Scroll Setiap Hari, Tapi Sudah Paham Digital Marketing?

4–6 minutes

Kamu pasti nggak asing dengan aktivitas bangun tidur, ambil HP, lalu scroll feed media sosial tanpa henti. Instagram, TikTok, LinkedIn, sampai YouTube. Semua seakan jadi teman setia sehari-hari. Tapi, pernah nggak sih kamu berhenti sejenak dan mikir: “Aku cuma scrolling atau aku sebenarnya ngerti digital marketing juga?”

Digital Marketing Itu Sebenarnya Apa?

Banyak orang beranggapan digital marketing cuma soal posting konten keren atau viral di media sosial. Padahal, digital marketing adalah strategi memasarkan produk, jasa, atau personal brand secara online dengan tujuan jelas: menarik perhatian, membangun interaksi, dan mendorong penjualan atau konversi.

Misalnya, kamu punya toko online baju. Kamu upload foto-foto cantik di Instagram, tapi tidak mengetahui siapa target audiensmu, tidak melakukan optimasi SEO, dan tidak memanfaatkan iklan berbayar. Hasilnya? Orang hanya melihat, mungkin like sebentar, lalu pergi. Penjualan tidak meningkat.

Digital marketing merupakan kombinasi kreativitas + analisis data + strategi + konsistensi. Jadi, bukan sekadar tampilan feed yang aesthetic atau caption lucu.

Kenapa Banyak Orang Scroll Tapi Belum Paham Digital Marketing?

Scroll sehari-hari memang sering membuat kita “terjebak.” Berikut beberapa alasannya:

  1. Scroll menjadi kebiasaan instan
    Feed selalu bergerak dan algoritma membuat konten terlihat menarik terus-menerus. Tanpa sadar, kita lebih menjadi penonton daripada pembuat konten dengan strategi.
  2. Digital marketing terdengar rumit
    Banyak orang langsung berpikir: “Ah, digital marketing hanya untuk perusahaan besar, butuh coding, desain, atau analisis yang rumit.” Padahal, pemahaman dasar sudah cukup: kenali audiensmu, buat caption yang tepat, atau tentukan timing posting yang efektif.
  3. Terlalu banyak informasi membingungkan
    Media sosial penuh tips dan trik digital marketing. Banyak yang tidak terstruktur, sehingga kita bingung mana yang penting dan mana hanya gimmick semata. Akibatnya, kita scroll tanpa arah, tapi tetap merasa update.

Tanda Kamu Masih “Scroll-Only”

  • Lebih sering like dan save konten orang lain daripada membuat konten sendiri.
  • Tidak tahu mengapa konten tertentu bisa viral atau engagement tinggi.
  • Belum pernah mencoba campaign sederhana, misalnya promosi produk lewat Instagram Story dengan call-to-action.

Mulai Dari Mana Kalau Mau Paham Digital Marketing?

1. Amati Konten yang Kamu Sukai

Perhatikan konten yang sering kamu scroll. Apa yang membuatnya menarik? Apakah visualnya, captionnya, atau waktu postingnya? Misal kamu suka konten kuliner di TikTok. Analisis dulu: apakah yang bikin menarik adalah musik, judul yang bikin penasaran, atau cara videonya diedit? Dari sini, kamu mulai belajar strategi konten tanpa harus ikut kelas formal.

2. Buat Konten Sendiri, Meski Sederhana

Mulai dengan eksperimen kecil: bikin postingan di Instagram atau TikTok tentang hal yang kamu sukai. Jangan takut engagement awalnya rendah. Yang penting adalah belajar dari pengalaman:

  • Konten mana yang paling banyak interaksi?
  • Jam berapa audiensmu paling aktif?
  • Jenis konten apa yang paling mereka sukai?

3. Pahami Dasar SEO dan Algoritma

SEO dan algoritma terdengar menakutkan, tapi cukup memahami dasar-dasarnya sudah membantu:

  • Gunakan hashtag yang relevan dan populer untuk menjangkau audiens lebih luas.
  • Perhatikan waktu posting yang efektif, misalnya jam makan siang atau malam hari.
  • Optimasi kata kunci di blog atau judul video agar lebih mudah ditemukan di mesin pencari.

4. Gunakan Data untuk Evaluasi

  • Lihat insight postingan: mana yang paling banyak di-like, dibagikan, atau dikomentari?
  • Story paling banyak dibuka jam berapa?
  • Konten mana yang membuat orang klik link atau membeli produk?

5. Ikuti Edukasi dari Sumber Kredibel

Banyak akun edukasi digital marketing di LinkedIn, YouTube, atau TikTok. Pilih yang jelas sumbernya, jangan cuma ikut tren viral. Pelajari strategi mereka dan sesuaikan dengan gaya kontenmu sendiri.

Studi Kasus: Dari Scroller Menjadi Digital Marketer Pemula

Mari ambil contoh teman kita, sebut saja Dika.

Dika hanya scroll TikTok dan Instagram setiap hari. Dia menyukai konten kuliner dan fashion, tapi tidak pernah membuat konten sendiri. Suatu hari, dia mencoba eksperimen kecil: membuat review restoran favorit di TikTok. Awalnya, views hanya 50–100 orang. Namun Dika tidak menyerah. Dia mulai menganalisis: video dengan musik tertentu dan caption yang membuat penasaran lebih banyak views-nya. Dia belajar hashtag relevan, waktu upload terbaik, dan cara membalas komentar dengan efektif. Dalam 3 bulan, video Dika mulai viral, dan beberapa restoran bahkan menawarkan kerja sama endorse. Dari seorang scroll-only, Dika kini bisa memanfaatkan digital marketing untuk membangun personal brand dan menghasilkan uang.

Moral cerita: scroll sehari-hari bisa menjadi laboratorium belajar digital marketing, asalkan kamu mulai bereksperimen dan belajar dari data.


Kesalahan Umum Pemula

Kalau baru mulai belajar digital marketing, hindari kesalahan berikut:

  1. Meniru konten tanpa strategi
    Meniru boleh saja, tapi pahami dulu alasan keberhasilan konten tersebut. Tanpa analisis, kontenmu hanya random posting.
  2. Terlalu fokus pada jumlah follower
    Banyak yang berpikir follower banyak = sukses. Padahal engagement lebih penting. Follower banyak tapi tidak ada interaksi? Sama saja.
  3. Tidak konsisten
    Konsistensi adalah kunci. Posting sekali seminggu dan berharap viral? Jarang berhasil. Pelajari pola, terus coba, terus evaluasi.
  4. Lupa tujuan konten
    Setiap konten harus memiliki tujuan: mengedukasi, menghibur, atau mengajak audiens membeli produk. Tanpa tujuan jelas, kontenmu hanya “isi feed” tanpa hasil nyata.

Kesimpulan

Scroll setiap hari itu sah-sah saja. Media sosial memang hiburan, inspirasi, dan sumber informasi cepat. Tapi kalau tujuanmu belajar digital marketing, jangan cuma jadi penonton. Mulai dari hal kecil: pahami konten, buat eksperimen sederhana, dan pelajari data.

Digital marketing bukan soal seberapa sering kamu posting, tapi seberapa efektif kontenmu memengaruhi audiens. Mulai “scroll with purpose.”

Feed yang tadinya cuma hiburan bisa menjadi laboratorium digital marketingmu sendiri. Dengan eksperimen kecil, analisis data, dan konsistensi, kamu bisa berkembang dari seorang scroll-only menjadi digital marketer pemula yang handal.

Referensi:

  1. Chaffey, D., & Ellis-Chadwick, F. (2019). Digital Marketing: Strategy, Implementation and Practice. Pearson.
  2. Ryan, D. (2016). Understanding Digital Marketing. Kogan Page.
  3. Patel, N. (2023). Digital Marketing Made Simple. Neil Patel Digital.
  4. Fishkin, R., & Høgenhaven, T. (2015). The Art of SEO. O’Reilly Media.