Membangun Brand UMKM di Era Digital: Peran Media Sosial dalam Program INBISKOM
Di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat, cara orang berjualan dan membeli produk juga ikut berubah. Kalau dulu promosi identik dengan spanduk, brosur, atau rekomendasi dari mulut ke mulut, sekarang media sosial menjadi “etalase utama” bagi banyak usaha, terutama Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Instagram, TikTok, hingga marketplace digital bukan lagi sekadar pelengkap, tetapi sudah menjadi kebutuhan utama dalam membangun brand dan menjangkau konsumen.
Sayangnya, masih banyak UMKM yang belum memanfaatkan media sosial secara optimal. Banyak yang sudah punya akun, tetapi belum memiliki konsep branding yang jelas. Kontennya tidak konsisten, visualnya seadanya, dan pesan yang disampaikan kurang menggambarkan identitas produk. Di sinilah peran program INBISKOM menjadi relevan, khususnya bagi mahasiswa yang ingin belajar kewirausahaan berbasis komunikasi dan digital.
Tantangan UMKM di Era Digital
Salah satu tantangan terbesar UMKM saat ini adalah membangun brand yang kuat dan mudah dikenali. Banyak pelaku usaha fokus pada produksi dan penjualan, namun belum menyadari bahwa brand adalah aset jangka panjang. Tanpa branding yang jelas, produk sulit dibedakan dari kompetitor meskipun kualitasnya baik.
Selain itu, keterbatasan pengetahuan tentang digital marketing juga menjadi hambatan. Tidak semua pelaku UMKM memahami cara membuat konten yang menarik, menentukan target audiens, atau memanfaatkan fitur media sosial seperti reels, story, dan live. Akibatnya, akun media sosial hanya menjadi tempat unggah foto produk tanpa strategi yang jelas.
Padahal, menurut data dari We Are Social & Hootsuite (2024), lebih dari 167 juta penduduk Indonesia aktif menggunakan media sosial, dengan rata-rata waktu penggunaan hampir 3 jam per hari. Angka ini menunjukkan potensi besar media sosial sebagai sarana pemasaran, khususnya bagi UMKM.
Branding Bukan Sekadar Logo
Banyak orang masih menganggap branding hanya sebatas logo atau kemasan. Padahal, branding mencakup keseluruhan citra dan persepsi konsumen terhadap suatu produk. Mulai dari visual, cara berkomunikasi, nilai yang ditawarkan, hingga pengalaman konsumen saat menggunakan produk tersebut.
Contohnya, dua produk makanan ringan dengan rasa yang mirip bisa memiliki persepsi yang sangat berbeda di mata konsumen. Produk dengan visual kemasan menarik, foto yang konsisten, serta cerita brand yang jelas cenderung lebih mudah diingat dan dipercaya. Inilah mengapa branding memiliki peran penting dalam digital marketing UMKM.
Media Sosial sebagai Etalase Digital UMKM
Media sosial berfungsi layaknya etalase toko di dunia digital. Instagram dan TikTok, misalnya, memungkinkan UMKM menampilkan produk secara visual dan interaktif. Konten tidak harus selalu hard selling, tetapi bisa berupa:
- Proses pembuatan produk
- Cerita di balik brand
- Testimoni pelanggan
- Edukasi singkat terkait produk
- Konten ringan yang relevan dengan target pasar
Sebagai contoh, UMKM minuman kekinian dapat memanfaatkan TikTok untuk menampilkan proses pembuatan minuman dengan visual menarik dan musik yang sedang tren. Sementara itu, UMKM fashion dapat menggunakan Instagram untuk membangun feed yang konsisten secara warna dan gaya foto.
Dengan strategi konten yang tepat, media sosial tidak hanya meningkatkan penjualan, tetapi juga membangun kedekatan emosional antara brand dan konsumen.
Kesalahan Umum UMKM dalam Mengelola Media Sosial
Dalam praktiknya, banyak UMKM yang sudah aktif di media sosial namun belum mendapatkan hasil yang optimal. Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah terlalu fokus pada penjualan tanpa membangun hubungan dengan audiens. Konten yang terus-menerus bersifat promosi dapat membuat audiens merasa jenuh dan kurang tertarik untuk berinteraksi.
Kesalahan lain adalah kurangnya konsistensi dalam mengelola akun media sosial. Jadwal unggahan yang tidak teratur, perubahan gaya visual yang terlalu sering, serta tone komunikasi yang tidak konsisten dapat membingungkan audiens. Padahal, konsistensi merupakan salah satu kunci utama dalam membangun identitas brand.
Selain itu, banyak UMKM yang belum memanfaatkan fitur analitik yang tersedia. Data seperti jumlah interaksi, jangkauan konten, dan waktu unggah terbaik sering kali diabaikan, padahal informasi tersebut sangat berguna untuk menyusun strategi konten yang lebih efektif. Dengan memahami kesalahan-kesalahan ini, UMKM dapat mulai melakukan perbaikan secara bertahap dan lebih terarah.
Tips Praktis Mengelola Media Sosial untuk UMKM
Agar media sosial benar-benar efektif sebagai alat branding, UMKM perlu menerapkan beberapa langkah sederhana namun konsisten. Strategi ini tidak harus rumit atau mahal, tetapi perlu dilakukan dengan kesadaran dan perencanaan dasar.
Salah satu langkah awal yang mudah dilakukan adalah riset hashtag sederhana. UMKM dapat mencari hashtag yang relevan dengan produk melalui fitur pencarian di Instagram atau TikTok, lalu melihat hashtag apa saja yang sering digunakan oleh akun sejenis. Hashtag dengan jumlah unggahan menengah cenderung lebih efektif karena tidak terlalu padat persaingan. Penggunaan hashtag yang tepat membantu konten lebih mudah ditemukan oleh calon konsumen yang memiliki minat serupa.
Selain itu, interaksi di kolom komentar dan pesan langsung juga memegang peranan penting dalam membangun brand. Membalas komentar, memberikan respon ramah, dan menyapa audiens secara aktif dapat menciptakan kesan brand yang dekat dan terpercaya. Konsumen cenderung lebih nyaman membeli produk dari brand yang responsif dan komunikatif, bukan hanya aktif mengunggah konten.
UMKM juga disarankan untuk menjaga konsistensi konten, baik dari segi visual maupun pesan. Konsistensi warna, gaya foto, dan tone bahasa membantu audiens mengenali identitas brand dengan lebih cepat. Konten tidak harus selalu promosi, tetapi bisa diselingi dengan edukasi ringan, cerita di balik produk, atau konten interaktif seperti polling dan sesi tanya jawab.
Terakhir, penting bagi UMKM untuk melakukan evaluasi sederhana terhadap performa konten. Melalui fitur insight di media sosial, pelaku usaha dapat melihat jenis konten apa yang paling banyak mendapatkan respon. Data ini dapat digunakan sebagai dasar untuk menyusun strategi konten berikutnya agar lebih relevan dengan kebutuhan audiens.
Peran INBISKOM dalam Pengembangan Branding UMKM
Program INBISKOM hadir sebagai wadah bagi mahasiswa untuk memahami dunia bisnis secara lebih praktis, khususnya dalam bidang komunikasi dan pemasaran digital. Melalui program ini, mahasiswa diajak untuk melihat kewirausahaan dari sudut pandang yang lebih strategis, bukan hanya soal keuntungan, tetapi juga keberlanjutan brand.
INBISKOM mendorong mahasiswa untuk:
- Menganalisis peluang bisnis
- Menentukan target pasar
- Merancang konsep branding
- Menyusun strategi konten media sosial
Dengan pendekatan ini, mahasiswa tidak hanya belajar teori, tetapi juga mengasah kemampuan berpikir kritis dan kreatif. Program ini menjadi jembatan antara dunia akademik dan kebutuhan nyata UMKM di lapangan.
Contoh Penerapan Branding dalam Program INBISKOM
Sebagai contoh, sebuah UMKM makanan rumahan yang awalnya hanya menjual produk melalui pesan singkat dapat mulai membangun brand dengan bantuan mahasiswa INBISKOM. Mahasiswa dapat membantu:
- Menentukan nama brand yang mudah diingat
- Mendesain logo sederhana
- Menyusun konsep visual media sosial
- Merancang kalender konten mingguan
Hasilnya, UMKM tersebut tidak hanya dikenal oleh lingkungan sekitar, tetapi juga mulai menjangkau konsumen baru melalui media sosial. Proses ini menunjukkan bahwa branding dan digital marketing dapat diterapkan secara bertahap, tanpa harus langsung menggunakan biaya besar.
Insight Mahasiswa melalui INBISKOM
Bagi mahasiswa, mengikuti program INBISKOM memberikan pemahaman bahwa membangun usaha tidak bisa lepas dari komunikasi yang efektif. Produk yang bagus perlu didukung oleh cara penyampaian yang tepat agar dapat diterima oleh pasar.
Mahasiswa juga belajar bahwa branding adalah proses berkelanjutan. Konsistensi visual, pesan, dan interaksi dengan konsumen menjadi kunci dalam membangun kepercayaan. Melalui pengalaman ini, mahasiswa dilatih untuk siap menghadapi dunia kerja maupun merintis usaha sendiri di masa depan.
Peran Mahasiswa sebagai Penghubung UMKM dan Digitalisasi
Mahasiswa memiliki posisi strategis dalam membantu UMKM beradaptasi dengan perkembangan digital. Sebagai generasi yang akrab dengan media sosial dan teknologi, mahasiswa lebih mudah memahami tren konten, perilaku audiens digital, serta pola komunikasi yang efektif di platform online. Melalui program INBISKOM, peran ini dapat dimaksimalkan secara terarah dan berdampak nyata.
Mahasiswa tidak hanya berperan sebagai pelaksana teknis, tetapi juga sebagai pengamat dan perancang strategi. Dalam proses pendampingan UMKM, mahasiswa dapat membantu menganalisis kelebihan produk, menentukan keunikan brand, serta menyusun pesan yang sesuai dengan karakter target pasar. Proses ini juga melatih mahasiswa untuk berpikir solutif dan adaptif terhadap kondisi riil di lapangan.
Selain itu, keterlibatan mahasiswa dalam program seperti INBISKOM dapat mendorong terjadinya kolaborasi berkelanjutan antara dunia akademik dan dunia usaha. UMKM mendapatkan dukungan ide dan kreativitas, sementara mahasiswa memperoleh pengalaman praktis yang tidak selalu didapatkan di ruang kelas. Kolaborasi ini menjadi langkah awal menuju ekosistem kewirausahaan yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Dampak Jangka Panjang Branding Digital bagi UMKM
Branding digital yang dilakukan secara konsisten tidak hanya berdampak pada peningkatan penjualan, tetapi juga membangun kepercayaan konsumen dalam jangka panjang. UMKM yang memiliki identitas brand yang jelas cenderung lebih mudah diingat dan direkomendasikan. Hal ini menjadi modal penting untuk menghadapi persaingan pasar yang semakin ketat, khususnya di era digital.
Dengan dukungan program INBISKOM, UMKM diharapkan tidak hanya aktif di media sosial, tetapi juga memahami tujuan dari setiap konten yang dibuat. Branding yang kuat akan membantu UMKM bertahan, berkembang, dan bertransformasi mengikuti perubahan perilaku konsumen di masa depan.
Tantangan dan Peluang INBISKOM di Masa Depan
Seiring dengan berkembangnya teknologi digital, program INBISKOM juga menghadapi berbagai tantangan yang perlu diperhatikan. Salah satunya adalah perubahan tren media sosial yang sangat cepat. Platform, algoritma, dan preferensi audiens terus mengalami perubahan, sehingga strategi branding dan pemasaran digital perlu selalu diperbarui agar tetap relevan. Hal ini menuntut mahasiswa dan pelaku UMKM untuk terus belajar dan beradaptasi.
Tantangan lainnya adalah perbedaan tingkat kesiapan digital pada setiap UMKM. Tidak semua pelaku usaha memiliki pemahaman atau sumber daya yang sama dalam mengelola media sosial. Oleh karena itu, pendekatan yang dilakukan melalui program INBISKOM perlu bersifat fleksibel dan disesuaikan dengan kondisi masing-masing UMKM.
Di sisi lain, perkembangan digital juga membuka peluang besar bagi program INBISKOM. Kolaborasi antara mahasiswa, UMKM, dan platform digital dapat menciptakan ekosistem kewirausahaan yang lebih kuat dan berkelanjutan. Mahasiswa tidak hanya berperan sebagai pendamping, tetapi juga sebagai agen perubahan yang membawa ide-ide kreatif dan inovatif ke dalam praktik usaha.
Dengan memanfaatkan peluang ini, INBISKOM dapat terus berkembang sebagai program yang relevan dengan kebutuhan zaman, sekaligus memberikan kontribusi nyata dalam mendukung transformasi digital UMKM di Indonesia.
Kesimpulan
Di era digital, media sosial dan branding memiliki peran yang sangat penting dalam pengembangan UMKM. Tantangan yang dihadapi pelaku usaha, seperti keterbatasan pengetahuan dan sumber daya, dapat diatasi melalui strategi digital marketing yang tepat. Program INBISKOM menjadi salah satu solusi dengan membekali mahasiswa kemampuan branding dan komunikasi bisnis yang relevan dengan kebutuhan saat ini.
Melalui INBISKOM, mahasiswa tidak hanya belajar berwirausaha, tetapi juga berkontribusi dalam mendukung UMKM agar lebih adaptif dan kompetitif. Dengan branding yang kuat dan pemanfaatan media sosial yang optimal, UMKM memiliki peluang besar untuk berkembang di tengah persaingan pasar digital.
Jelly Virgita Priskila
Program Studi Desain Interior
🔗 Referensi / Resources
We Are Social & Hootsuite. (2024). Digital 2024 Indonesia Report
Kementerian Koperasi dan UKM RI – ukm.go.id
Kotler, P. (2017). Marketing 4.0
Instagram Business & TikTok for Business