Menyulap Banjir Dago Menjadi Taman Cantik: Solusi Rain Garden Berbasis Kearifan Lokal untuk Kawasan Padat Bandung Utara

4–7 minutes

Syahin Ramdhan Usman

Pendahuluan: Ironi di Balik Kesejukan Dago
Siapa yang tidak kenal Dago? Bagi mahasiswa UNIKOM dan warga Bandung, kawasan Dago adalah ikon. Ia dikenal dengan udaranya yang (dulunya) sejuk, kafe-kafe estetik, dan pemandangan perbukitan yang memanjakan mata. Dago adalah identitas spasial Kota Bandung yang tak tergantikan. Namun, ada ironi besar yang kini menghantui kawasan elit ini. Di balik pesona wisatanya, Dago menyimpan “bom waktu” ekologis yang meledak setiap kali musim hujan tiba: Banjir Limpasan .

Pernahkah Anda melintasi Jalan Tubagus Ismail atau kawasan Sekeloa (belakang kampus UNIKOM) saat hujan deras? Jalanan yang seharusnya menjadi akses warga berubah menjadi sungai kecil. Air bercampur lumpur cokelat mengalir deras, membuat jalanan licin, kotor, dan membahayakan pengendara. Fenomena ini bukan sekedar kenyamanan sesaat, melainkan tanda bahwa tanah di Dago sudah “sesak napas”.

Sebagai mahasiswa yang peduli terhadap lingkungan dan tata ruang, tim Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) kami merasa nyaman. Apakah solusi banjir harus selalu dengan membongkar jalan dan memasang beton gorong-gorong raksasa? Ternyata tidak. Jawabannya mungkin ada di alam itu sendiri, melalui konsep yang kami sebut: Optimasi Sistem Bioretensi Rain Garden .

Akar Masalah: Ketika Tanah Kehilangan Pori-porinya
Sebelum membahas solusinya, kita harus memahami “penyakit” utamanya. Berdasarkan analisis tapak yang kami lakukan, masalah utama di Dago—khususnya Dago Bawah—adalah Transformasi Spasial .

Dalam beberapa dekade terakhir, Dago mengalami pembangunan yang sangat masif. Rumah tinggal, kos-kosan pelajar, hingga gedung komersial berlomba-lomba memadati lahan. Akibatnya, Koefisien Dasar Bangunan (KDB) melonjak drastis. Lahan yang dulunya tanah terbuka tempat air meresap, kini tertutup oleh material keras ( hardscape ) seperti aspal dan beton.

Ketika hujan turun dengan intensitas ekstrem yang menurut BMKG (2024) bisa mencapai 120 mm/hari udara tidak punya tempat untuk masuk ke dalam tanah. Air hujan yang jatuh ke atap dan jalan beton langsung mengalir deras di permukaan. Inilah yang disebut limpasan permukaan .

Masalah diperparah dengan sistem drainase konvensional kita. Selokan-selokan terbuka di Dago Bawah mencapai dangkal. Mengapa? Karena limpasan udara tadi tidak datang sendirian; ia membawa tanah, sampah, dan lumpur dari hulu. Saat hujan reda, lumpur itu mengendap, mengering, dan memadat (sedimentasi). Akibatnya, selokan menjadi dangkal permanen. Saat hujan datang lagi, udara pun meluap. Ini adalah siklus kegagalan infrastruktur yang terus berulang.

Rain Garden : Bukan Sekadar Taman Biasa

Di sini proposal penelitian kami menawarkan perspektif yang berbeda. Kami tidak melawan keinginan udara dengan beton, tetapi kami ingin “berteman” dengan udara melalui pendekatan Arsitektur Lanskap. Solusinya adalah Bioretensi Rain Garden .

Mungkin Anda bertanya, “Apa bedanya Rain Garden dengan taman biasa?”

Taman biasa umumnya hanya berfungsi estetis (pemanis mata). Air hujan di taman biasanya justru dibuang ke selokan. Sebaliknya, Rain Garden adalah cekungan taman yang didesain secara teknis untuk menangkap, menahan, dan menyerap udara hujan .

Bayangkan sebuah sponsor raksasa. Rain Garden bekerja seperti sponsor tersebut. Ia terdiri dari lapisan media tanam khusus (tanah, pasir, kompos) dan vegetasi pilihan yang berfungsi menyerap udara secepat mungkin ke dalam tanah, sekaligus menyaring polutan. Jadi, udara yang melimpas di jalanan tidak langsung duduk di selokan kota, tetapi “parkir” dulu di Rain Garden , disaring oleh akar tanaman, baru kemudian meresap menjadi air tanah cadangan.

Metode Riset: Belajar dari Dago Jati, Penerapan di Tubagus
Keunikan dari penelitian PKM kami terletak pada metodenya. Kami tidak menggunakan rumus-rumus teknik sipil yang rumit. Kami menggunakan pendekatan Observasi Arsitektural dan Studi Preseden Alam .

Kami membagi lokasi penelitian menjadi dua:

1. Lokasi “Masalah” (Tubagus Ismail & Sekeloa) Di sini kami menemukan realita pahit: dominasi beton, drainase mampet, dan minimnya area hijau. Ini adalah kanvas kosong yang perlu kami perbaiki desainnya.

2. Lokasi “Guru” (Dago Jati & Dago Heritage) Kami melakukan survei ke area Dago Jati dan sekitar lapangan golf Dago Heritage. Di sana, kami menemukan fenomena menarik. Meski berkontur miring, wilayah ini jarang mengalami banjir parah. Mengapa?

Berdasarkan dokumentasi lapangan (termasuk foto-foto tim survei), kami melihat adanya sabuk vegetasi alami . Tanaman semak liar, rumput gajah, dan tanaman hias seperti Puring ( Codiaeum variegatum ) tumbuh subur di pinggir jalan. Secara tidak sadar, tanaman-tanaman ini telah berfungsi sebagai bioswale alami. Akar mereka mencengkeram tanah agar tidak longsor, dan rimbunnya daun menahan laju air hujan.

Desain Strategi: Mengawinkan Estetika dan Fungsi
Dari hasil “berguru” di alam di Dago Jati tersebut, kami menyusun rancangan strategi untuk Dago Bawah. Kami menyebutnya Adaptasi Desain pada Topografi Berkontur .

Kami merancang modul Rain Garden yang bisa diselipkan di lahan-lahan sisa ( ruang sisa ) di kawasan padat Tubagus. Desain ini memiliki beberapa fitur kunci:

Perangkap Sedimen (Perangkap Lumpur): Sebelum air masuk ke saluran kota, ia harus melewati area taman ini. Lumpur akan tertahan di antara tanaman, sehingga air yang keluar menjadi lebih jernih. Ini mencegah pendangkalan selokan.

Vegetasi Lokal yang Tangguh: Kami tidak menggunakan tanaman impor yang manja. Kami memilih tanaman lokal yang kami temukan saat survei (seperti Puring dan tanaman perdu lokal). Tanaman ini terbukti tahan banting: tahan panas saat kemarau, dan tahan tergenang saat hujan ( tahan banjir ).

Peningkatan Estetika (Kenyamanan): Ini poin penting dalam arsitektur. Pengendalian banjir tidak harus terlihat kumuh. Dengan penataan softscape yang apik, Rain Garden ini akan mempercantik gang-gang sempit di belakang kampus, menurunkan suhu mikro (lebih adem), dan memberikan kesegaran visual bagi warga.

Harapan dan Kontribusi
Melalui proposal PKM ini, kami berharap dapat mengubah paradigma pembangunan di Bandung. Sudah saatnya kita beralih dari Grey Infrastructure (beton/pipa) menuju Green Infrastructure (taman/resapan).

Jika konsep ini diterapkan, manfaatnya sangat besar:


Mengurangi Banjir: Volume udara yang menggenang di jalan akan berkurang drastis karena terserap di lokasi ( infiltrasi on-site ).

Air Tanah Terjaga: Air hujan tidak terbuang percuma ke laut, tapi kembali mengisi akuifer air tanah Bandung yang semakin krisis.

Wajah Kota Lebih Cantik: Dago Bawah akan memiliki lebih banyak ruang hijau yang tertata, bukan sekadar selokan beton yang kotor.

Riset ini adalah langkah kecil kami sebagai mahasiswa UNIKOM untuk berkontribusi di kota tempat kami menimba ilmu. Kami percaya, solusi masalah lingkungan tidak selalu harus mahal dan rumit. Terkadang, solusinya ada di depan mata kita: kembali ke alam, dengan desain yang lebih cerdas.

Mari dukung gerakan Sponge City mulai dari lingkungan terdekat kita!

REFERENSI & BACAAN LANJUTAN

Bagi rekan-rekan yang tertarik mendalami topik Low Impact Development dan Bioretention , berikut adalah referensi ilmiah yang menjadi landasan proposal kami:

Goh dkk. (2019). Tinjauan penerapan Low Impact Development (LID) di wilayah tropis. (Membasah curah hujan tinggi di negara tropis).

Mangangka, I. dkk. (2017). Kinerja hidrolik bioretensi. (Penelitian pakar Indonesia mengenai efektivitas bioretensi menahan banjir).

Liu, J. dkk. (2021). Kinerja sistem bioretensi dalam menghilangkan logam berat. (Tentang kemampuan tanaman menyaring polutan kendaraan).

Vijayaraghavan dkk. (2021). Pemilihan vegetasi untuk sistem bioretensi di daerah tropis. (Panduan memilih tanaman lokal yang tangguh).