Bulan Ramadan sering dianggap sebagai momen emas bagi pelaku usaha makanan. Namun, kenyataannya tidak semua jenis usaha kuliner mengalami lonjakan penjualan. Beberapa justru menghadapi penurunan omset, terutama usaha makanan berat yang biasanya ramai di siang hari. Kondisi ini menuntut pelaku usaha untuk lebih kreatif dan adaptif agar tetap bertahan.
Salah satu tantangan utama usaha makanan di bulan puasa adalah perubahan pola konsumsi masyarakat. Konsumen cenderung menahan diri untuk membeli makanan di siang hari dan lebih fokus pada menu berbuka atau sahur. Jika tidak disikapi dengan strategi yang tepat, usaha bisa mengalami penurunan pendapatan yang cukup signifikan. Berikut beberapa strategi yang dapat diikuti:
1.Menyesuaikan Waktu dan Jenis Produk
Strategi pertama yang bisa dilakukan adalah menyesuaikan jam operasional dan jenis produk yang dijual. Pelaku usaha dapat mengurangi jam buka di siang hari dan memfokuskan penjualan menjelang waktu berbuka puasa. Selain itu, menu juga bisa disesuaikan, misalnya dengan menyediakan paket berbuka, takjil, atau menu praktis untuk sahur.
2. Membuat Paket Hemat dan Menarik
Di bulan puasa, konsumen cenderung lebih selektif dalam berbelanja. Oleh karena itu, menawarkan paket hemat bisa menjadi solusi. Paket berbuka puasa untuk dua atau tiga orang dengan harga lebih terjangkau dapat menarik minat pembeli. Selain meningkatkan penjualan, strategi ini juga memberi kesan bahwa usaha tersebut memahami kebutuhan konsumen selama ramadhan.
3. Memaksimalkan Promosi Digital
Promosi menjadi kunci penting saat kondisi pasar sedang sepi. Media sosial bisa dimanfaatkan untuk menginformasikan menu khusus Ramadan, promo waktu tertentu, atau diskon menjelang berbuka. Konten sederhana seperti foto menu, video proses memasak, atau testimoni pelanggan dapat membantu meningkatkan ketertarikan konsumen.
4. Menjalin Kerja Sama
Pelaku usaha juga bisa menjalin kerja sama dengan usaha lain, seperti penjual minuman atau takjil, untuk membuat paket kolaborasi. Selain memperluas jangkauan pasar, kerja sama ini dapat menekan biaya promosi dan memberikan nilai tambah bagi konsumen.
Kondisi sepi bukanlah akhir, melainkan peluang untuk beradaptasi dan memperkuat strategi kewirausahaan. Namun, dengan strategi yang tepat, seperti penyesuaian produk, promosi yang efektif, dan inovasi layanan, usaha tetap bisa bertahan bahkan berkembang.
ditulis oleh Jihan Nabila
NIM 41822119 – Kelas IK-4