Pendahuluan
Cireng merupakan salah satu makanan tradisioanl yang memiliki bahan baku tepung tapioka atau di masyarakat jawa barat khususnya sunda sering disebut ‘aci’. Dimana rata rata banyak jajanan atau makanan olahan yang popular berbahan baku aci diantaranya cimol, cilok, cilor, cipuk dan masih banyak lagi tentu salah satunya yang akan dibahas yaitu cireng. Cireng tradisional biasanya hanya polos tanpa ada isian dan disajikan dengan cocolan berupa saus kacang, namun dengan berkembangnya dunia kuliner para penjual cireng berlomba lomba mengembangkan jajanan jadul ini menjadi lebih modern dengan tujuan untuk menjaring konsumen anak muda, muncuulah varian cireng yang lebih modern ada yang melakukan pendekatan memodifikasi isi dari cireng seperti cireng isi jando, keju, ayam suwir, ayam rica, keju mozarela dan masih banyak. Adapun yang berinovasi dengan pendekatan merubah pendamping dari cireng misal cireng dengan saus keju ataupun cireng dengan chili olil. Selain upaya tersebut untuk mengupayakan cireng tetap mengikuti zaman harus juga dilakukan pergerseran pemasaran dari konvensional ke pemasaran digital guna memperluas dan meningkatkan daya saing produk.
Pemasaran konvensional yang menjadi andalan penjual cireng
Pemasaran konvensional masih sering banyak digunakan oleh para penjual cireng dengan menggunakan grobak berkeliling maupun diam ditempat atau dengan kata lain para penjual masih banyak yang menggunakan pemasaran konvensional menurut Tciptono, F. (2019) mengatakan Pemasaran konvensional merupakan pendekatan pemasaran yang mengandalkan metode offline dan hubungan langsung dengan pelanggan, di mana komunikasi pemasaran dilakukan tanpa dukungan teknologi digital. Dengan menggunakan pemasaran konvesional ini memiliki kekurangan dimana jankauan pasar terbatas hanya pada wilayah sekitar, promosi sederhana tanpa media digital, ketergantungan pada pelanggan tetap, serta minim identitas merk (branding) meskipun metode ini relative murah, keterbatasan jangkauan dan persaingan usaha menjadi tantangan utama dalam mempertahankan keberlanjutan produk.
Tentunya para penjual cireng harus perlahan beranjak dari pemasaran konvensional ke pemasaran digital guna memperluas pasar dan meningkatkan masadari brand cireng yang akan dijual. Pada perkembangan aman teknologi seperti ini dimana era digital semakin masif otomatis pada sektor pemasaran juga akan terkena dampak mungkin bisa disebut terkena dampak baik karena bisa memasarkan produk dengan menggunakan transformasi digital. Tentu produk yang masih menggunakan pemasaran konvensional akan kalah cepat dengan produk yang menggunakan pemasaran digital, mungkin bisa dikombinasikan antara pemasaran konvensional dan pemasaran digital dilakukan dengan bersamaan
Pemasaran digital menjadi peluang bagus untuk usaha mikro cireng
Pemasaran digital atau digital marketing merujuk pada seluruh aktivias pemasaran yang menggunakan platform digital untuk mempromosikan dan menjual produk atau layanan. Dalam era teknologi yang semakin maju ini, pemasaran digital menjadi salah satu komponen yang tidak terpisahkan dari strategi bisnis digital (Bayti et al., 2025) didalam kutipan tersebut disebutkan bahwa pemasaran digital pada zaman sekarang menggunakan platform digital dimana salah satu platform digital yang sangat masif dan banyak sekali digunakan adalah media sosial bisa melalui Instagram atau tiktok, bahkan untuk tiktok sendiri sudah menyediakan tiktok shop. pada aplikasi tiktok para penjual bisa memasarkan produk dengan cepat bisa diketahui oleh orang orang banyak didalam buku itu juga disebutkan pengertian pemasaran digital tidak hanya mencakup promosi produk melalui saluran digital, tetapi juga cara perusahaan berkomunikasi dan membangun hubungan dengan audiens mereka, konsep dasaar pemasaran digital berfokus pada pemberi informasi yang relevan kepada konsumen yang tepat di waktu yang tepat (Bayti et al., 2025).
Tentu saja pemasaran digital bisa menjadi salah satu cara bagi usaha mikro seperti cireng untuk bisa memasarkan produk secara masif dan cepat yang akan memberikan banyak dampak positif bagi produk misalnya melalui pemasaran digital bisnis dapat mengumpulkan data tentang audiens mereka dan alat analisis web, perusahaan dapat mempelajari lebih lanjut tentang minat, preferensi, dan perilaku pembelian audiens mereka. Melalui pemanfaatan media digital seperti media sosial, marketplace, dan layanan pesar antar online, pelaku usaha cireng dapat memperluas jangkauan pasar tanpa harus bergantung pada penjualan fisik.
Transformasi pemasaran konvensional ke pemasaran digital
Transformasi pemasaran secara konvensional ke pemasaran digital mau tidak mau harus dilakukan oleh para penjual cireng di zaman sekarang dimana perkembangan teknologi sangat masif guna memperlebar dan meningkatkan daya saing produk. Dalam transformasi ini tentu akan menghadapi tantangan menurut (Faridy et al., 2025) Perubahan ini tidak tanpa tantangan pergeseran digital memerlukan penyesuaian budaya, peningkatan keterampilan, dan investasi teknologi. Banyak perusahaan terutama usaha mikro menghadapi kesulitan dalam mengadopsi transormasi ini karena keterbatasan sumber daya dan pengtahuan. Tetapi beberapa tantangan tersebut bukan berarti menjadi penghalang bagi para pengusaha mikro untuk tidak melakukan transformasi permasaran agar produk tetap memiliki daya saing dengan produk lain.
Transformasi pemasaran dari konvensional ke pemasaran digital menjadi langkah strategis bagi usaha mikro cireng dalam meningkatkan daya saing di tengah persaingan industri kuliner yang semakin kompetitif. Sebelumnya, pemasaran cireng lebih banyak mengandalkan penjualan langsung, promosi dari mulut ke mulut, serta jangkauan pasar yang terbatas pada lingkungan sekitar. Pola pemasaran tersebut dinilai kurang mampu menjawab perubahan perilaku konsumen yang kini lebih aktif mencari informasi dan melakukan pembelian melalui platform digital.
Melalui pemasaran digital, usaha mikro cireng dapat memanfaatkan media sosial, marketplace, dan layanan pesan antar online untuk memperluas jangkauan pasar serta meningkatkan visibilitas produk. Konten promosi berupa foto dan video produk yang menarik, informasi harga, serta promo yang mudah diakses konsumen menjadi nilai tambah dalam menarik minat beli. Selain itu, pemasaran digital memungkinkan interaksi dua arah antara pelaku usaha dan konsumen, sehingga hubungan pelanggan dapat terbangun dengan lebih baik.
Transformasi ini tidak hanya berdampak pada peningkatan penjualan, tetapi juga memperkuat citra merek produk cireng agar lebih modern dan kompetitif. Dengan strategi pemasaran digital yang tepat dan konsisten, usaha mikro cireng mampu menciptakan diferensiasi produk, meningkatkan kepercayaan konsumen, serta mempertahankan keberlanjutan usaha di era digital.
Daya Saing Produk
Daya saing produk merupakan kemampuan suatu produk untuk bertahan dan unggul dibandingkan produk sejenis di pasar. Dalam konteks usaha mikro cireng, daya saing tidak hanya ditentukan oleh harga, tetapi juga oleh kualitas produk, keunikan rasa, kemasan, serta citra merek yang dibangun. Di tengah maraknya produk jajanan sejenis, usaha mikro cireng dituntut untuk mampu menampilkan keunggulan produk agar dapat menarik perhatian dan kepercayaan konsumen.
Pemasaran digital berperan penting dalam meningkatkan daya saing produk cireng melalui peningkatan visibilitas dan diferensiasi produk. Melalui media sosial dan platform digital lainnya, pelaku usaha dapat menampilkan keunikan produk, proses produksi yang higienis, serta variasi rasa yang ditawarkan. Konten digital yang konsisten dan menarik mampu membentuk persepsi positif konsumen terhadap kualitas produk, sehingga produk cireng tidak hanya dipandang sebagai jajanan tradisional, tetapi juga sebagai produk kuliner yang bernilai dan layak bersaing.
Selain itu, pemasaran digital memungkinkan usaha mikro cireng untuk merespons kebutuhan dan preferensi konsumen secara lebih cepat dan fleksibel. Umpan balik konsumen yang diperoleh melalui komentar, ulasan, dan pesan langsung dapat digunakan sebagai dasar evaluasi dan inovasi produk. Dengan demikian, peningkatan daya saing tidak hanya bersifat jangka pendek melalui promosi, tetapi juga berkelanjutan melalui perbaikan kualitas, inovasi produk, dan penguatan hubungan dengan konsumen.
Penutup
Transformasi pemasaran dari konvensional ke pemasaran digital menjadi kebutuhan penting bagi usaha mikro cireng dalam menghadapi dinamika pasar yang terus berkembang. Perubahan ini memungkinkan pelaku usaha untuk tidak hanya bergantung pada metode pemasaran tradisional yang memiliki jangkauan terbatas, tetapi juga memanfaatkan teknologi digital guna menjangkau konsumen yang lebih luas dan beragam. Melalui pemasaran digital, usaha mikro cireng dapat meningkatkan visibilitas produk, memperkuat identitas merek, serta menciptakan komunikasi yang lebih efektif dengan konsumen.
Selain itu, penerapan pemasaran digital secara konsisten dapat mendorong peningkatan daya saing dan keberlanjutan usaha mikro cireng. Kemampuan untuk menyesuaikan strategi pemasaran dengan kebutuhan dan preferensi konsumen, didukung oleh umpan balik yang diperoleh melalui platform digital, menjadi nilai tambah dalam pengembangan usaha. Dengan demikian, transformasi pemasaran ini diharapkan mampu membantu usaha mikro cireng bertahan dan berkembang di tengah persaingan bisnis kuliner yang semakin kompetitif.
Keberhasilan transformasi pemasaran konvensional ke pemasaran digital pada usaha mikro cireng sangat bergantung pada kesiapan pelaku usaha dalam mengembangkan literasi digital dan konsistensi dalam menjalankan strategi pemasaran. Dukungan berupa pelatihan, pendampingan, serta pemanfaatan teknologi yang mudah diakses menjadi faktor penting agar pemasaran digital dapat diterapkan secara optimal. Dengan dukungan tersebut, usaha mikro cireng tidak hanya mampu meningkatkan kinerja pemasaran, tetapi juga menciptakan peluang pertumbuhan usaha yang berkelanjutan di era digital.
REFERENSI :
Tjiptono, F. (2019). Strategi pemasaran (Edisi 4). ANDI Offset.
Bayti, N., Deryane, I., & Putra, A. S. (2025). Strategi Pemasaran Digital Berbasis Influencer: Teori, Konsep, dan Aplikasi. CV BATAM PUBLIHER.
Faridy, N., Syahputra, H., Eldon, M., & Sangadah, H. A. (2025). Strategi Pemasaran Digital. Sada Kurnia Pustaka.