Perkembangan teknologi digital membawa perubahan besar dalam cara produk dipasarkan, termasuk di lingkungan mahasiswa. Media sosial yang pada awalnya hanya dimanfaatkan sebagai ruang berkomunikasi dan mengekspresikan diri, kini bertransformasi menjadi sarana pemasaran yang dinilai efektif serta mudah digunakan. Perubahan ini membuka peluang baru bagi mahasiswa untuk memanfaatkan platform digital dalam memperkenalkan produk atau jasa yang mereka kembangkan.
Hampir setiap mahasiswa memiliki akun media sosial pribadi, seperti Instagram, TikTok, maupun WhatsApp, yang digunakan secara aktif dalam kehidupan sehari-hari. Kondisi tersebut menunjukkan adanya potensi besar yang sering kali belum dimanfaatkan secara optimal sebagai media promosi. Melalui akun pribadi, mahasiswa sebenarnya memiliki akses langsung ke jaringan pertemanan yang luas dan beragam, sehingga dapat menjadi kanal awal yang strategis dalam membangun eksposur dan memperkenalkan brand secara lebih dekat dan personal.
Dalam praktik kewirausahaan mahasiswa, keterbatasan modal dan sumber daya kerap menjadi kendala utama dalam kegiatan pemasaran produk. Situasi ini mendorong mahasiswa untuk berpikir lebih kreatif dan adaptif dalam memanfaatkan aset yang sudah mereka miliki. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah mengoptimalkan penggunaan media sosial pribadi sebagai sarana pendukung promosi.
Pendekatan tersebut dinilai cukup efektif karena tidak membutuhkan biaya besar, namun tetap mampu menjangkau audiens secara luas. Selain itu, media sosial pribadi memungkinkan terbangunnya hubungan yang lebih dekat dan personal dengan audiens, yang sebagian besar berasal dari lingkungan pertemanan maupun komunitas kampus. Kedekatan ini berpotensi menumbuhkan rasa percaya, sehingga pesan promosi yang disampaikan dapat diterima dengan lebih baik dan natural.
Dalam praktik pemasaran digital, media sosial pribadi dan akun official bisnis memiliki peran yang berbeda, tetapi saling melengkapi satu sama lain. Akun official bisnis berfungsi sebagai pusat informasi brand, tempat seluruh identitas visual, penjelasan produk, daftar harga, hingga informasi transaksi disajikan secara jelas, rapi, dan formal. Melalui akun ini, brand dibangun secara profesional agar mudah dikenali dan dipercaya oleh calon konsumen.
Di sisi lain, media sosial pribadi mahasiswa dapat dimanfaatkan sebagai saluran komunikasi tambahan yang sifatnya lebih personal dan cair. Akun pribadi memungkinkan penyampaian pesan brand melalui pendekatan yang lebih santai, berbasis pengalaman, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari audiens. Dengan memadukan peran keduanya, komunikasi brand tidak hanya terlihat profesional melalui akun official, tetapi juga terasa lebih humanis dan relevan melalui akun pribadi.
Keunggulan utama media sosial pribadi terletak pada hubungan sosial yang telah terbentuk sebelumnya. Pengikut akun pribadi seseorang umumnya berasal dari lingkungan pertemanan, komunitas dan relasi sehari-hari yang memiliki tingkat kedekatan emosional lebih tinggi. Kondisi ini membuat pesan promosi yang disampaikan melalui akun pribadi cenderung diterima sebagai rekomendasi personal, bukan sekadar konten iklan.
Dalam praktiknya, media sosial pribadi tidak berfungsi untuk menggantikan peran akun official bisnis, melainkan memperluas jangkauan dan memperkuat persepsi brand. Ketika mahasiswa membagikan konten dari akun official melalui akun pribadinya—baik dalam bentuk repost, cerita pengalaman, maupun ulasan singkat—brand akan lebih sering muncul di linimasa audiens secara organik. Hal ini membantu meningkatkan visibilitas akun official tanpa harus mengandalkan promosi berbayar.
Selain itu, penggunaan media sosial pribadi sebagai perpanjangan akun bisnis juga memungkinkan brand tampil lebih manusiawi. Konten yang dikemas melalui sudut pandang personal, seperti proses produksi, keseharian pelaku usaha, atau cerita di balik produk, dapat memperkuat citra brand yang autentik dan mudah dipercaya. Bagi mahasiswa yang sedang merintis usaha, strategi ini menjadi solusi yang relevan untuk mengatasi keterbatasan modal pemasaran. Media sosial pribadi dapat dimanfaatkan sebagai kanal distribusi awal untuk mengarahkan audiens ke akun official bisnis. Dengan pengelolaan yang konsisten dan terencana, peran media sosial pribadi sebagai perpanjangan media sosial official bisnis dapat mendukung peningkatan brand awareness, engagement, serta kepercayaan konsumen terhadap produk yang ditawarkan.
Strategi Sinkronisasi Konten antara Media Sosial Pribadi dan Akun Bisnis
Sinkronisasi konten perlu dilakukan agar pesan brand tetap utuh meskipun disampaikan melalui saluran yang berbeda. Konten di akun pribadi sebaiknya berjalan searah dengan cerita dan nilai yang dibangun di akun official bisnis, sehingga citra brand yang diterima audiens tetap konsisten. Dengan pendekatan ini, akun pribadi tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi perpanjangan komunikasi dari brand. Agar perannya benar-benar efektif, diperlukan pengaturan konten yang tepat. Alih-alih menampilkan promosi secara langsung, konten di akun pribadi lebih baik disajikan dalam bentuk cerita, pengalaman, atau aktivitas sehari-hari yang relevan dengan target pasar, sehingga promosi terasa lebih wajar dan tidak memaksa.keseharian target marketing.
Beberapa jenis konten yang dinilai cukup efektif untuk dibagikan melalui media sosial pribadi antara lain membagikan ulang unggahan dari akun official bisnis, menampilkan cerita di balik proses produksi, hingga membagikan pengalaman pribadi saat menggunakan produk yang ditawarkan. Testimoni ringan yang disampaikan secara santai juga dapat menjadi pilihan, karena tidak terkesan sebagai promosi langsung. Pola konten seperti ini membantu membangun kesan bahwa produk yang dipasarkan memang hadir dan digunakan dalam keseharian pembuatnya, sehingga terasa lebih dekat, jujur, dan mudah dipercaya oleh audiens.
Di sisi lain, pengembangan konten juga dapat dilakukan dengan menampilkan hobi atau aktivitas personal yang memiliki keterkaitan dengan produk atau jasa yang dijalankan. Misalnya, mahasiswa desain dapat membagikan aktivitas menggambar atau proses eksplorasi visual, pelaku usaha kuliner dapat menampilkan kegiatan memasak atau uji resep, sementara penyedia jasa visual dapat membagikan aktivitas fotografi atau proses pengambilan gambar. Pendekatan ini tidak hanya memperkaya variasi konten, tetapi juga memperkuat identitas personal sekaligus brand, karena audiens dapat melihat keterkaitan langsung antara minat, kemampuan, dan produk yang ditawarkan.Top of FormBottom of Form
Ketika hobi tersebut ditampilkan secara konsisten di media sosial pribadi, audiens yang memiliki minat serupa akan lebih mudah terhubung dan menunjukkan ketertarikan. Dari interaksi tersebut, promosi produk dapat dilakukan secara natural karena berangkat dari kesamaan minat, bukan sekadar dorongan penjualan, sehingga memperkuat keterlibatan audiens dan kepercayaan terhadap brand.
Selain itu, pemanfaatan fitur media sosial seperti mention, tag, maupun tautan menuju akun official bisnis perlu digunakan secara optimal. Melalui fitur tersebut, audiens yang merasa tertarik dapat dengan mudah diarahkan untuk mengunjungi akun bisnis dan memperoleh informasi yang lebih lengkap mengenai produk atau layanan yang ditawarkan. Alur ini membantu memperpendek jarak antara ketertarikan awal dan keputusan untuk mengenal brand lebih jauh.
Meski demikian, intensitas promosi tetap harus dikendalikan dengan baik. Terlalu sering menampilkan konten promosi di akun pribadi berpotensi menimbulkan kesan memaksa dan mengurangi kenyamanan pengikut. Oleh karena itu, keseimbangan antara konten personal dan konten pendukung bisnis perlu dijaga agar akun pribadi tetap terasa natural, sementara fungsi promosi dapat berjalan secara efektif.
Dampak Optimalisasi Media Sosial Pribadi terhadap Brand Awareness dan Penjualan
Optimalisasi media sosial pribadi yang dilakukan secara rutin dan terarah mampu memberikan pengaruh nyata terhadap pertumbuhan akun resmi bisnis mahasiswa. Melalui aktivitas ini, kesadaran merek dapat meningkat secara alami karena konten tersebar lewat jejaring pertemanan yang sudah terbentuk, sehingga jangkauannya terasa lebih dekat dan personal.
Selain itu, rekomendasi yang dibagikan melalui akun pribadi umumnya dinilai lebih jujur dan meyakinkan oleh audiens karena berasal dari pengalaman langsung, bukan sekadar promosi formal. Hal ini membuat pesan yang disampaikan terasa lebih autentik dan mampu memengaruhi minat beli secara lebih efektif. Kepercayaan yang terbangun tersebut menjadi aset penting bagi bisnis mahasiswa yang masih berada pada tahap awal pengembangan brand, di mana reputasi dan kredibilitas belum sepenuhnya terbentuk.
Peningkatan brand awareness melalui media sosial pribadi terjadi karena eksposur yang berulang dan kontekstual. Ketika audiens sering melihat produk muncul dalam aktivitas keseharian pemilik akun—misalnya melalui unggahan story, reels, atau feed yang natural—merek akan lebih mudah diingat dan masuk ke dalam alternatif pilihan saat audiens memiliki kebutuhan tertentu. Kondisi ini sejalan dengan konsep brand awareness menurut Aaker (2013) yang menekankan kemampuan konsumen untuk mengenali dan mengingat merek hingga menjadi top of mind.
Dari sisi penjualan, optimalisasi media sosial pribadi berdampak pada meningkatnya willingness to buy melalui dua jalur. Pertama, secara langsung, yaitu ketika audiens merasa yakin terhadap produk karena rekomendasi datang dari individu yang mereka kenal atau ikuti. Kedua, secara tidak langsung melalui brand awareness, di mana kesadaran merek yang kuat memperbesar kemungkinan terjadinya keputusan pembelian. Brand awareness memiliki pengaruh signifikan terhadap willingness to buy, serta memediasi pengaruh social media marketing terhadap keinginan membeli.
Di sisi lain, aktivitas dan interaksi yang terjadi di akun pribadi juga dapat memberikan dampak lanjutan terhadap akun official bisnis, seperti meningkatnya engagement yang ditandai dengan pertambahan pengikut, jumlah likes, komentar, hingga pesan masuk yang menunjukkan ketertarikan audiens terhadap produk atau jasa yang ditawarkan.
Dalam jangka panjang, penerapan strategi ini tidak hanya berkontribusi pada peningkatan penjualan, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran langsung bagi mahasiswa dalam memahami praktik digital marketing secara nyata. Melalui pengalaman tersebut, mahasiswa dapat mengasah kemampuan analisis, kreativitas, serta pemahaman terhadap perilaku audiens di media sosial. Hal ini sejalan dengan tujuan pengembangan kewirausahaan mahasiswa, termasuk dalam program-program seperti Inbiskom, yang mendorong pemanfaatan strategi pemasaran digital secara kreatif, adaptif, dan berkelanjutan sebagai bekal dalam membangun bisnis di era digital.
Dengan demikian, media sosial pribadi mahasiswa tidak hanya berfungsi sebagai ruang ekspresi diri, tetapi juga dapat dioptimalkan sebagai alat pemasaran yang efektif. Ketika dikelola secara strategis dan konsisten, media sosial pribadi mampu memperkuat brand awareness produk secara organik dan berkelanjutan, sekaligus mendorong peningkatan penjualan tanpa harus bergantung sepenuhnya pada akun official bisnis. Pendekatan ini sangat relevan bagi mahasiswa dan pelaku UMKM yang memiliki keterbatasan sumber daya, namun ingin membangun merek yang dekat dengan audiensnya.
Fadilla, A. and Othman, L. (2024) “Dampak Social Media Marketing Terhadap Brand Awareness dan Willingness to Buy Pada E-Commerce Tokopedia di Kalangan Mahasiswa Universitas Riau,” eCo-Buss, 7(2), pp. 856–869. Available at: https://doi.org/10.32877/eb.v7i2.1441.
Ulum, W. (2025) Pengaruh Media Sosial dalam Membangun Personal Branding, Universitas STEKOM. Available at: https://stekom.ac.id/artikel/pengaruh-media-sosial-dalam-membangun-personal-branding.