Kesalahan Umum dalam Branding Produk yang Sering Terjadi

7–10 minutes

Branding produk sering terdengar seperti sesuatu yang rumit, mahal, dan hanya cocok untuk brand besar. Padahal kenyataannya, branding justru sangat menentukan nasib produk, baik itu bisnis kecil, UMKM, startup, sampai perusahaan besar. Sayangnya, banyak pelaku usaha yang sudah berusaha membangun branding, tetapi hasilnya tidak maksimal. Bukan karena produknya jelek, melainkan karena ada kesalahan-kesalahan mendasar yang sering tidak disadari.

Menganggap Branding Hanya Soal Logo dan Visual

Ini adalah kesalahan paling klasik dan paling sering terjadi. Banyak orang berpikir branding itu selesai begitu logo jadi, warna brand sudah ditentukan, dan kemasan terlihat menarik. Padahal, branding jauh lebih luas dari sekadar tampilan visual.

Branding adalah tentang persepsi. Tentang bagaimana konsumen memandang produk Anda, bagaimana mereka merasa saat menggunakan produk tersebut, dan bagaimana pengalaman mereka berinteraksi dengan brand Anda. Logo memang penting, tetapi ia hanya pintu masuk. Kalau setelah pintu dibuka isinya kosong, konsumen tidak akan betah.

Misalnya, logo terlihat premium, tetapi pelayanan lambat, admin tidak ramah, atau kualitas produk tidak konsisten. Akhirnya apa yang terjadi? Konsumen merasa tertipu. Branding yang seharusnya membangun kepercayaan justru berubah menjadi sumber kekecewaan.

Brand yang kuat selalu selaras antara tampilan luar dan pengalaman nyata.

Tidak Punya Identitas Brand yang Jelas

Banyak produk ingin terlihat “bisa untuk semua orang”. Akibatnya, pesan brand menjadi kabur. Mau dibilang premium tapi harganya murah. Mau terlihat santai tapi komunikasinya kaku. Mau terlihat dekat dengan anak muda tapi gaya bahasanya formal.

Brand yang tidak punya identitas jelas akan sulit diingat. Konsumen bingung, sebenarnya produk ini cocok untuk siapa. Dan kalau konsumen sudah bingung, mereka cenderung memilih brand lain yang lebih tegas posisinya.

Identitas brand mencakup banyak hal. Mulai dari nilai yang dipegang, karakter komunikasi, gaya visual, sampai cara berinteraksi dengan konsumen. Brand yang kuat tahu betul siapa dirinya dan berani konsisten dengan pilihan itu.

Lebih baik punya pasar yang spesifik tapi loyal, daripada mencoba menyenangkan semua orang tapi tidak diingat siapa pun.

Terlalu Fokus Jualan, Lupa Membangun Hubungan

Branding bukan soal seberapa sering Anda mempromosikan produk. Branding adalah soal membangun hubungan jangka panjang dengan konsumen. Sayangnya, banyak brand yang komunikasinya hanya berisi “beli, beli, dan beli”.

Media sosial penuh dengan katalog. Caption hanya harga dan diskon. Tidak ada cerita, tidak ada nilai, tidak ada kedekatan emosional. Konsumen akhirnya merasa brand ini hanya datang saat ingin menjual sesuatu.

Padahal, konsumen hari ini ingin lebih dari sekadar produk. Mereka ingin merasa dipahami, dihargai, dan dilibatkan. Brand yang baik tahu kapan harus menjual dan kapan harus mendengarkan.

Coba sesekali berbagi cerita di balik produk, edukasi ringan, atau sekadar menyapa audiens dengan jujur. Branding yang manusiawi jauh lebih mudah melekat di hati.

Tidak Konsisten dalam Komunikasi

Hari ini pakai bahasa santai, besok formal. Hari ini logo warnanya cerah, besok berubah jadi gelap. Hari ini mengusung nilai ramah lingkungan, besok kemasan sekali pakai tanpa penjelasan.

Ketidakkonsistenan adalah musuh utama branding. Konsumen membutuhkan kejelasan dan kestabilan agar bisa percaya. Brand yang sering berubah tanpa arah yang jelas akan terlihat tidak serius.

Konsistensi tidak berarti kaku atau tidak bisa berkembang. Brand tetap bisa beradaptasi, tetapi dengan arah yang jelas. Setiap perubahan harus terasa sebagai evolusi, bukan kebingungan.

Ingat, kepercayaan dibangun dari hal kecil yang dilakukan secara konsisten.

Meniru Brand Lain Tanpa Penyesuaian

Terinspirasi itu wajar. Meniru mentah-mentah itu berbahaya. Banyak brand baru yang terlalu ingin terlihat seperti brand besar, akhirnya kehilangan jati diri sendiri.

Gaya visual mirip. Gaya bahasa mirip. Bahkan konsep kampanye pun mirip. Hasilnya, brand tersebut tidak punya pembeda. Konsumen akan selalu membandingkan dan pada akhirnya memilih “yang asli”.

Branding yang baik justru berangkat dari keunikan. Setiap brand punya cerita, nilai, dan konteks yang berbeda. Yang perlu dilakukan adalah menggali kelebihan sendiri, bukan menyalin kelebihan orang lain.

Keaslian dalam branding terasa. Dan konsumen bisa membedakan mana yang tulus dan mana yang sekadar ikut tren.

Tidak Memahami Target Audiens

Salah satu kesalahan fatal dalam branding adalah tidak benar-benar memahami siapa target konsumen. Banyak brand hanya menebak-nebak, tanpa riset atau observasi yang cukup.

Akibatnya, pesan yang disampaikan tidak nyambung. Bahasa yang digunakan tidak relevan. Konten yang dibuat tidak menarik. Produk yang ditawarkan tidak menjawab kebutuhan.

Branding yang efektif selalu dimulai dari pemahaman audiens. Apa masalah mereka, apa kebiasaan mereka, apa yang mereka cari, dan bagaimana mereka berkomunikasi.

Semakin dalam pemahaman terhadap audiens, semakin tepat branding yang dibangun.

Mengabaikan Pengalaman Konsumen

Branding tidak berhenti saat produk terjual. Justru di situlah branding diuji. Pengalaman konsumen setelah membeli sangat menentukan apakah brand Anda akan diingat dengan baik atau tidak.

Proses pemesanan ribet, pengiriman lama, komplain tidak ditanggapi, atau admin yang defensif bisa merusak branding dalam sekejap. Sebagus apa pun kampanye Anda, pengalaman buruk akan lebih diingat konsumen.

Brand yang kuat selalu memperhatikan setiap titik interaksi dengan konsumen. Dari pertama kali melihat iklan, mengunjungi media sosial, membeli produk, sampai layanan purna jual.

Setiap interaksi adalah bagian dari branding.

Tidak Punya Cerita Brand

Produk tanpa cerita terasa hambar. Konsumen hari ini menyukai brand yang punya makna. Bukan sekadar menjual barang, tetapi membawa nilai, visi, atau misi tertentu.

Sayangnya, banyak brand tidak memanfaatkan kekuatan storytelling. Mereka sibuk menjelaskan fitur, tetapi lupa menjelaskan “kenapa brand ini ada”.

Cerita brand tidak harus dramatis. Bisa tentang alasan memulai usaha, keresahan yang ingin dijawab, atau komitmen terhadap kualitas. Cerita inilah yang membuat brand terasa hidup dan dekat.

Ketika konsumen merasa terhubung dengan cerita, loyalitas akan tumbuh dengan sendirinya.

Ingin Cepat Terlihat Besar

Branding adalah proses, bukan sulap. Banyak brand ingin langsung terlihat besar, profesional, dan sempurna sejak awal. Akibatnya, mereka terburu-buru, tidak sabar, dan mudah kecewa.

Padahal, brand besar yang kita lihat hari ini juga melalui proses panjang. Mereka membangun kepercayaan sedikit demi sedikit. Mereka belajar dari kesalahan. Mereka tumbuh bersama konsumennya.

Branding yang dipaksakan justru terlihat tidak natural. Lebih baik tumbuh perlahan tapi solid, daripada cepat besar tapi rapuh.

Tidak Mau Mendengar Masukan

Kesalahan terakhir yang sering terjadi adalah ego. Brand merasa sudah paling benar dan enggan mendengar kritik dari konsumen.

Padahal, masukan adalah bahan bakar perbaikan branding. Dari situlah kita tahu apa yang perlu diperbaiki, apa yang perlu dipertahankan, dan apa yang perlu dikembangkan.

Brand yang mau mendengar akan terus relevan. Brand yang menutup diri perlahan akan ditinggalkan.

Terlalu Mengandalkan Tren Tanpa Arah Jelas

Mengikuti tren itu tidak salah. Masalahnya muncul ketika brand terlalu bergantung pada tren tanpa tahu apakah tren tersebut relevan dengan identitas brand atau tidak. Hari ini ikut tren desain minimalis, besok ikut gaya retro, lusa ganti tone komunikasi karena sedang viral.

Akhirnya, brand terlihat sibuk mengejar perhatian, tapi kehilangan karakter. Konsumen jadi sulit mengenali ciri khas brand Anda. Yang lebih parah, begitu tren berlalu, brand ikut kehilangan arah.

Branding yang kuat tidak anti tren, tetapi selektif. Tren seharusnya menjadi alat, bukan fondasi utama. Fondasi branding tetap harus berasal dari nilai, tujuan, dan karakter brand itu sendiri.

Ingat, tren itu sementara. Identitas brand seharusnya bertahan lebih lama.

Tidak Menyesuaikan Branding dengan Perkembangan Media

Banyak brand sudah punya produk bagus dan konsep branding yang cukup matang, tetapi cara menyampaikannya tertinggal. Visual tidak dioptimalkan untuk media digital, bahasa komunikasi terasa kaku, atau konten tidak relevan dengan platform yang digunakan.

Branding di media sosial tentu berbeda dengan branding di website, marketplace, atau offline store. Kalau semuanya disamakan, pesan brand bisa kehilangan kekuatannya.

Brand yang adaptif paham bahwa setiap media punya karakter audiens sendiri. Cara berbicara di Instagram tidak harus sama dengan cara berbicara di email atau website, tetapi tetap berada dalam satu identitas yang konsisten.

Branding yang baik selalu mengikuti perubahan perilaku audiens, bukan memaksa audiens mengikuti cara lama brand.

Mengabaikan Peran Tim dalam Branding

Branding sering dianggap tugas satu orang, biasanya pemilik bisnis atau tim desain. Padahal, branding hidup lewat semua orang yang terlibat di dalam brand tersebut.

Admin yang membalas chat, kurir yang mengantar produk, customer service yang menangani komplain, sampai cara tim internal berkomunikasi. Semua itu mempengaruhi citra brand di mata konsumen.

Kalau tim tidak memahami nilai dan karakter brand, branding akan mudah bocor. Pesan yang ingin dibangun tidak tersampaikan secara utuh.

Brand yang kuat biasanya punya satu kesamaan. Semua orang di dalamnya tahu brand ini mau dibawa ke mana dan bagaimana cara bersikap kepada konsumen.

Menganggap Branding Tidak Perlu Evaluasi

Banyak brand membangun branding di awal, lalu merasa itu sudah cukup untuk jangka panjang. Padahal, pasar berubah, audiens berkembang, dan kebutuhan konsumen bisa bergeser.

Branding yang tidak pernah dievaluasi berisiko menjadi tidak relevan. Pesan yang dulu kuat bisa jadi tidak lagi nyambung. Gaya komunikasi yang dulu efektif bisa terasa usang.

Evaluasi branding bukan berarti harus sering ganti konsep. Evaluasi berarti memastikan bahwa brand masih selaras dengan audiens dan tujuan bisnis saat ini.

Brand yang bertahan lama adalah brand yang mau bercermin secara berkala.

Tidak Sabar Menunggu Hasil Branding

Kesalahan terakhir ini sering terjadi, terutama di era serba cepat. Baru membangun branding beberapa bulan, tapi sudah merasa tidak ada dampak. Lalu mulai ragu, ganti konsep, atau bahkan menyerah.

Padahal, branding bukan strategi instan. Branding bekerja secara perlahan, membangun persepsi sedikit demi sedikit. Dampaknya sering baru terasa setelah konsumen melihat brand Anda berulang kali dan mengalami langsung kualitasnya.

Branding membutuhkan konsistensi dan kesabaran. Hasilnya mungkin tidak langsung terlihat dalam angka penjualan, tetapi terasa dalam kepercayaan, loyalitas, dan rekomendasi dari mulut ke mulut.

Kalau Anda sabar merawat brand, brand akan membalasnya dalam jangka panjang.

Branding produk bukan soal terlihat keren, tetapi soal membangun makna, kepercayaan, dan hubungan jangka panjang dengan konsumen. Kesalahan dalam branding memang wajar, terutama di tahap awal. Yang terpenting adalah kesadaran untuk belajar dan memperbaiki.

Brand Anda tidak harus sempurna. Yang penting, ia unik, konsisten, dan terus evaluasi.

Penulis:

Mohammad Hardiansyah

Bandung

2025