishlist), atau lebih sering dikomentari di Instagram, maka itu menjadi indikator preferensi konsumen. Data ini kemudian menjadi dasar dalam pengambilan keputusan produksi berikutnya. Dengan cara ini, Zula Kids tidak mengandalkan intuisi semata, tetapi membangun strategi berbasis data pasar yang nyata.

Masalah utama yang sering dihadapi orang tua dalam membeli celana anak adalah ketidaksesuaian antara harapan dan realitas produk. Banyak produk murah di marketplace terlihat menarik dalam foto, tetapi ternyata tidak nyaman dipakai atau mudah rusak. Di sisi lain, produk bermerek besar sering kali memiliki harga yang relatif tinggi sehingga kurang efisien untuk penggunaan harian anak yang aktif. Kondisi ini menciptakan kesenjangan antara kebutuhan konsumen dan solusi yang tersedia di pasar. Osterwalder dan Pigneur (2010) menjelaskan bahwa peluang bisnis yang kuat muncul ketika sebuah usaha mampu mengisi celah antara masalah konsumen dan solusi yang ada. Zula Kids berusaha mengisi celah tersebut dengan menawarkan produk yang mengutamakan kenyamanan, kualitas, dan harga yang tetap terjangkau.

Dalam praktiknya, problem–solution fit Zula Kids terlihat dari bagaimana brand ini merespons keluhan umum pasar. Orang tua menginginkan celana yang tidak panas, tidak kaku, tidak cepat robek, dan tetap terlihat rapi. Oleh karena itu, Zula Kids memilih bahan yang lebih lentur dan breathable, serta desain yang memungkinkan anak bergerak bebas. Ini bukan sekadar keputusan teknis, tetapi merupakan strategi nilai (value proposition) yang menjadi inti dari positioning merek. Konsumen tidak hanya membeli celana, tetapi membeli rasa aman bahwa anak mereka bisa bergerak dengan nyaman dan bebas.

Dalam membangun hubungan dengan pasar, Zula Kids memanfaatkan Instagram sebagai media utama untuk membentuk identitas merek dan Shopee sebagai sarana transaksi. Chaffey dan Ellis-Chadwick (2019) menjelaskan bahwa media sosial berperan sebagai alat untuk membangun kesadaran dan keterlibatan merek, sementara marketplace berfungsi sebagai platform konversi penjualan. Melalui Instagram, Zula Kids menampilkan foto dan video anak-anak yang mengenakan produk, cerita pelanggan, serta proses produksi, sehingga konsumen tidak hanya melihat produk, tetapi juga merasakan kedekatan emosional dengan brand. Pendekatan ini sejalan dengan konsep emotional branding yang dikemukakan oleh Gobé (2001), di mana merek yang mampu membangun hubungan emosional dengan konsumen akan lebih mudah menciptakan loyalitas jangka panjang.

Instagram berfungsi sebagai ruang narasi bagi Zula Kids. Di sana, produk tidak hanya dipresentasikan sebagai barang, tetapi sebagai bagian dari kehidupan keluarga. Konten seperti anak yang sedang bermain, tertawa, atau beraktivitas dengan celana Zula Kids membangun asosiasi bahwa merek ini adalah bagian dari momen kebahagiaan. Hal ini memperkuat brand attachment, yaitu keterikatan emosional konsumen terhadap merek, yang menurut Keller (2013) merupakan fondasi penting dalam membangun ekuitas merek jangka panjang.

Shopee, sebagai salah satu marketplace terbesar di Indonesia, berfungsi sebagai kanal utama untuk transaksi. Di platform ini, Zula Kids menyajikan informasi produk secara lengkap, mulai dari bahan, ukuran, hingga foto detail, sehingga mengurangi ketidakpastian konsumen. Ulasan dan penilaian dari pembeli berfungsi sebagai social proof yang sangat mempengaruhi keputusan pembelian. Menurut Solomon (2020), dalam perilaku konsumen modern, rekomendasi dan ulasan daring memiliki pengaruh yang sangat kuat dalam membentuk niat beli. Oleh karena itu, setiap ulasan positif menjadi aset penting dalam membangun reputasi Zula Kids.

Dalam konteks kepercayaan digital, Shopee bukan hanya toko, tetapi juga sistem legitimasi. Ketika Zula Kids mendapatkan rating tinggi dan ulasan positif, maka kredibilitas merek meningkat tanpa perlu iklan besar. Inilah bentuk digital trust yang sangat penting bagi brand kecil. Orang tua lebih berani membeli dari brand yang belum dikenal jika melihat bukti sosial dari pembeli lain. Dengan demikian, Shopee berfungsi sebagai alat pemasaran tidak langsung yang sangat kuat.

Model pendapatan Zula Kids berfokus pada penjualan langsung kepada konsumen melalui Shopee, baik dalam bentuk satuan maupun paket bundling yang memberikan nilai lebih bagi pelanggan. Pendekatan ini sesuai dengan konsep revenue stream dalam business model canvas yang menekankan pentingnya kejelasan sumber pendapatan dan kesesuaiannya dengan nilai yang ditawarkan kepada pelanggan. Seiring dengan bertambahnya pelanggan dan meningkatnya kepercayaan terhadap merek, Zula Kids memiliki peluang untuk mengembangkan monetisasi melalui kerja sama dengan reseller, kolaborasi dengan toko perlengkapan anak, serta pengembangan produk turunan.

Traction atau indikator penerimaan pasar pada tahap awal dapat dilihat dari pertumbuhan penjualan, jumlah pengikut Instagram, serta ulasan pelanggan di Shopee. Blank dan Dorf (2012) menyatakan bahwa data awal ini merupakan fondasi penting untuk menilai kesesuaian produk dengan pasar dan untuk merancang strategi pertumbuhan. Respon positif terhadap produk Zula Kids menunjukkan bahwa brand ini mulai mencapai problem–solution fit dan memiliki potensi untuk berkembang menjadi usaha yang lebih besar.

Selain aspek bisnis, Zula Kids juga memiliki nilai edukatif sebagai bentuk pembelajaran kewirausahaan berbasis pengalaman. Menurut Kolb (1984), pembelajaran yang paling efektif terjadi ketika individu terlibat langsung dalam pengalaman konkret. Melalui pengelolaan Zula Kids, mahasiswa tidak hanya mempelajari teori pemasaran dan kewirausahaan, tetapi juga mengalami langsung dinamika pasar, tantangan operasional, dan pentingnya hubungan dengan pelanggan. Dengan demikian, Zula Kids menjadi sarana pembelajaran yang relevan dengan tuntutan dunia kerja dan dunia usaha di era digital.

Kesimpulan

Zula Kids menunjukkan bahwa usaha mahasiswa di bidang fashion anak dapat dikembangkan secara serius dan terarah melalui pemanfaatan strategi pemasaran digital yang tepat. Dengan memadukan Instagram sebagai media pembentuk citra dan Shopee sebagai kanal penjualan, Zula Kids mampu menjangkau orang tua muda yang merupakan segmen pasar paling relevan dalam industri pakaian anak saat ini. Pendekatan ini memungkinkan brand untuk tidak hanya menjual produk, tetapi juga membangun kepercayaan, kedekatan emosional, dan loyalitas konsumen.

Ke depan, Zula Kids memiliki potensi besar untuk terus berkembang apabila mampu mempertahankan kualitas produk, konsistensi branding, dan adaptasi terhadap dinamika pasar digital. Sebagai bagian dari program INBISKOM dan P2MW, Zula Kids tidak hanya menjadi sarana mencari keuntungan, tetapi juga menjadi media pembelajaran kewirausahaan yang nyata, relevan, dan berkelanjutan dalam menghadapi tantangan ekonomi digital.


Referensi

Blank, S., & Dorf, B. (2012). The Startup Owner’s Manual. K&S Ranch.
Chaffey, D., & Ellis-Chadwick, F. (2019). Digital Marketing. Pearson.
Kotler, P., & Keller, K. L. (2016). Marketing Management. Pearson Education.
Osterwalder, A., & Pigneur, Y. (2010). Business Model Generation. Wiley.
Ries, E. (2011). The Lean Startup. Crown Business.
Solomon, M. R. (2020). Consumer Behavior: Buying, Having, and Being. Pearson.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. (2023). Panduan Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW).