Setiap tahun, ribuan mahasiswa diwisuda dengan prosesi yang hampir selalu sama: toga hitam, senyum keluarga, bunga ucapan selamat, dan deretan foto yang kelak akan menjadi arsip kenangan. Di balik suasana haru dan bangga itu, tersimpan satu keyakinan yang jarang diucapkan tapi hidup di benak banyak orang: bahwa setelah ini, hidup akan menjadi lebih pasti.
Bahwa gelar sarjana adalah pintu menuju pekerjaan. Bahwa pekerjaan adalah pintu menuju kehidupan yang layak. Bahwa semua jerih payah selama kuliah akan menemukan pembenarannya di dunia nyata.
Namun, kenyataan tidak selalu berjalan seindah itu.
Banyak lulusan perguruan tinggi justru memasuki fase paling membingungkan dalam hidupnya setelah wisuda. Lamaran kerja dikirim ke berbagai tempat, tetapi jawaban tak kunjung datang. Sebagian akhirnya bekerja tidak sesuai bidangnya. Sebagian lain menganggur cukup lama. Tidak sedikit yang mulai mempertanyakan: untuk apa semua ini?
Di tengah situasi seperti inilah, kewirausahaan kembali dibicarakan. Bukan hanya sebagai pilihan karier, melainkan sebagai cara bertahan, cara berpikir, bahkan cara memaknai hidup di dunia yang tidak lagi ramah terhadap kepastian.
Dunia yang Berubah Lebih Cepat dari yang Kita Pahami
Kita hidup di zaman yang aneh dan gelisah. Teknologi berkembang sangat cepat, tetapi rasa aman justru semakin rapuh. Perusahaan besar bisa runtuh dalam hitungan tahun. Pekerjaan yang hari ini dianggap mapan bisa lenyap besok karena otomatisasi dan kecerdasan buatan. Dunia tidak lagi berjalan dengan logika stabilitas, melainkan dengan logika perubahan terus-menerus.
Generasi mahasiswa hari ini sebenarnya sedang dipersiapkan untuk dunia yang bahkan belum sepenuhnya kita mengerti bentuknya.
Masalahnya, sistem pendidikan kita sering kali masih menggunakan peta lama untuk menjelaskan dunia baru. Mahasiswa diajarkan untuk menjadi rapi, patuh, dan menjawab soal dengan benar. Tapi dunia nyata tidak pernah bertanya dengan soal pilihan ganda. Dunia bertanya dengan masalah yang tidak punya jawaban tunggal.
Di titik inilah, mental kewirausahaan menjadi relevan. Bukan karena semua orang harus membuka usaha, tetapi karena dunia membutuhkan manusia yang mampu membaca perubahan, mengambil inisiatif, dan menciptakan jalan, bukan hanya mengikuti jalur yang sudah tersedia.
Mahasiswa dan Ilusi Kepastian
Sejak awal masuk kuliah, banyak mahasiswa hidup dalam satu skema berpikir yang sangat sederhana: kuliah → lulus → kerja → hidup mapan. Skema ini diwariskan secara turun-temurun dan jarang sekali dipertanyakan.
Masalahnya, dunia sudah berubah, tapi skema ini belum sepenuhnya diperbarui.
Hari ini, gelar tidak lagi otomatis berarti kompetensi. IPK tinggi tidak selalu berarti kesiapan mental dan sosial. Dan bekerja pun tidak selalu berarti aman. Banyak orang bekerja keras bertahun-tahun, tapi tetap hidup dalam kecemasan akan PHK, kontrak habis, atau perusahaan tutup.
Kewirausahaan kemudian muncul bukan sebagai solusi ajaib, tetapi sebagai salah satu bentuk perlawanan terhadap ilusi kepastian itu.
Kewirausahaan Bukan Sekadar Soal Bisnis
Kesalahan paling umum adalah menganggap kewirausahaan hanya soal berdagang atau mencari untung. Padahal, dalam makna yang lebih dalam, kewirausahaan adalah cara memandang dunia dan cara memposisikan diri di dalamnya.
Ia adalah keberanian untuk melihat masalah sebagai peluang. Ia adalah kesediaan untuk bertanggung jawab atas pilihan sendiri. Ia adalah sikap mental yang tidak menunggu dunia berubah, tetapi berusaha menciptakan perubahan, sekecil apa pun.
Dalam konteks mahasiswa, kewirausahaan seharusnya dipahami sebagai bagian dari proses pendewasaan: belajar mengambil keputusan, belajar menanggung risiko, dan belajar menerima kenyataan bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana.
Kampus: Antara Tempat Belajar dan Tempat Menunggu
Kampus sering disebut sebagai menara gading: tempat ilmu, tempat idealisme, tempat berpikir. Tetapi dalam praktiknya, kampus juga sering menjadi ruang penundaan kehidupan.
Banyak mahasiswa menjalani hari-harinya dengan rutinitas yang mekanis: masuk kelas, mengerjakan tugas, mengejar nilai, lalu pulang. Sedikit yang benar-benar menggunakan masa kuliah sebagai ruang eksplorasi diri dan dunia.
Padahal, kampus adalah salah satu lingkungan paling kaya untuk belajar kewirausahaan: ada pasar (mahasiswa itu sendiri), ada jejaring, ada ruang eksperimen, dan ada toleransi terhadap kesalahan.
Namun, budaya takut salah, takut gagal, dan takut berbeda sering kali justru membunuh semua potensi itu.
Pendidikan yang Terlalu Takut pada Kegagalan
Salah satu kelemahan terbesar sistem pendidikan kita adalah minimnya ruang untuk belajar gagal.
Sejak kecil, kita diajarkan untuk mendapatkan nilai bagus, menjadi juara, dan menghindari kesalahan. Gagal identik dengan memalukan. Padahal, di dunia nyata, kegagalan adalah bagian dari kehidupan.
Dalam kewirausahaan, kegagalan bukan kemungkinan, tetapi keniscayaan. Yang membedakan adalah apakah seseorang belajar darinya atau justru berhenti di sana.
Mahasiswa yang pernah mencoba usaha, meskipun gagal, sering kali justru memiliki pemahaman hidup yang lebih matang dibanding mereka yang hanya berjalan di jalur aman.
Antara Idealisme, Tekanan Sosial, dan Realitas Ekonomi
Tidak semua mahasiswa ingin berwirausaha karena panggilan jiwa. Banyak yang terdorong oleh tekanan sosial. Media sosial penuh dengan cerita sukses, penuh dengan pencapaian, penuh dengan pencitraan. Tanpa sadar, hidup berubah menjadi lomba pembuktian.
Dalam kondisi seperti ini, kewirausahaan bisa kehilangan maknanya dan berubah menjadi sekadar alat validasi.
Karena itu, penting untuk selalu kembali ke pertanyaan dasar: mengapa aku melakukan ini?
Waktu, Energi, dan Kesepian
Berwirausaha sambil kuliah bukan kehidupan yang glamor. Ia penuh dengan kompromi, kelelahan, dan kesepian.
Sementara teman-teman bisa bersantai, ada yang harus mengurus pesanan. Sementara yang lain libur, ada yang justru bekerja. Tidak ada dosen yang memberi nilai untuk ketahanan mental. Tidak ada transkrip akademik untuk kegigihan.
Di sinilah karakter dibentuk. Bukan di ruang seminar, tetapi di ruang sunyi ketika seseorang harus memilih antara menyerah atau bertahan.
Negara, Pendidikan, dan Masa Depan Generasi Muda
Jika kita tarik lebih jauh, persoalan kewirausahaan mahasiswa sebenarnya adalah persoalan arah bangsa.
Bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang punya banyak pekerja pintar, tetapi bangsa yang punya banyak pencipta, pembuka jalan, dan pemecah masalah.
Jika sistem pendidikan hanya mencetak lulusan yang seragam, takut berbeda, dan menunggu instruksi, maka kita sedang membangun masa depan yang rapuh.
Kewirausahaan sebagai Proses Menjadi Manusia
Pada akhirnya, kewirausahaan bukan soal bisnis. Ia soal keberanian hidup.
Keberanian memilih jalan sendiri. Keberanian menanggung risiko. Keberanian gagal. Keberanian bertanggung jawab atas hidup sendiri.
Dan mungkin, itulah esensi terdalam dari pendidikan: bukan mencetak manusia yang rapi, tetapi mencetak manusia yang merdeka.
Penutup: Setelah Ini, Kita Mau Menjadi Apa?
Pertanyaan itu akan selalu kembali, cepat atau lambat.
Dan mungkin, jawaban terbaik bukanlah sebuah jabatan, bukan sebuah perusahaan, bukan sebuah gelar.
Jawaban terbaiknya adalah: menjadi manusia yang tidak takut pada ketidakpastian, karena ia tahu bagaimana menciptakan jalannya sendiri.