Branding Produk Basreng BATUR 23 dalam Program INBISKOM UNIKOM

6–9 minutes

Kegiatan kewirausahaan mahasiswa saat ini tidak lagi dipandang sebagai aktivitas sampingan, melainkan sebagai bagian penting dari proses pembelajaran dan pembentukan karakter mandiri. Perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam mendorong mahasiswa untuk mampu melihat peluang, mengolah ide kreatif, serta mengubahnya menjadi produk atau jasa yang bernilai ekonomi. Dalam konteks tersebut, Program Inkubator Bisnis & KUMKM (INBISKOM) UNIKOM hadir sebagai wadah pembinaan dan pendampingan usaha rintisan mahasiswa agar dapat berkembang secara terarah dan berkelanjutan.

Salah satu produk kewirausahaan mahasiswa yang lahir dari lingkungan kampus adalah BATUR 23, sebuah produk basreng (bakso goreng) yang dirintis oleh mahasiswa Arsitektur angkatan 2023. Produk ini berawal dari aktivitas jual beli sederhana di lingkungan kampus sebagai bentuk respons terhadap kebutuhan mahasiswa akan camilan yang praktis, terjangkau, dan sesuai dengan selera generasi muda.

Seiring meningkatnya minat konsumen, BATUR 23 tidak hanya berfokus pada penjualan produk semata, tetapi mulai membangun identitas merek (branding) sebagai pembeda di tengah maraknya produk basreng sejenis. Branding menjadi aspek penting karena mampu membentuk persepsi konsumen, meningkatkan daya ingat terhadap produk, serta menciptakan nilai tambah yang bersifat jangka panjang.

Artikel ini membahas branding produk BATUR 23 secara naratif dan deskriptif, dengan menyoroti konsep produk, makna nama dan logo, serta strategi branding yang dikembangkan dalam lingkup Program INBISKOM UNIKOM.

Basreng sebagai Produk Kuliner Khas Kota Bandung

Basreng atau bakso goreng merupakan salah satu produk kuliner yang berkembang dari tradisi jajanan kaki lima di Jawa Barat, khususnya Kota Bandung. Secara historis, basreng berawal dari inovasi sederhana pedagang bakso yang mengolah bakso sisa dengan cara diiris tipis dan digoreng hingga kering, kemudian dibumbui dengan rempah dan cabai khas Sunda. Inovasi ini menunjukkan kemampuan adaptasi pelaku usaha kecil dalam menciptakan nilai tambah dari bahan pangan yang terbatas (Sari & Nugraha, 2019).

Dalam kajian kuliner lokal, basreng dikategorikan sebagai makanan ringan berbasis olahan daging yang mengalami transformasi fungsi, dari makanan berkuah menjadi camilan kering yang praktis. Penelitian oleh Fitriani et al. (2022) menyebutkan bahwa basreng merupakan contoh produk pangan lokal yang berkembang melalui proses kreativitas masyarakat dan memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai produk UMKM karena biaya produksi yang relatif rendah serta tingkat penerimaan pasar yang tinggi.

Kota Bandung dikenal sebagai salah satu pusat perkembangan kuliner kreatif di Indonesia. Karakter masyarakat urban, khususnya generasi muda, mendorong munculnya berbagai inovasi makanan ringan dengan cita rasa pedas dan bumbu yang kuat. Basreng menjadi salah satu produk yang populer di kalangan pelajar dan mahasiswa karena mudah dikonsumsi, fleksibel dalam varian rasa, serta sesuai dengan pola konsumsi sehari-hari (Pratama & Hidayat, 2020).

Seiring meningkatnya jumlah pelaku usaha basreng, persaingan produk pun semakin ketat. Hal ini mendorong pelaku UMKM untuk tidak hanya bersaing dari sisi rasa, tetapi juga dari segi identitas merek dan strategi pemasaran. Penelitian Wibowo (2021) menegaskan bahwa branding memiliki peran penting dalam meningkatkan daya saing produk kuliner tradisional di tengah pasar yang jenuh.

Dalam konteks tersebut, basreng tidak lagi dipahami sekadar sebagai makanan ringan, melainkan sebagai produk kreatif yang memerlukan pengelolaan merek secara strategis. Kondisi inilah yang menjadi latar belakang relevan bagi kemunculan BATUR 23 sebagai produk basreng berbasis mahasiswa yang mengedepankan identitas, cerita, dan diferensiasi produk.

Konsep Produk BATUR 23

BATUR 23 merupakan produk basreng yang dikembangkan dengan pendekatan sederhana namun relevan dengan kebutuhan pasar mahasiswa. Produk ini menawarkan beberapa varian rasa populer seperti keju, barbeque, balado, dan asin pedas. Varian rasa tersebut dipilih berdasarkan selera umum konsumen muda yang menyukai cita rasa gurih, pedas, dan variatif.

Keunikan utama BATUR 23 terletak pada konsep request mix rasa dan penentuan level pedas. Konsumen tidak hanya membeli produk jadi, tetapi juga dilibatkan dalam proses pemilihan rasa sesuai preferensi pribadi. Konsep ini memberikan pengalaman konsumsi yang lebih personal dan interaktif, sehingga meningkatkan kepuasan konsumen.

Selain itu, fleksibilitas rasa juga memungkinkan BATUR 23 untuk menjangkau konsumen dengan selera yang berbeda-beda, mulai dari yang menyukai rasa ringan hingga pecinta pedas ekstrem. Pendekatan ini menjadi nilai tambah produk sekaligus bentuk diferensiasi dari produk basreng lain yang umumnya memiliki pilihan rasa terbatas.

Makna Nama Brand BATUR 23

Nama BATUR 23 merupakan singkatan dari Basreng Arsitektur 23. Nama ini dipilih untuk menegaskan identitas asal-usul produk yang lahir dari mahasiswa Arsitektur angkatan 2023. Angka “23” tidak hanya menunjukkan angkatan, tetapi juga menjadi penanda sejarah awal berdirinya usaha ini di lingkungan kampus.

Penggunaan nama yang berbasis komunitas memberikan kesan autentik dan kedekatan emosional, khususnya bagi konsumen dari kalangan mahasiswa UNIKOM.

Logo BATUR 23 menggunakan tipografi sederhana dengan tulisan “Batur 23” yang mudah dibaca. Warna dominan kuning dan cokelat kemerahan mencerminkan karakter produk kuliner yang hangat, gurih, dan identik dengan makanan ringan. Dibuat dengan gaya simple dan tegas sebagai representasi gaya arsitektur minimalis.

Secara visual, logo ini bersifat simpel dan mudah diaplikasikan pada berbagai media seperti kemasan, stiker, maupun konten promosi digital. Kesederhanaan logo mendukung penguatan identitas merek agar mudah diingat oleh konsumen.

Strategi Branding Produk

Strategi branding menjadi inti utama dalam pengembangan BATUR 23 sebagai produk kewirausahaan mahasiswa. Branding tidak dipahami hanya sebatas logo atau nama, tetapi sebagai keseluruhan pengalaman, persepsi, dan hubungan emosional yang dibangun antara produk dan konsumennya. Oleh karena itu, strategi branding BATUR 23 dirancang secara kontekstual dengan mempertimbangkan karakter pasar mahasiswa serta keterbatasan sumber daya usaha skala kampus.

1. Positioning Brand di Lingkungan Mahasiswa

BATUR 23 memposisikan dirinya sebagai camilan mahasiswa yang fleksibel, dekat, dan merepresentasikan identitas kampus. Produk ini tidak mencoba tampil sebagai brand besar yang eksklusif, melainkan sebagai teman nongkrong dan camilan sehari-hari mahasiswa. Positioning ini diperkuat melalui harga yang terjangkau, rasa yang akrab di lidah, serta pendekatan komunikasi yang santai.

Dengan positioning tersebut, BATUR 23 mampu menempatkan diri sebagai produk yang “relate” dengan kehidupan mahasiswa, bukan sekadar produk jualan.

2. Diferensiasi Berbasis Personalisasi Produk

Diferensiasi utama BATUR 23 terletak pada sistem custom mix rasa dan level pedas. Strategi ini menjawab kecenderungan konsumen muda yang menyukai kebebasan memilih dan pengalaman personal. Konsumen tidak dipaksa memilih satu varian baku, tetapi diberi ruang untuk bereksperimen dengan kombinasi rasa sesuai selera.

Dari sudut pandang branding, personalisasi ini menciptakan kesan bahwa setiap produk BATUR 23 bersifat unik. Hal ini memperkuat nilai pengalaman (experience value) dan membedakan BATUR 23 dari produk basreng lain yang cenderung bersifat massal.

3. Strategi Komunikasi Brand yang Santai dan Akrab

BATUR 23 menggunakan gaya komunikasi yang tidak formal dan dekat dengan bahasa sehari-hari mahasiswa. Pendekatan ini diterapkan baik dalam interaksi langsung saat penjualan maupun dalam potensi konten promosi di media sosial.

Strategi komunikasi ini bertujuan untuk menghilangkan jarak antara brand dan konsumen. Brand tidak diposisikan sebagai pihak yang “menjual”, melainkan sebagai bagian dari komunitas mahasiswa itu sendiri.

4. Brand Story sebagai Nilai Emosional

Cerita bahwa BATUR 23 lahir dari mahasiswa Arsitektur angkatan 2023 dan berkembang dari skala kampus menjadi bagian penting dalam strategi branding. Brand story ini menciptakan kesan autentik dan membangun kepercayaan konsumen.

Konsumen tidak hanya membeli basreng, tetapi juga mendukung usaha sesama mahasiswa. Nilai emosional ini menjadi kekuatan branding yang sulit ditiru oleh produk lain.

5. Konsistensi Visual dan Identitas

Meskipun sederhana, konsistensi penggunaan logo, nama brand, dan warna menjadi strategi penting dalam membangun ingatan konsumen. Logo BATUR 23 yang simpel memudahkan aplikasi pada berbagai media, sehingga identitas visual tetap terjaga meskipun usaha berkembang secara bertahap.

Konsistensi ini membantu BATUR 23 membangun kesadaran merek (brand awareness) secara perlahan namun berkelanjutan.

6. Strategi Word of Mouth di Lingkungan Kampus

Lingkungan kampus menjadi ruang strategis untuk penyebaran informasi secara alami. Pengalaman positif konsumen mendorong terjadinya promosi dari mulut ke mulut (word of mouth), yang sangat efektif di kalangan mahasiswa.

Dengan rasa yang konsisten, pelayanan yang ramah, serta konsep produk yang menarik, BATUR 23 memanfaatkan jaringan sosial mahasiswa sebagai media promosi utama tanpa biaya besar.

Peran INBISKOM UNIKOM dalam Pengembangan Usaha

Program INBISKOM UNIKOM berperan penting dalam mendukung pengembangan BATUR 23, khususnya dalam hal pemahaman kewirausahaan dan branding. Melalui program ini, mahasiswa mendapatkan pembinaan terkait pengelolaan usaha, penguatan identitas merek, serta wawasan mengenai pengembangan UMKM.

Keberadaan inkubator bisnis membantu BATUR 23 untuk melihat potensi pengembangan usaha secara lebih luas, tidak hanya terbatas pada skala kampus, tetapi juga peluang untuk menjangkau pasar yang lebih besar di masa mendatang.

Penutup

BATUR 23 merupakan contoh nyata produk kewirausahaan mahasiswa yang tumbuh dari lingkungan kampus dengan mengandalkan kreativitas, identitas, dan kedekatan dengan pasar. Konsep produk yang fleksibel, nama brand yang memiliki makna, serta logo yang sederhana namun mudah dikenali menjadi kekuatan utama dalam membangun branding.

Melalui dukungan Program INBISKOM UNIKOM, BATUR 23 memiliki peluang untuk terus berkembang sebagai usaha kuliner mahasiswa yang berkelanjutan dan kompetitif.

Referensi

Fitriani, D., Rahmawati, A., & Lestari, S. (2022). Inovasi Produk Olahan Bakso sebagai Upaya Peningkatan Nilai Tambah UMKM Pangan. Jurnal Agribisnis dan Pangan, 7(2), 85–94.

Kotler, P., & Keller, K. L. (2016). Marketing Management. Pearson Education.

Keller, K. L. (2013). Strategic Brand Management. Pearson Education.

Pratama, R., & Hidayat, T. (2020). Perilaku Konsumsi Makanan Ringan Mahasiswa di Perkotaan. Jurnal Sosial dan Humaniora, 5(1), 45–53.

Sari, N., & Nugraha, A. (2019). Makanan Tradisional dan Transformasi Kuliner Lokal di Jawa Barat. Jurnal Kajian Budaya, 4(3), 112–121.

Tjiptono, F. (2015). Strategi Pemasaran. Andi Offset.

Wibowo, A. (2021). Peran Branding dalam Meningkatkan Daya Saing Produk Kuliner UMKM. Jurnal Manajemen dan Kewirausahaan, 9(2), 67–76.