Bukan Sekadar Rasa Enak: “Mengapa Branding Adalah Penentu Nasib Bisnis Kuliner di Era Digital.”
Abstrak: Banyak yang mikir kalau mau sukses bisnis kuliner, yang penting makanannya enak. Padahal, di zaman serba digital ini, rasa enak aja nggak cukup buat bikin orang mau antri. kali ini bakal ngebahas kenapa banyak warung makan enak tapi sepi, sementara restoran yang rasanya “biasa aja” malah viral dan rame banget. Kali ini bakal bongkar rahasia di balik Branding. Ternyata, orang zaman sekarang itu “makan pakai mata” dulu lewat HP sebelum beneran datang ke lokasi. Kita bakal bahas gimana cara bikin brand yang punya ciri khas, cara cerita (storytelling) yang bikin orang penasaran, sampai pentingnya konsistensi supaya pelanggan nggak kabur. Tujuannya simpel supaya kamu nggak cuma jadi tukang masak di dapur, tapi jadi pemilik bisnis yang punya merek kuat. Jadi kesimpulannya, kalau mau bisnis kulinermu bertahan lama dan nggak cuma musiman, kamu harus pinter-pinter ngelola persepsi orang, bukan cuma ngurusin resep masakan.
Kata Kunci: Branding, Bisnis Kuliner, Jualan Online, Pelanggan Setia, Strategi Simpel.
Pendahuluan: Pernah nggak sih kamu mampir ke sebuah restoran yang rame banget sampai antriannya mengular ke jalan, tapi pas makanannya datang, rasanya ya… “oke aja”, nggak yang spesial banget? Terus di sisi lain, kamu tahu ada warung di gang sempit yang rasanya juara dunia, tapi malah sepi kayak kuburan. Aneh, kan? Tapi itulah kenyataan pahit di dunia bisnis kuliner zaman sekarang. Dulu, punya resep rahasia dari nenek mungkin sudah cukup buat bikin bisnis laku. Tapi sekarang, di era semua orang pegang HP, aturan mainnya sudah berubah total. Kamu nggak cuma saingan sama warung sebelah, tapi saingan sama ribuan konten makanan di Instagram dan TikTok yang tampilannya cukup menggoda banget. Masalahnya, banyak pemilik bisnis kuliner yang terlalu fokus di dapur sampai lupa satu hal penting yaitu Branding.Branding adalah berbagai kegiatan yang bertujuan untuk membangun dan membesarkan identitas sebuah brand/merek dengan cakupan yang sangat luas, meliputi nama dagang, logo, karakter, dan persepsi konsumen akan brand tersebut. (Sulistio, 2021). Mereka lupa kalau sebelum lidah merasakan bumbu, mata dan perasaan pelangganlah yang lebih dulu bekerja. Disini kita bakal kupas santai kenapa branding itu bukan cuma soal logo, atau warna baju karyawan, tapi soal gimana cara kamu “menjual perasaan” ke pelanggan. Kita bakal bahas kenapa branding yang kuat bisa bikin bisnismu tetap dicari orang, meskipun banyak saingan yang jual makanan sejenis. Yuk, kita bongkar rahasianya!
Merek (brand) maka akan menunjukkan image, nama dan kualitas produk, cara perusahaan menjalankan bisnis, dan bagaimana perusahaan meyakinkan konsumennya. Suatu produk dapat dengan mudah dikenali oleh banyak orang dengan adanya merek (brand). (Debi Eka Putri, Acai Sudirman, Asep Dadan Suganda, Riana Dewi Kartika, Erni Martini, Heni Susilowati, Bambang, Arlin Ferlina Mochamad Trenggana, Rizka Zulfikar, Tati Handayani, Gusti Putu Eka Kusuma, Diana Triwardhani, Neneng Kartika Rini, Widya Nur Bhakti Pertiwi, Astil Harli Roslan, 2027:8). Kata “merek” atau “brand” baru dimasukkan dalam kamus bahasa Inggris pada tahun 1552. Merek adalah simbol, nama, desain atau kombinasi dari elemen-elemen tersebut yang digunakan untuk mengidentifikasi produk atau layanan tertentu dari perusahaan dan membedakannya dari produk atau layanan pesaing (Kotler dan Keller. 2016).
Branding Adalah “Nyawa” Dibalik Bisnis Kuliner
kita harus sadar kalau di zaman sekarang, orang “makan” pakai mata dulu sebelum benar-benar mencicipi pakai lidah. Coba bayangkan calon pelangganmu lagi asik scrolling di media sosial dan tiba-tiba melihat foto makananmu. Kalau visual yang kamu tampilkan menarik, estetik, dan kelihatan profesional, mereka bakal langsung tergoda untuk mencari tahu lebih lanjut. Inilah pentingnya branding visual. Branding itu seperti “undangan” yang kamu sebar; kalau undangannya saja sudah kusam dan tidak jelas, orang bakal ragu untuk datang, meskipun rasa masakanmu sebenarnya juara dunia. Jadi, investasi pada foto produk yang bagus dan tampilan media sosial yang rapi bukan lagi pilihan, tapi kewajiban kalau ingin bisnismu dilirik.
Branding adalah cara paling ampuh supaya kamu nggak terjebak dalam “perang harga”. Kalau cuma jualan “ayam geprek” tanpa ada merek atau nilai lebih, orang pasti bakal cari yang harganya paling murah. Tapi, kalau kamu punya branding yang kuat misalnya dikenal sebagai “Ayam Geprek Sambal Korek Paling Pedas sekota” orang nggak akan keberatan bayar sedikit lebih mahal. Branding menciptakan identitas unik yang bikin kamu beda dari ribuan penjual lainnya. Dengan branding, kamu nggak lagi menjual sekadar komoditas, tapi menjual sebuah pengalaman dan nilai yang bikin orang merasa rugi kalau nggak beli di tempatmu.
Hal lain yang sering dilupakan adalah kekuatan cerita atau storytelling. Rasa enak itu relatif dan bisa ditiru siapa saja, tapi cerita di balik bisnismu nggak akan pernah bisa dicuri. Pelanggan zaman sekarang lebih suka punya ikatan emosional dengan apa yang mereka beli. Coba ceritakan kenapa kamu memilih bahan-bahan lokal, atau gimana perjuanganmu menemukan resep tersebut setelah puluhan kali gagal. Cerita yang tulus lewat branding bakal bikin pelanggan merasa dekat dan lebih dihargai. Inilah yang mengubah pelanggan “sekali beli” menjadi pelanggan setia yang bakal mempromosikan tokomu secara sukarela ke teman-temannya. Branding adalah soal membangun kepercayaan lewat konsistensi. Konsistensi itu nggak cuma soal rasa masakan yang harus selalu sama, tapi juga soal bagaimana caramu menyapa pelanggan di WhatsApp, kebersihan kemasan, sampai keseragaman logo di semua platform. Bayangkan kalau pelanggan merasa dilayani dengan sangat ramah hari ini, tapi besoknya malah dicuekin pasti mereka bingung dan malas kembali. Dengan branding yang rapi dan konsisten, pelanggan bakal merasa kalau bisnis kuliner yang kamu jalankan itu profesional dan bisa diandalkan. Kepercayaan itulah yang akhirnya bikin bisnis kulinermu punya umur panjang dan nggak cuma jadi tren musiman yang sebentar lagi hilang.
Langkah demi langkah untuk membangun branding kuliner dari awal
1. Tentukan “Siapa” Anda (Brand Identity)
Sebelum mendesain logo, Anda harus tahu kepribadian bisnis Anda. seperti apa?
- Target Pasar: Siapa yang makan produk Anda? Mahasiswa yang cari harga murah, atau orang kantoran yang butuh makanan sehat?
- Value Proposition: Apa satu hal yang membuat Anda beda? (Misal: “Sambal paling pedas se-kecamatan”, “Tanpa MSG”, atau “Porsi kuli harga kaki lima”).
- Tone of Voice: Bagaimana cara Anda bicara ke pelanggan? Apakah santai dan pakai bahasa gaul (seperti pioneer kopi kekinian), atau sopan dan hangat?
2. Ciptakan Identitas Visual yang “Ikonik”
Orang harus bisa mengenali produk Anda bahkan tanpa membaca namanya.
- Logo yang Sederhana: Jangan terlalu rumit. Pastikan logo tetap jelas saat ukurannya kecil (seperti di stiker kemasan atau foto profil Instagram).
- Palet Warna: Pilih 2-3 warna utama. Dalam dunia kuliner, warna merah dan kuning sering dipakai untuk membangkitkan selera makan, sedangkan hijau untuk kesan sehat/organik.
- Font Konsisten: Gunakan jenis huruf yang sama untuk menu, postingan sosmed, dan spanduk.
3. Strategi “Makan Pakai Mata” (Visual Content)
Di dunia digital, foto adalah pengganti aroma makanan.
- Pencahayaan Alami: Foto produk Anda di dekat jendela pada pagi atau siang hari. Cahaya matahari membuat makanan terlihat segar dan nyata.
- Angle yang Pas: Foto dari atas (flatlay) bagus untuk meja penuh makanan, sementara foto dari samping (eye level) bagus untuk makanan berlapis seperti burger atau minuman dengan topping.
- Video Behind the Scene: Orang suka melihat proses. Videokan saat Anda mengulek sambal atau mengemas makanan dengan rapi. Ini membangun kepercayaan akan kebersihan produk.
4. Bangun Kehadiran di Google Maps (Local SEO)
Untuk bisnis kuliner fisik atau rumahan, Google Maps adalah nyawa.
- Daftarkan bisnis di Google Business Profile.
- Ajak pelanggan memberikan ulasan bintang 5.
- Upload foto menu terbaru secara berkala. Banyak orang mencari “makanan terdekat” lewat Maps, bukan Instagram.
5. Gunakan Kekuatan Storytelling
Jangan cuma jualan “Apa” (produknya), tapi ceritakan “Kenapa” (alasannya).
- Ceritakan asal-usul resep Anda.
- Bagikan kisah kegagalan saat mencoba menu baru sebelum akhirnya berhasil.
- Ceritakan profil petani atau pemasok bahan baku lokal yang Anda gunakan. Cerita membuat brand Anda punya “nyawa”.
6. Kemasan (Packaging) sebagai Media Iklan Gratis
Kemasan bukan cuma wadah, tapi alat pemasaran yang berjalan.
- Jika belum mampu cetak box custom, gunakan stiker logo yang estetik pada kemasan polos.
- Tambahkan kartu ucapan terima kasih yang menarik (bisa diselipkan akun sosmed Anda). Kemasan yang cantik mendorong orang untuk memfoto dan mengunggahnya ke Instagram Story (User Generated Content).
7. Konsistensi adalah Kunci
Branding bukan kerja semalam.
- Jangan ganti-ganti logo atau warna setiap minggu karena bosan.
- Pastikan rasa makanan tetap stabil (standar porsi dan bumbu).
- Balas pesan pelanggan di WhatsApp atau DM dengan gaya bahasa yang sama setiap waktu
Jadi, intinya, punya bisnis kuliner itu nggak cuma soal seberapa jago kamu mengolah bumbu di dapur, tapi juga soal seberapa pintar kamu “mengolah” perasaan dan persepsi orang. Rasa yang enak memang bakal bikin pelanggan datang lagi, tapi branding-lah yang jadi alasan utama kenapa mereka mau melirik dan mencoba makananmu untuk pertama kalinya. Jangan sampai masakan juara buatanmu jadi sia-sia cuma karena orang nggak tahu identitas tokomu atau merasa bisnismu nggak punya karakter yang unik. Ingat, di tengah ribuan pilihan makanan yang ada di layar HP pelanggan, yang menang bukan cuma yang paling enak, tapi yang paling membekas di hati dan pikiran mereka.
Sekarang adalah waktu yang paling tepat buat kamu berhenti sejenak dari urusan kompor dan mulai merapikan “wajah” bisnismu. Nggak perlu nunggu punya modal gede atau sewa agensi mahal, mulai aja dari hal-hal kecil seperti memperbaiki foto produk, konsisten menyapa pelanggan dengan ramah, atau mulai ceritain kisah seru di balik menu andalanmu. Kalau kamu sudah berhasil membangun branding yang kuat, bisnis kulinermu nggak akan lagi sekadar jadi tren yang lewat begitu saja, tapi bakal jadi brand yang selalu dirindukan.
DAFTAR PUSTAKA
Putri, D. E., Sudirman, A., Suganda, A. D., Kartika, R. D., Martini, E., Susilowati, H., … & Roslan, A. H. (2021). Brand Marketing. Penerbit Widina.
Haro, A., Judijanto, L., Nugroho, M. A., Setiawan, R., Susanti, R., & Tanti, T. (2024). Brand Management: Pengetahuan dasar tentang manajemen merek. PT. Sonpedia Publishing Indonesia.
Sulistio, A. B. (2021). Branding Sebagai Inti Dari Promosi Bisnis. Wati, AP et al.(2020). Digital Marketing. Malang: Edulitera (Anggota IKAPI–No. 211/JTI/2019) Imprint PT. Literindo Berkah Karya.