Dalam dunia anime mecha, desain robot biasanya berfungsi sebagai simbol kekuatan atau keajaiban teknologi. Namun, Neon Genesis Evangelion (NGE) karya Hideaki Anno mendekonstruksi pakem ini. Desain Evangelion (EVA) dan Plugsuit (kostum pilot) bukan sekadar alat tempur, melainkan manifestasi fisik dari trauma, ego, dan pencarian identitas para pilotnya.
1. Armor EVA: Penjara, Bukan Pelindung
Salah satu miskonsepsi terbesar bagi penonton baru adalah menganggap EVA sebagai robot. Secara teknis, EVA adalah organisme biologis raksasa yang “dibungkus” oleh plat logam.
Fungsi Restriksi: Armor pada Unit-01, 00, dan 02 sebenarnya berfungsi sebagai alat pengekang (restraints) untuk mengendalikan entitas di dalamnya agar tetap berada di bawah kendali manusia.
Representasi Identitas: Ini merefleksikan kondisi psikologis para pilot (Shinji, Rei, dan Asuka) yang merasa terkekang oleh ekspektasi orang dewasa dan organisasi NERV. Armor tersebut adalah “topeng” sosial yang menutupi kerapuhan dan kemarahan organik yang ada di dalamnya.
2. Plugsuit: Kerentanan dan Koneksi
Jika armor EVA adalah perlindungan eksternal, maka Plugsuit adalah representasi dari batas antara diri sendiri dan dunia luar.
Ketertelanjangan Psikologis: Desain Plugsuit yang sangat ketat menonjolkan bentuk tubuh pilot. Secara tematik, ini melambangkan kerentanan. Saat berada di dalam Entry Plug, pilot berada dalam kondisi yang hampir “telanjang” secara emosional, di mana pikiran mereka harus menyatu dengan mesin.
Sinergi Manusia-Mesin: Kostum ini dilengkapi dengan sensor saraf yang memungkinkan sinkronisasi. Efektivitas desain ini terletak pada bagaimana ia menunjukkan bahwa identitas pilot tidak lagi terpisah dari mesin yang mereka kendarai.
3. Simbolisme Warna dan Karakter
Pemilihan warna pada armor dan kostum dalam Evangelion sangat krusial untuk merepresentasikan identitas individu:
Shinji Ikari (Unit-01: Ungu & Hijau Neon)
Warna ungu secara tradisional melambangkan ambiguitas, misteri, dan kesedihan. Hijau neon memberikan kesan “asing” atau alien. Kombinasi ini mencerminkan Shinji yang berada di ambang antara keinginan untuk diterima dan ketakutannya terhadap rasa sakit (Dilema Landak).
Rei Ayanami (Unit-00: Putih & Biru Muda)
Warna putih sering diasosiasikan dengan sterilitas, kemurnian, namun juga kekosongan. Desain Rei yang monokromatik menekankan statusnya sebagai “tabula rasa” atau manusia buatan yang mencari jiwa. Ia adalah kanvas kosong yang identitasnya ditentukan oleh perintah orang lain.
Asuka Langley Soryu (Unit-02: Merah)
Merah adalah warna gairah, agresi, dan harga diri yang tinggi. Desain Unit-02 yang dominan merah mencerminkan eksterior Asuka yang keras dan keinginannya yang membara untuk menjadi yang terbaik guna menutupi rasa tidak amannya.
4. Efektivitas Visual dalam Narasi
Desain-desain ini sangat efektif karena mereka berbicara sebelum karakter berucap. Saat kita melihat Unit-01 yang membungkuk secara organik dan liar (saat mode berserk), kita langsung memahami bahwa identitas Shinji sedang runtuh dan diambil alih oleh insting purba.
Penggunaan elemen desain ini membuktikan bahwa kostum dalam animasi bukan hanya soal merchandise, melainkan alat bercerita yang kuat. Identitas dalam Evangelion bersifat cair, menyakitkan, dan seringkali tumpang tindih antara manusia dan mesin, yang semuanya tertuang dengan apik dalam guratan desain armor dan kostumnya.