Perkembangan teknologi digital dalam dua dekade terakhir telah membawa perubahan yang sangat besar terhadap cara manusia hidup, bekerja, dan berinteraksi. Internet, media sosial, serta platform e-commerce tidak lagi hanya menjadi alat komunikasi, tetapi telah menjadi infrastruktur utama dalam aktivitas ekonomi global. Konsumen saat ini dapat menemukan produk, membandingkan harga, membaca ulasan, dan melakukan transaksi hanya melalui ponsel mereka. Perubahan ini membuat batas antara produsen dan konsumen semakin tipis, sekaligus meningkatkan tingkat persaingan dalam dunia usaha.
Di Indonesia, perubahan ini terjadi di tengah dominasi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) sebagai tulang punggung perekonomian nasional. Data Kementerian Koperasi dan UKM menunjukkan bahwa UMKM menyumbang lebih dari 60% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dan menyerap lebih dari 97% tenaga kerja. Angka ini menunjukkan bahwa keberlangsungan UMKM sangat menentukan stabilitas dan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Namun, di sisi lain, banyak UMKM masih menghadapi tantangan struktural, terutama dalam hal pemanfaatan teknologi dan kemampuan pemasaran.
Meskipun teknologi digital membuka peluang pasar yang sangat luas, tidak semua UMKM mampu memanfaatkannya secara optimal. Banyak pelaku usaha yang masih bergantung pada metode penjualan konvensional seperti toko fisik, titip jual, atau promosi dari mulut ke mulut. Cara-cara ini semakin kurang efektif di tengah perubahan perilaku konsumen yang kini lebih mengandalkan pencarian online dan rekomendasi digital. Akibatnya, banyak produk lokal yang sebenarnya berkualitas justru sulit bersaing dengan produk lain yang lebih aktif dan lebih cerdas dalam memanfaatkan media digital.
Masalah utama yang dihadapi UMKM sering kali bukan pada kualitas produk, melainkan pada cara produk tersebut dikomunikasikan dan diposisikan di pasar. Dalam lingkungan digital yang penuh dengan ribuan bahkan jutaan produk, konsumen tidak memiliki cukup waktu untuk menilai satu per satu secara mendalam. Mereka cenderung memilih produk yang memiliki identitas jelas, visual menarik, serta komunikasi yang konsisten. Inilah mengapa branding menjadi aspek yang sangat krusial dalam persaingan bisnis modern.
Brand tidak hanya berfungsi sebagai penanda kepemilikan atau pembeda antarproduk, tetapi juga sebagai pembawa makna dan nilai. Sebuah brand yang kuat mampu menciptakan hubungan emosional antara produk dan konsumen. Konsumen tidak lagi membeli sekadar fungsi, tetapi juga membeli cerita, gaya hidup, dan identitas yang melekat pada brand tersebut. Dalam konteks ini, UMKM yang tidak memiliki brand yang jelas akan sulit membangun loyalitas dan kepercayaan konsumen, meskipun produknya berkualitas.
Di sinilah pendekatan kewirausahaan berbasis komunikasi seperti INBISKOM menjadi sangat relevan. INBISKOM hadir bukan hanya sebagai program inkubasi bisnis, tetapi sebagai ruang pembelajaran dan pendampingan yang mengintegrasikan aspek produksi, branding, dan pemasaran digital. Program ini memahami bahwa di era digital, membangun bisnis tidak bisa lagi dilakukan secara parsial. Produk, brand, dan media komunikasi harus dirancang sebagai satu kesatuan yang saling mendukung.
Melalui INBISKOM, mahasiswa dan pelaku UMKM diajak untuk melihat bisnis dari sudut pandang yang lebih strategis. Mereka tidak hanya ditantang untuk menciptakan produk, tetapi juga untuk memahami siapa target pasarnya, bagaimana karakter konsumennya, serta media apa yang paling efektif untuk menjangkau mereka. Pendekatan ini membuat proses kewirausahaan menjadi lebih terstruktur dan berbasis data, bukan sekadar intuisi atau coba-coba.
Selain itu, INBISKOM juga berperan sebagai penghubung antara dunia akademik dan dunia industri. Mahasiswa tidak hanya berperan sebagai pembelajar, tetapi juga sebagai mitra UMKM dalam mengembangkan usaha. Mereka membawa perspektif kreatif, pemahaman teknologi, dan kemampuan komunikasi, sementara UMKM membawa pengalaman lapangan dan realitas pasar. Kolaborasi ini menciptakan ekosistem yang saling menguntungkan dan mempercepat proses inovasi.
Dalam jangka panjang, pendekatan seperti ini memiliki dampak yang lebih luas daripada sekadar keberhasilan satu atau dua usaha. INBISKOM membantu membentuk generasi wirausahawan muda yang tidak hanya mampu memproduksi, tetapi juga mampu membangun brand, mengelola komunikasi, dan memanfaatkan teknologi. Hal ini menjadi sangat penting di tengah persaingan global, di mana produk dari luar negeri dengan mudah masuk ke pasar lokal melalui platform digital.
Dengan demikian, latar belakang lahirnya INBISKOM tidak dapat dilepaskan dari kebutuhan untuk memperkuat daya saing UMKM dan mahasiswa di era ekonomi digital. Program ini menjawab tantangan struktural UMKM, sekaligus mempersiapkan sumber daya manusia yang adaptif, kreatif, dan siap bersaing. INBISKOM bukan sekadar program akademik, tetapi sebuah strategi untuk membangun masa depan kewirausahaan Indonesia yang lebih berkelanjutan dan berbasis inovasi.
Mengapa UMKM Membutuhkan INBISKOM?
Banyak UMKM sebenarnya sudah kuat dari sisi produksi. Mereka mampu membuat makanan, minuman, fashion, atau produk kerajinan dengan kualitas yang baik. Namun, mereka sering lemah dalam hal komunikasi pemasaran. Beberapa masalah umum yang sering dihadapi UMKM antara lain:
- Tidak memiliki identitas brand yang jelas
- Desain kemasan seadanya
- Tidak aktif di media sosial
- Tidak tahu cara menjual secara online
- Tidak paham bagaimana menarik perhatian konsumen
Di era digital, konsumen tidak hanya membeli produk, tetapi juga membeli cerita, citra, dan pengalaman. Produk yang sama bisa memiliki nilai jual yang berbeda tergantung bagaimana ia dipresentasikan. Sebuah kopi rumahan, misalnya, bisa terlihat biasa saja jika hanya dikemas plastik polos, tetapi bisa terlihat premium jika dikemas dengan desain yang menarik, memiliki nama brand, dan diceritakan dengan baik di media sosial.
INBISKOM hadir untuk menjawab tantangan ini dengan pendekatan yang menggabungkan kewirausahaan dan komunikasi bisnis. Pelaku UMKM dan mahasiswa dibimbing untuk memahami bahwa menjual bukan hanya soal harga, tetapi juga soal bagaimana membangun persepsi dan kepercayaan konsumen.
INBISKOM sebagai Inkubator Bisnis Digital
Berbeda dengan pendekatan wirausaha konvensional, INBISKOM mengajarkan bahwa bisnis harus dibangun dengan tiga fondasi utama, yaitu:
- Produk
- Brand
- Pasar Digital
Produk yang baik tetap penting, tetapi tanpa brand dan akses ke pasar digital, produk tersebut sulit berkembang. Dalam program INBISKOM, mahasiswa dan pelaku usaha dibimbing untuk:
- Memvalidasi ide produk
- Menentukan target pasar
- Membuat positioning brand
- Mendesain identitas visual
- Menyusun strategi digital marketing
Dengan pendekatan ini, bisnis tidak hanya berjalan, tetapi juga memiliki arah yang jelas. Peserta diajak untuk berpikir secara strategis: siapa target konsumennya, bagaimana cara berbicara kepada mereka, dan melalui media apa produk akan dipasarkan.
Branding: Bukan Sekadar Logo
Salah satu fokus utama dalam INBISKOM adalah branding produk. Branding sering disalahartikan hanya sebagai logo atau kemasan. Padahal, branding adalah persepsi yang ada di benak konsumen ketika mereka mendengar nama suatu produk.
Brand menjawab pertanyaan seperti:
- Produk ini untuk siapa?
- Mengapa saya harus memilih ini?
- Apa yang membedakan produk ini dari yang lain?
Misalnya, sebuah minuman herbal bisa diposisikan sebagai:
- Minuman kesehatan
- Gaya hidup anak muda
- Produk alami premium
Semua itu ditentukan bukan hanya dari rasa produknya, tetapi dari cara produk tersebut dikomunikasikan. Melalui INBISKOM, peserta belajar menyusun:
- Brand story
- Value proposition
- Tone komunikasi
- Visual identity
Dengan demikian, produk tidak hanya terlihat menarik, tetapi juga terasa relevan dan memiliki karakter yang kuat di mata konsumen.
Digital Marketing sebagai Senjata Utama
Di zaman sekarang, media sosial dan marketplace adalah “toko” utama. Tanpa digital marketing, produk akan tenggelam di tengah ribuan kompetitor. INBISKOM mendorong peserta untuk menguasai strategi pemasaran digital agar produk mereka tidak hanya diproduksi, tetapi juga benar-benar terjual.
1. Social Media Marketing
Instagram, TikTok, dan WhatsApp bukan hanya untuk hiburan, tetapi juga alat penjualan. Peserta belajar membuat:
- Konten edukatif
- Konten storytelling
- Konten promosi
- Konten interaktif
Tujuannya bukan hanya menjual, tetapi membangun hubungan dengan audiens. Ketika konsumen merasa dekat dengan sebuah brand, mereka akan lebih loyal dan lebih percaya untuk membeli.
2. Marketplace Optimization
Peserta juga dibimbing untuk memaksimalkan:
- Deskripsi produk
- Foto dan video
- Rating dan ulasan
- Strategi harga
Marketplace seperti Shopee dan Tokopedia bisa menjadi mesin penjualan yang sangat kuat jika digunakan dengan strategi yang tepat.
3. Digital Ads dan Campaign
INBISKOM juga mengenalkan bagaimana membuat kampanye digital sederhana untuk menjangkau pasar yang lebih luas dengan biaya yang terkontrol. Ini membuat UMKM tidak harus memiliki modal besar untuk bisa bersaing.
Business Matching: Menghubungkan dengan Dunia Nyata
Salah satu kekuatan INBISKOM adalah adanya business matching, yaitu mempertemukan pelaku usaha dengan:
- Calon investor
- Mitra bisnis
- Distributor
- Pihak kampus atau lembaga pendukung
Ini membuat peserta tidak hanya belajar teori, tetapi juga benar-benar merasakan bagaimana bernegosiasi, pitching, dan membangun relasi bisnis. Banyak bisnis gagal bukan karena produknya buruk, tetapi karena tidak punya jaringan. INBISKOM membuka pintu itu.
Relevansi dengan Program P2MW
INBISKOM juga sangat relevan dengan P2MW (Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha), karena keduanya sama-sama mendorong mahasiswa untuk menjadi pelaku bisnis yang mandiri. Melalui INBISKOM, mahasiswa sudah terbiasa:
- Menyusun model bisnis
- Mempresentasikan ide
- Mengembangkan produk
- Mengelola brand
Sehingga ketika masuk ke P2MW, mereka sudah lebih siap secara mental dan konsep.
Dampak Nyata INBISKOM bagi Mahasiswa
Bagi mahasiswa, INBISKOM bukan hanya tentang membuat usaha, tetapi juga tentang membangun mindset wirausaha digital. Peserta belajar bahwa:
- Gagal adalah bagian dari proses
- Data lebih penting daripada asumsi
- Branding sama pentingnya dengan produk
- Konsumen adalah pusat dari bisnis
Ini adalah bekal yang sangat penting, baik untuk membangun startup, UMKM, maupun berkarier di dunia industri kreatif dan digital.
Kesimpulan
INBISKOM tidak hanya berfungsi sebagai program pendampingan bisnis, tetapi sebagai ruang transformasi cara berpikir mahasiswa dan pelaku UMKM dalam memandang dunia usaha. Di tengah disrupsi digital yang begitu cepat, kemampuan memproduksi barang atau jasa saja tidak lagi cukup. Pelaku usaha harus mampu memahami perilaku konsumen, mengelola identitas merek, serta menguasai cara berkomunikasi di ruang digital yang penuh dengan kompetisi.
Melalui pendekatan yang menggabungkan kewirausahaan dan komunikasi bisnis, INBISKOM mengajarkan bahwa setiap produk harus memiliki cerita, nilai, dan positioning yang jelas. Produk yang tidak memiliki identitas akan mudah tergantikan, sementara brand yang kuat akan membangun loyalitas konsumen dalam jangka panjang. Inilah mengapa branding dan digital marketing tidak bisa dipisahkan dari proses membangun usaha modern.
Selain itu, INBISKOM juga membekali peserta dengan cara berpikir berbasis data dan pasar. Mahasiswa tidak hanya diajak untuk membuat produk, tetapi juga menganalisis siapa konsumennya, apa kebutuhannya, dan bagaimana cara menjangkaunya secara efektif. Pendekatan ini membuat bisnis yang lahir dari INBISKOM lebih realistis, terukur, dan siap bersaing.
Keunggulan lain dari INBISKOM adalah kemampuannya menghubungkan dunia akademik dengan dunia industri dan pasar nyata. Melalui kegiatan business matching, mahasiswa dan UMKM tidak lagi berjalan sendiri, tetapi masuk ke dalam ekosistem bisnis yang lebih luas. Jaringan inilah yang sering menjadi faktor pembeda antara bisnis yang berhenti di tahap ide dan bisnis yang benar-benar berkembang.
Bagi mahasiswa, INBISKOM bukan hanya tentang membangun usaha, tetapi juga membangun karakter sebagai wirausahawan digital. Mereka belajar menghadapi ketidakpastian, mengelola risiko, beradaptasi dengan perubahan, serta berpikir kreatif dalam mencari solusi. Nilai-nilai ini akan tetap relevan, baik mahasiswa memilih menjadi pengusaha, profesional, maupun inovator di masa depan.
Pada akhirnya, INBISKOM berperan sebagai katalis yang mempercepat lahirnya UMKM dan wirausaha muda yang siap bersaing di era digital. Dengan fondasi produk yang kuat, brand yang jelas, serta strategi pemasaran digital yang tepat, pelaku usaha tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga tumbuh dan menciptakan dampak ekonomi yang lebih luas. Melalui INBISKOM, kewirausahaan tidak lagi sekadar aktivitas ekonomi, tetapi menjadi proses membangun nilai, identitas, dan masa depan.
Daftar Sumber
1. Kotler, P., & Keller, K. L. (2016). Marketing Management (15th ed.). Pearson Education.
2. Chaffey, D., & Ellis-Chadwick, F. (2019). Digital Marketing: Strategy, Implementation and Practice (7th ed.). Pearson.
3. Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia. (2023). Perkembangan UMKM dan Digitalisasi UMKM di Indonesia.
4. Badan Pusat Statistik (BPS). (2023). Statistik Usaha Mikro dan Kecil Indonesia.
5. Tjiptono, F. (2015). Strategi Pemasaran. Andi Offset.
6. Laudon, K. C., & Traver, C. G. (2022). E-Commerce: Business, Technology, Society. Pearson.