Teman Aksara: Boardgame Edukatif Khusus Untuk Memudahkan Belajar Membaca Anak Disleksia

6–9 minutes

Kemampuan membaca merupakan keterampilan dasar yang memiliki peran sangat penting dalam perkembangan akademik dan sosial anak. Melalui kemampuan membaca, anak dapat memahami berbagai informasi, menyerap pengetahuan baru, serta mengikuti proses pembelajaran dengan lebih baik. Membaca juga membantu anak mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan berkomunikasi secara efektif. Anak yang memiliki kemampuan membaca yang baik umumnya lebih percaya diri dalam kegiatan belajar. Sebaliknya, anak yang mengalami kesulitan membaca sering menghadapi hambatan dalam memahami pelajaran lain. Kondisi ini dapat berdampak pada prestasi akademik dan hubungan sosial anak. Kemampuan membaca menjadi fondasi utama dalam pendidikan anak sejak usia dini. Sehingga anak diharuskan untuk bisa membaca agar menunjang berbagai kegiatan dan aktivitasnya dimasa depan.

Bagi anak yang mengalami kesusahan dalam belajar membaca atau disebut anak disleksia, proses belajar membaca sering kali menjadi tantangan yang cukup berat. Menurut Supena & Mu’awwanah, (2021) Anak disleksia mengalami kesulitan dalam mengenali huruf, membedakan bentuk huruf yang mirip, serta menyusun kata menjadi kalimat yang bermakna. Mereka juga kerap mengalami hambatan dalam menghubungkan bunyi dengan simbol huruf. Kesulitan ini bukan disebabkan oleh rendahnya tingkat kecerdasan anak. Perbedaan cara kerja otak dalam memproses bahasa menjadi faktor utama. Akibatnya, anak disleksia sering merasa tertinggal dibandingkan teman sebayanya. Jika tidak ditangani dengan tepat, kondisi ini dapat menurunkan motivasi belajar anak.

Disleksia masih sering disalahpahami oleh masyarakat sebagai bentuk ketidakmampuan belajar. Banyak anak disleksia yang dianggap malas, kurang fokus, atau tidak berusaha maksimal dalam belajar. Padahal semua hal yang terfikirkan tentnag anak disleksia itu salah dan sangat melenceng dari kenyataan yang ada. Pandangan tersebut tentu tidak tepat dan dapat berdampak negatif pada kondisi psikologis anak. Dalam penelitian Yuliana et al., (2024) menyatakan bahwa disleksia merupakan perbedaan neurologis yang memengaruhi cara seseorang memproses bahasa. Anak disleksia tetap memiliki potensi dan kemampuan yang dapat berkembang dengan baik. Mereka hanya membutuhkan pendekatan pembelajaran yang sesuai dan khusus. Pemahaman yang keliru justru dapat membuat anak kehilangan kepercayaan diri. Selain kehilangan kepercayaan diri anak juga bisa saja terkena kecemasan berlebih, merasa gagal dan lainnya.

Sistem pembelajaran konvensional yang banyak diterapkan di sekolah sering kali belum ramah bagi anak disleksia. Metode pembelajaran yang menekankan hafalan, membaca teks panjang, dan latihan tertulis dapat menimbulkan tekanan bagi anak. Anak disleksia sering merasa tertekan karena harus mengikuti standar pembelajaran yang sama dengan anak lain (Putri & Kurniawan, 2023). Kondisi ini membuat anak mudah merasa bosan dan cemas saat belajar membaca. Akhirnya hal itu sangat berdampak untuk mereka. Bahkan, tidak sedikit anak yang akhirnya menghindari aktivitas membaca. Maka, diperlukan inovasi pembelajaran yang lebih adaptif dan inklusif. Pendekatan yang menyenangkan menjadi kebutuhan penting bagi anak disleksia.

Banyak sekali pembelajaran yang bisa diberikan kepada anak – anak disleksia. Pendekatan belajar berbasis permainan menjadi salah satu solusi yang relevan untuk membantu anak disleksia. Bermain merupakan aktivitas alami anak yang mampu menciptakan suasana belajar yang santai dan menyenangkan. Melalui permainan, anak dapat belajar tanpa merasa terbebani oleh tuntutan akademik. Proses belajar menjadi lebih fleksibel dan minim tekanan, anak pun bisa belajar membaca lebih cepat. Anak dapat mencoba, melakukan kesalahan, dan belajar kembali tanpa rasa takut. Hal itu akan membuat anak mau mengulang terus menerus pembelajarannya, karena tidak merasa terbebani. Pendekatan ini memungkinkan anak belajar sesuai dengan ritme perkembangannya. Konsep belajar sambil bermain inilah yang melandasi hadirnya inovasi Teman Aksara.

Teman Aksara merupakan boardgame edukatif yang dirancang khusus untuk membantu anak disleksia belajar membaca. Boardgame ini menggabungkan unsur edukasi dan hiburan dalam satu media pembelajaran. Anak diajak mengenal huruf, kata, dan bunyi melalui aktivitas bermain yang interaktif dan menyenangkan. Proses belajar membaca tidak lagi terasa membosankan dan menegangkan, lebih santai dan seru. Anak dapat belajar secara aktif tanpa tekanan untuk selalu benar. Dengan pendekatan ini, anak lebih mudah menerima materi pembelajaran, ketimbang harus belajar membaca seperti pada umumnya. Teman Aksara menjadi sarana belajar yang ramah dan menyenangkan.

Dari segi desain, Teman Aksara dirancang dengan memperhatikan kebutuhan visual anak disleksia. Bentuk huruf dibuat sederhana, jelas, dan mudah dibedakan untuk mengurangi kebingungan dana juga tulisan yang acak. Pemilihan warna juga disesuaikan agar tidak terlalu mencolok dan mengganggu fokus anak, sehingga nyaman untuk dilihat berlama – lama. Ilustrasi yang digunakan berfungsi sebagai pendukung pemahaman materi dan juga hiburan untuk anak. Anak dapat mengaitkan huruf dan kata dengan objek yang familiar di sekitarnya. Desain visual yang tepat membantu anak lebih nyaman saat belajar. Hal ini menjadi keunggulan penting dari Teman Aksara.

Mekanisme permainan Teman Aksara dibuat sederhana dan mudah dipahami oleh anak. Aturan permainan tidak terlalu rumit sehingga anak dapat langsung bermain tanpa merasa kewalahan dan kebingungan. Kesederhanaan mekanisme memungkinkan anak fokus pada tujuan utama, yaitu belajar membaca sambil bermain. Permainan ini juga dapat disesuaikan dengan tingkat kemampuan anak, mulai dari yang benar – benar mudah sampai yang tingkatan selanjutnya . Orang tua dan guru dapat mengatur tingkat kesulitan sesuai perkembangan anak. Fleksibilitas ini membuat Teman Aksara dapat digunakan dalam jangka panjang dan dapat berulang. Anak dapat belajar secara bertahap dan berkelanjutan, tidak hanya dia disatu tingkatan saja.

Keunggulan lain dari Teman Aksara adalah kemampuannya mendorong interaksi sosial yang positif. Boardgame ini dapat dimainkan bersama orang tua, guru, maupun teman sebaya. Interaksi tersebut menciptakan suasana belajar yang hangat dan penuh dukungan. Anak merasa ditemani dalam proses belajarnya dan tidak merasa sendirian. Dukungan emosional ini sangat penting bagi anak disleksia. Anak menjadi lebih percaya diri dan termotivasi untuk terus belajar. Proses belajar membaca pun terasa lebih nyaman dan menyenangkan.

Dalam dunia pendidikan, Teman Aksara dapat menjadi media pembelajaran alternatif yang melengkapi metode konvensional. Boardgame ini dapat digunakan sebagai alat bantu pembelajaran di lingkungan sekolah mau pun dilingkungan rumah. Guru dapat memanfaatkannya untuk menciptakan suasana belajar yang lebih variatif. Di lingkungan rumah, orang tua juga dapat menggunakan Teman Aksara sebagai sarana belajar bersama anak. Pembelajaran tidak lagi terbatas pada buku dan latihan tertulis. Anak dapat belajar melalui pengalaman bermain yang bermakna. Hal ini membantu anak memahami konsep membaca secara lebih kontekstual.

Selain bermanfaat bagi anak, Teman Aksara juga berperan dalam meningkatkan kesadaran masyarakat tentang disleksia. Tidak seperti pemikiran kebanyakan masyarakat tentang anak disleksia. Inovasi ini menunjukkan bahwa anak disleksia membutuhkan pendekatan belajar yang berbeda. Boardgame edukatif menjadi media yang efektif untuk menyampaikan pesan inklusivitas. Masyarakat diajak memahami bahwa kesulitan membaca bukanlah tanda ketidakmampuan, tapi sesuatu hal yang membutuhkan proses. Anak disleksia memiliki potensi yang sama untuk berkembang seperti anak lainnya. Edukasi semacam ini penting untuk mengurangi stigma negatif masyarakat dan lingkungan sekitarnya. Lingkungan yang mendukung akan membantu anak tumbuh secara optimal dan berkembang dengan baik dan benar.

Dalam konteks Program Kreativitas Mahasiswa (PKM), Teman Aksara mencerminkan inovasi berbasis kepedulian sosial dan pendidikan. Ide ini lahir dari kepekaan terhadap permasalahan nyata di masyarakat akan anak – anak yang kesulitan dalam membaca dan memahami huruf. Boardgame sebagai media pembelajaran menunjukkan kreativitas dalam mengemas materi edukatif. Produk ini memiliki potensi pengembangan yang sangat luas dan terus bisa dikembangkan. Konten permainan dapat disesuaikan dengan berbagai tingkat kemampuan membaca anak. Dengan pengembangan berkelanjutan, Teman Aksara dapat menjangkau lebih banyak pengguna, khususnya untuk orang tua yang mempunyai anak disleksia. Tenaga pendidikan juga dapat menggunakan Teman Aksara untuk sarana belajar, bagi murid yang kesusahan memahami angka, hurus, kata, dan membaca. Inovasi ini sejalan dengan tujuan PKM untuk memberikan solusi nyata bagi anak yang susah memahami huruf, membaca, atau anak disleksia itu sendiri.

Pembelajaran melalui permainan menunjukkan bahwa proses belajar tidak harus selalu kaku dan menegangkan. Anak membutuhkan suasana belajar yang aman dan menyenangkan, dibalut dengan keceriaan dan keseruan dalam proses belajarnya. Ketika anak merasa nyaman, motivasi belajar akan tumbuh secara alami dan mendorong keinginan besar untuk terus belajar. Teman Aksara menghadirkan pendekatan belajar yang lebih humanis dan ramah anak. Kesalahan tidak dianggap sebagai kegagalan, melainkan bagian dari proses belajar untuk mencapai keberhasilan. Anak didorong untuk terus mencoba tanpa rasa takut. Pendekatan ini sangat sesuai bagi anak disleksia.

Teman Aksara merupakan inovasi edukatif yang layak diapresiasi dan dikembangkan lebih lanjut. Boardgame ini tidak hanya membantu anak disleksia belajar membaca dan memahami kata juga huruf. Lebih dari itu, Teman Aksara juga membantu membangun kepercayaan diri dan minat belajar anak – anak disleksia. Dengan dukungan orang tua, guru, dan lingkungan sekitar, media ini dapat digunakan secara optimal. Inovasi ini membuktikan bahwa solusi pendidikan dapat hadir melalui pendekatan kreatif dan empatik. Harapannya, Teman Aksara dapat memberikan kontribusi nyata bagi dunia pendidikan inklusif. Anak disleksia pun memiliki kesempatan belajar yang setara dengan anak lainnya. Tidak ada pembeda untuk anak disleksia dalam hal belajar. Dikarenakan semua anak memiliki hal untuk belajar tanpa harus dibedakan.

Daftar Pustaka

Putri, W., & Kurniawan, M. A. (2023). UPAYA GURU DALAM MENANGANI ANAK DISLEKSIA DI SD INTIS SCHOOL YOGYAKARTA. Islamic Scientific Journal, 6(1), 74–84. https://doi.org/https://doi.org/10.51192/almubin.v6i01.490

Supena, A., & Mu’awwanah, U. (2021). Penggunaan Kartu Huruf Sebagai Media Pembelajaran Membaca Anak Disleksia. Aulad : Journal on Early Childhood, 4(2), 1–5. https://doi.org/10.31004/aulad.v4i2.120

Yuliana, D., Azizah, P., Lathifah, S., & Maret, U. S. (2024). Peran Guru dalam Meningkatkan Keterampilan Membaca Anak Disleksia. Jurnal Wahana Karya Ilmiah Pendidikan, 8(01), 26–36. https://doi.org/10.35706/wkip.v8i01.11578