Mengapa “Lemon” Berbeda dari Lagu Pop pada Umumnya?
“Lemon” adalah single dari penyanyi-penulis lagu Jepang Kenshi Yonezu, dirilis pada 14 Maret 2018 dan menjadi bagian dari album Stray Sheep. Lagu ini bukan sekadar lagu pop biasa: ia menjelma menjadi anthem emosional yang menghubungkan jutaan pendengar di seluruh dunia melalui tema universal kehilangan, memori, dan penerimaan diri. “Lemon” menjadi lagu tema drama Jepang Unnatural, yang berkisah tentang penyelidikan kematian tak wajar, menghadirkan hubungan simbolis antara musik dan narasi kematian itu sendiri.
Dalam artikel ini, kita akan mengeksplorasi bagaimana “lemon” berfungsi sebagai metafora duka, bagaimana struktur naratif lagu ini merefleksikan psikologi kehilangan, serta bagaimana hal tersebut beresonansi secara personal maupun universal.
Musik kerap menjadi medium paling jujur dalam mengekspresikan emosi manusia yang sulit diucapkan melalui kata-kata biasa. Dalam konteks budaya populer Jepang kontemporer, Kenshi Yonezu muncul sebagai salah satu figur sentral yang berhasil memadukan lirik puitis, simbolisme kuat, dan kedalaman psikologis dalam karya-karyanya. Salah satu lagu yang paling banyak dibicarakan dan dianalisis adalah “Lemon” (2018), sebuah lagu yang tidak hanya sukses secara komersial, tetapi juga meninggalkan resonansi emosional yang mendalam bagi pendengarnya.
Secara sepintas, “Lemon” terdengar seperti lagu tentang kehilangan orang yang dicintai. Namun, di balik melodi yang lembut dan aransemen yang sederhana, tersimpan lapisan makna yang kompleks mengenai duka (grief), ingatan, dan ketidakmampuan manusia untuk sepenuhnya melepaskan masa lalu. Lagu ini menjadi menarik untuk dikaji karena tidak menyajikan duka secara eksplisit, melainkan melalui metafora yang subtil namun konsisten, yaitu Lemon buah dengan rasa asam yang tajam, segar, namun menyisakan sensasi getir.
Artikel ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana Kenshi Yonezu menggunakan narasi dan simbolisme dalam lirik “Lemon” sebagai representasi duka, serta bagaimana aspek psikologis kehilangan direfleksikan melalui struktur naratif, pilihan diksi, dan sudut pandang lirik.
Konteks Penciptaan Lagu “Lemon”
“Lemon” dirilis sebagai lagu tema drama Jepang Unnatural, yang berfokus pada kematian-kematian tidak wajar dan proses penyelidikan forensik. Konteks ini penting karena sejak awal lagu tersebut memang ditempatkan dalam ruang naratif yang dekat dengan kematian, kehilangan, dan trauma. Namun, alih-alih menggambarkan kematian secara literal, Yonezu memilih pendekatan personal dan introspektif.
Dalam beberapa wawancara, Kenshi Yonezu mengungkapkan bahwa “Lemon” terinspirasi dari pengalaman pribadinya menghadapi kehilangan orang terdekat. Hal ini membuat lagu tersebut tidak sekadar menjadi soundtrack visual, tetapi juga ekspresi emosional yang autentik. Kejujuran inilah yang membuat “Lemon” terasa universal—pendengar tidak perlu mengalami konteks yang sama untuk merasakan kesedihan yang disampaikan.
Lemon sebagai Metafora Sentral
Secara simbolik, lemon bukanlah representasi kebahagiaan. Rasa asamnya sering diasosiasikan dengan pengalaman yang tidak menyenangkan, kejutan pahit, atau sesuatu yang sulit diterima. Dalam lagu ini, lemon menjadi metafora bagi ingatan tentang orang yang telah pergi ingatan yang tetap segar, kuat, namun menyakitkan ketika dikenang.
Baris lirik yang menyebutkan bahwa rasa lemon “masih tersisa” menggambarkan bagaimana kenangan tentang kehilangan tidak pernah benar-benar menghilang. Secara psikologis, ini selaras dengan konsep persistent grief, yaitu kondisi di mana individu tidak sepenuhnya “sembuh” dari kehilangan, melainkan belajar hidup berdampingan dengan rasa sakit tersebut. Pengulangan frasa tertentu dalam lirik juga berfungsi sebagai refleksi psikologis dari pikiran yang terus berputar pada satu titik: kehilangan. Secara naratif, pengulangan ini menunjukkan stagnasi emosional sebuah kondisi di mana individu sulit bergerak maju karena terus kembali pada memori yang sama.
Lemon juga memiliki dua sisi: menyegarkan dan menyakitkan. Dualitas ini mencerminkan sifat ingatan itu sendiri. Kenangan tentang orang yang dicintai bisa menghadirkan kehangatan dan kebahagiaan, namun sekaligus menimbulkan rasa sesak karena kesadaran bahwa momen tersebut tidak akan terulang. Yonezu dengan cermat menggunakan simbol ini untuk menggambarkan ambivalensi emosional dalam duka.
Analisis Naratif: Duka sebagai Cerita yang Terfragmentasi
Dari sisi naratif, “Lemon” tidak disusun sebagai cerita linear dengan awal, tengah, dan akhir yang jelas. Sebaliknya, lagu ini terasa seperti kumpulan fragmen ingatan—potongan emosi, kenangan, dan refleksi yang muncul secara tidak beraturan. Struktur ini mencerminkan cara kerja ingatan manusia ketika berhadapan dengan trauma dan kehilangan.
Dalam psikologi naratif, duka sering kali memecah kontinuitas cerita hidup seseorang. Kehilangan besar dapat menciptakan “retakan” dalam narasi diri, di mana masa lalu terasa terlalu hidup sementara masa depan tampak kosong atau kabur. Hal ini tercermin dalam lirik “Lemon” yang bolak-balik antara masa lalu dan masa kini, tanpa resolusi yang benar-benar tuntas.
Sudut pandang lirik menggunakan orang pertama, yang menciptakan kesan pengakuan personal. Pendengar seolah diajak masuk ke dalam ruang batin narator, menyaksikan proses internalisasi duka tanpa filter. Tidak ada upaya untuk “menyemangati diri” atau menawarkan harapan klise; yang ada hanyalah penerimaan akan rasa sakit yang terus ada.
Dimensi Psikologis: Representasi Proses Berduka
Dalam teori psikologi, khususnya model Five Stages of Grief yang diperkenalkan oleh Elisabeth Kübler-Ross, duka terdiri dari penyangkalan, kemarahan, tawar-menawar, depresi, dan penerimaan. Menariknya, “Lemon” tidak merepresentasikan tahapan-tahapan ini secara eksplisit, melainkan menunjukkan kondisi di mana penerimaan belum sepenuhnya tercapai.
Lirik-liriknya memperlihatkan adanya kesadaran bahwa orang yang dicintai telah pergi, namun secara emosional, narator masih terikat pada kehadiran mereka. Ini menunjukkan fase duka yang lebih kompleks, di mana individu tidak lagi menyangkal kehilangan, tetapi juga belum mampu melepaskannya. Kondisi ini sering disebut sebagai ambiguous loss, yaitu kehilangan yang secara fisik jelas, tetapi secara emosional tetap “hadir”.
Penggunaan bahasa yang lembut dan tidak agresif juga penting secara psikologis. Tidak ada luapan amarah atau keputusasaan ekstrem yang ada adalah kesedihan yang tenang, nyaris pasrah. Hal ini mencerminkan bentuk duka yang matang, di mana rasa sakit tidak lagi diekspresikan secara eksplosif, melainkan diinternalisasi.
Relevansi Sosial dan Budaya: “Lemon” dalam Konteks Masyarakat Jepang
Dalam budaya Jepang, ekspresi emosi secara langsung sering kali ditekan oleh norma sosial yang menekankan ketenangan dan pengendalian diri (gaman). Oleh karena itu, karya seni—termasuk musik—menjadi saluran penting untuk mengekspresikan perasaan yang sulit diungkapkan secara verbal.
“Lemon” berfungsi sebagai medium katarsis kolektif. Lagu ini memungkinkan pendengarnya merasakan kesedihan tanpa harus menjelaskannya. Tidak ada narasi dramatis atau ledakan emosi; semuanya disampaikan dengan tenang dan tertahan, sesuai dengan sensibilitas budaya Jepang.
Dalam konteks ini, kesuksesan “Lemon” tidak hanya bersifat musikal, tetapi juga sosiologis. Lagu ini mencerminkan kebutuhan emosional masyarakat modern yang hidup di tengah tekanan, kehilangan, dan keterasingan, namun tetap mencari makna melalui ingatan.
Reaksi Publik dan Dampak Budaya “Lemon”
Lemon menjadi salah satu lagu paling populer di Jepang dan internasional:
Menempati puncak Oricon Singles Chart selama beberapa minggu. Memenangi penghargaan tema lagu terbaik. Video musiknya mengumpulkan hampir miliar view di YouTube dan jutaan streaming di platform musik digital. Reaksi pendengar di media sosial menunjukkan bahwa lagu ini lebih dari sekadar hit komersial ia telah menjadi bagian dari pengalaman emosional kolektif. Banyak yang mengatakan lagu ini membantu mereka “menemukan kata untuk perasaan yang sulit dijelaskan” setelah kehilangan orang penting dalam hidup mereka.
Musik sebagai Penguat Makna Lirik
Walaupun fokus utama artikel ini adalah lirik, aspek musikal tidak dapat diabaikan. Melodi “Lemon” bergerak dalam tempo sedang dengan progresi akor minor yang mendominasi. Pilihan ini memperkuat nuansa melankolis tanpa membuatnya terdengar terlalu gelap.
Instrumen piano yang lembut dan penggunaan string secara minimalis menciptakan ruang emosional yang luas, memungkinkan lirik untuk “bernapas”. Dalam konteks psikologis, musik ini berfungsi sebagai wadah afektif—ia tidak memaksa pendengar untuk menangis, tetapi membuka kemungkinan bagi refleksi personal.
Keterpaduan antara lirik dan musik membuat “Lemon” menjadi pengalaman emosional yang utuh. Duka tidak hanya diceritakan, tetapi juga dirasakan.
Contoh Analisis Lirik Kunci “Lemon”
Berikut adalah beberapa baris lirik yang paling sering dibahas dan interpretasi maknanya:
Lirik (Romaji/Jepang)
Terjemahan Interpretasi
夢ならばどれほどよかったでしょう
“Jika ini hanyalah mimpi…”
Penolakan terhadap kenyataan kehilangan.
Japan Lyric Room
胸に残り離れない苦いレモンの匂い
“Aroma pahit lemon yang tak terhapus dari hatiku”
Kenangan mengikat dan tak hilang.
Widyatama Journal
今でもあなたはわたしの光
“Bahkan sekarang, kau adalah cahayaku”
Menerima kehadiran dalam bentuk kenangan inspiratif.
Animenbo
“Lemon” sebagai Cermin Pengalaman Kolektif
Salah satu alasan mengapa “Lemon” begitu populer adalah kemampuannya merepresentasikan pengalaman duka secara universal. Lagu ini tidak terikat pada satu jenis kehilangan tertentu bisa tentang kematian, perpisahan, atau kehilangan versi diri yang lama. Ambiguitas ini justru menjadi kekuatan utama lagu tersebut.
Dalam masyarakat Jepang yang cenderung menahan ekspresi emosional secara terbuka, “Lemon” menyediakan ruang aman untuk merasakan kesedihan tanpa harus mengartikulasikannya secara verbal. Lagu ini menjadi semacam ritual emosional, tempat pendengar dapat memproses duka mereka sendiri.
Kesimpulan: Lemon Sebagai Cerita Duka yang Indah dan Universal
Lemon karya Kenshi Yonezu tidak hanya sekadar lagu ia adalah narasi emosional tentang kehilangan, memori, dan penerimaan diri yang dibungkus dalam metafora yang kuat dan puitis. Dengan menggunakan buah lemon sebagai simbol dualitas emosi (pahit sekaligus menyegarkan), Yonezu menciptakan sebuah karya yang mampu menyentuh banyak orang di berbagai latar belakang budaya dan pengalaman hidup.
Animenbo Metafora dalam lagu ini menghasilkan narasi yang tidak hanya estetis tetapi juga psikologis memberikan kata, struktur, bahkan harapan kepada mereka yang tengah berduka. Sebagai sebuah karya musikal, “Lemon” membuktikan bahwa seni memiliki kekuatan untuk menjembatani rasa individu dan kolektif, mengubah kesedihan menjadi sesuatu yang terasa bermakna dan abadi.
Pada akhirnya, “Lemon” mengajarkan bahwa meskipun rasa asam dari kehilangan tidak pernah benar-benar hilang, justru dari sanalah manusia belajar tentang cinta, ingatan, dan keberlanjutan hidup.
Referensi
- Kübler-Ross, E. (1969). On Death and Dying. Routledge.
- Yonezu, K. (2018). Lemon [Lagu]. Sony Music Japan.
- Neimeyer, R. A. (2001). Meaning Reconstruction & the Experience of Loss. American Psychological Association.
- Sugimoto, Y. (2010). An Introduction to Japanese Society. Cambridge University Press.
- Japan Lyric Room — analisis budaya bahasa Jepang dalam lirik.
- SongMeaningsAndFacts — eksplorasi narasi dan metafor memori.
- The Hidden Meaning Behind Kenshi Yonezu’s ‘Lemon’ Lyrics — insight kreatif dan simbolisme emosional.