Gula Naik, Ide Jalan: Mochi di Tengah Aktivitas Studio

2–3 minutes

Studio arsitektur bukan hanya ruang untuk bekerja, tetapi juga ruang hidup bagi mahasiswa. Di tempat inilah ide lahir, diuji, direvisi, bahkan sering kali dipatahkan sebelum akhirnya dirangkai kembali. Di Kampus UNIKOM, khususnya pada Program Studi Arsitektur, studio menjadi ruang yang nyaris tidak pernah benar-benar kosong. Meja gambar penuh coretan, laptop menyala berjam-jam, maket menumpuk di sudut ruangan, dan mahasiswa tenggelam dalam proses berpikir yang panjang dan melelahkan.

Aktivitas studio menuntut fokus tinggi dalam waktu yang lama. Mahasiswa dituntut untuk terus berpikir kreatif, mengambil keputusan desain, serta menyelesaikan tugas dalam tekanan deadline. Dalam kondisi seperti ini, kebutuhan energi sering kali terabaikan. Waktu makan tertunda, rasa lapar diabaikan, dan tubuh dipaksa tetap bekerja meskipun energi semakin menurun.

Ketika tubuh mulai kelelahan, kadar gula darah menurun dan dampaknya terasa langsung pada kemampuan berpikir. Konsentrasi menurun, ide terasa buntu, dan proses desain berjalan lebih lambat. Pada titik inilah camilan manis memiliki peran penting sebagai sumber energi cepat. Di lingkungan kampus UNIKOM, salah satu camilan yang paling sering dipilih mahasiswa arsitektur adalah mochi.

Mochi menjadi camilan yang akrab di studio arsitektur karena sifatnya yang praktis. Ukurannya kecil, mudah dibawa, tidak memerlukan alat makan, dan bisa dikonsumsi di sela-sela aktivitas menggambar atau diskusi. Kandungan karbohidrat dari tepung ketan serta isian manis di dalamnya membantu tubuh mendapatkan energi dalam waktu singkat. Bagi mahasiswa studio, mochi bukan sekadar makanan, melainkan penolong di saat tenaga dan fokus mulai menurun.

Keberadaan mochi di studio arsitektur UNIKOM juga membentuk kebiasaan sosial tersendiri. Sering kali satu orang membeli mochi dan yang lain ikut titip. Mochi dibagi di atas meja studio, dimakan bersama sambil berdiskusi konsep, mengkritik desain, atau sekadar berbagi keluh kesah tentang tugas. Momen sederhana ini menciptakan interaksi yang memperkuat kebersamaan antar mahasiswa.

Ungkapan “gula naik, ide jalan” menjadi gambaran nyata dari pengalaman tersebut. Setelah mengonsumsi makanan manis, mahasiswa sering merasakan pikiran yang lebih segar dan fokus yang kembali terbentuk. Ide yang sebelumnya terasa mentok perlahan mulai mengalir. Walaupun efeknya sederhana dan bersifat sementara, dorongan energi ini cukup membantu untuk melanjutkan proses desain, terutama pada jam-jam kritis menjelang asistensi atau pengumpulan tugas.

Mochi juga berperan sebagai penanda jeda singkat dalam ritme kerja studio. Jeda ini penting karena memberi kesempatan bagi tubuh dan pikiran untuk beristirahat sejenak tanpa benar-benar meninggalkan ruang kerja. Dalam dunia desain, jeda kecil sering kali justru memunculkan sudut pandang baru dan membantu mahasiswa melihat kembali karyanya dengan lebih jernih.

Meski demikian, mochi bukanlah pengganti makanan utama. Konsumsi gula tetap perlu diimbangi dengan pola makan yang lebih seimbang. Namun dalam realitas kehidupan studio arsitektur, mochi hadir sebagai solusi praktis yang lahir dari kebutuhan nyata mahasiswa. Murah, mudah diakses, dan sesuai dengan gaya kerja yang serba cepat.

Pada akhirnya, mochi telah menjadi bagian dari keseharian studio arsitektur UNIKOM. Ia hadir di tengah tumpukan tugas, tekanan akademik, dan proses kreatif yang panjang. Dalam kesederhanaannya, mochi membantu menjaga energi, memicu interaksi, dan memberi dorongan kecil agar ide terus bergerak maju.

Gula mungkin hanya naik sesaat, tetapi pada momen itu, ide bisa kembali berjalan.