Di lingkungan perkuliahan, khususnya pada program studi arsitektur, aktivitas belajar mahasiswa tidak terbatas di ruang kelas atau laboratorium. Mahasiswa arsitektur justru menghabiskan sebagian besar waktunya di studio perancangan, tempat di mana mereka menggambar, berdiskusi, menyusun konsep desain, dan menyelesaikan tugas dengan durasi yang panjang dan intens. Studio perancangan bukan sekadar tempat belajar, tetapi juga ruang interaksi sosial, eksperimen kreatif, dan produksi karya desain. Dalam suasana ini, kebutuhan akan energi fisik dan mental meningkat, sementara waktu untuk makan teratur seringkali terbatas. Oleh karena itu, camilan ringan menjadi bagian yang tidak bisa dilepaskan dari keseharian mahasiswa. Salah satu camilan yang sering hadir di tengah kesibukan tersebut adalah basreng, atau bakso goreng.
Basreng dipilih bukan tanpa alasan. Sebagai camilan kering, basreng praktis dikonsumsi kapan saja, tanpa mengganggu aktivitas utama. Teksturnya yang renyah, rasa gurih yang khas, dan sensasi pedas yang menggugah membuat basreng menjadi pilihan ideal bagi mahasiswa yang tengah fokus mengerjakan tugas. Dalam jam-jam panjang menggambar, menyusun maket, atau menyiapkan presentasi, basreng hadir sebagai teman yang menyegarkan sekaligus memberi jeda singkat dari konsentrasi yang intens. Mahasiswa dapat mengambil beberapa potong basreng, menikmati sensasi rasa gurih dan pedas, lalu kembali ke aktivitas perancangan dengan semangat yang terjaga. Kehadiran basreng ini sebenarnya juga dapat dijelaskan dari perspektif psikologi kognitif; camilan yang digigit secara ringan bisa memicu pelepasan dopamin, neurotransmitter yang berperan dalam meningkatkan mood, motivasi, dan kemampuan fokus. Dengan kata lain, basreng secara tidak langsung berfungsi sebagai “fuel mental” yang mendukung konsentrasi mahasiswa selama jam belajar panjang.
Fenomena basreng di lingkungan mahasiswa arsitektur juga menunjukkan adanya inisiatif kreatif dari mahasiswa itu sendiri. Beberapa mahasiswa membuka usaha kecil-kecilan dengan menjual basreng kepada teman-teman satu jurusan atau satu angkatan. Aktivitas ini menciptakan budaya kolektif, di mana setiap kali studio perancangan berlangsung hingga malam hari, mahasiswa memesan basreng secara bersama-sama. Basreng dibagi, disantap, dan dinikmati sambil tetap melanjutkan pengerjaan tugas. Tidak jarang, suasana studio yang tadinya tegang karena deadline berubah menjadi lebih hangat dan akrab ketika basreng hadir sebagai “pemecah suasana” dan pendongkrak energi. Aktivitas sederhana ini memperlihatkan bagaimana camilan bisa menjadi bagian dari rutinitas belajar yang terstruktur namun tetap fleksibel, karena menyesuaikan dengan ritme kerja mahasiswa. Fenomena ini juga relevan dari perspektif pemasaran, di mana mahasiswa sebagai konsumen sekaligus penjual belajar tentang kebutuhan pasar mikro, segmentasi konsumen, strategi harga, dan promosi dari mulut ke mulut, sesuai teori Kotler dan Keller (2016).
Selain fungsi fisik sebagai sumber energi, basreng juga memiliki peran psikologis yang penting. Aktivitas studio perancangan menuntut konsentrasi tinggi dan sering kali berlangsung hingga larut malam. Tekanan dari deadline dan tuntutan kualitas desain dapat menyebabkan stres, kelelahan mental, dan bahkan kejenuhan. Kehadiran basreng memberikan jeda singkat yang menyenangkan, membantu mahasiswa menurunkan ketegangan, serta menjaga mood tetap stabil. Sensasi pedas atau gurih yang khas memberikan semacam “reward” kecil, yang secara psikologis memberi motivasi tambahan untuk tetap fokus dan produktif. Dengan cara ini, basreng berperan tidak hanya sebagai camilan fisik, tetapi juga sebagai penunjang kesehatan mental dalam proses belajar yang menuntut stamina tinggi. Fenomena ini sejalan dengan studi Putra & Suryani (2019) yang menunjukkan bahwa pola konsumsi makanan ringan dapat memengaruhi energi, mood, dan konsentrasi mahasiswa.
Lebih jauh, basreng juga berfungsi sebagai sarana interaksi sosial. Saat mahasiswa berbagi basreng di studio, tercipta momen kebersamaan yang hangat. Aktivitas ini memperkuat hubungan antar mahasiswa, memfasilitasi komunikasi informal, dan mendorong kolaborasi dalam diskusi desain. Dalam banyak kasus, mahasiswa yang awalnya bekerja sendiri dapat terdorong untuk berbagi ide atau meminta masukan dari teman-teman saat menikmati camilan bersama. Dengan demikian, basreng bukan sekadar camilan, tetapi juga media yang memperkuat jaringan sosial di dalam lingkungan akademik. Interaksi sosial ini pada gilirannya bisa meningkatkan kreativitas, karena pertukaran ide dan opini secara informal sering kali menghasilkan solusi desain yang lebih inovatif.
Dari perspektif konsumsi, basreng juga disesuaikan dengan kebutuhan mahasiswa. Porsi yang cukup untuk dibagi bersama, rasa yang kuat, dan harga yang terjangkau menjadi faktor utama dalam pemilihan basreng. Beberapa mahasiswa memilih tingkat kepedasan yang berbeda-beda, dari pedas ringan hingga pedas ekstrem, untuk menciptakan sensasi yang menyenangkan sekaligus menjaga energi tetap tinggi. Basreng dengan tingkat kepedasan tertentu bahkan menjadi semacam “ritual semangat” bagi sebagian mahasiswa sebelum menghadapi sesi perancangan yang panjang. Pilihan rasa ini juga menunjukkan bahwa mahasiswa tidak sekadar mencari camilan, tetapi juga pengalaman sensorik yang mendukung suasana belajar.
Keunikan lain dari fenomena ini adalah adanya unsur kedekatan dan kepercayaan. Basreng yang dijual oleh sesama mahasiswa menciptakan hubungan interpersonal yang berbeda dari transaksi komersial biasa. Konsumen membeli dari teman sendiri, sehingga tercipta kepercayaan dan interaksi sosial yang lebih erat. Tanpa strategi promosi yang kompleks, basreng dikenal luas melalui komunikasi dari mulut ke mulut. Akibatnya, basreng menjadi camilan langganan setiap kali studio perancangan berlangsung. Fenomena ini juga membuka peluang bagi mahasiswa untuk belajar tentang kewirausahaan, manajemen usaha kecil, dan strategi pemasaran sederhana, sehingga camilan ini sekaligus menjadi sarana pembelajaran praktis di luar konteks akademik formal.
Lebih jauh lagi, basreng menunjukkan bagaimana elemen sederhana dalam kehidupan sehari-hari dapat memiliki dampak fungsional, sosial, dan psikologis yang kompleks. Kehadirannya di studio perancangan mahasiswa arsitektur menegaskan bahwa proses belajar bukan hanya soal teori atau teknik, tetapi juga melibatkan dinamika sosial dan kesejahteraan mental. Basreng menjadi simbol dari integrasi kebutuhan fisik, psikologis, dan sosial dalam satu paket sederhana. Ia hadir sebagai teman yang menemani setiap tahapan proses berpikir, mulai dari brainstorming konsep, menyusun sketsa, hingga menyelesaikan maket. Setiap potong basreng yang disantap seakan menjadi pengingat kecil bahwa produktivitas dan kesejahteraan dapat berjalan beriringan.
Selain itu, fenomena basreng di studio arsitektur juga mencerminkan adaptasi mahasiswa terhadap lingkungan belajar yang menuntut fleksibilitas. Dengan jam belajar yang panjang dan aktivitas yang padat, mahasiswa harus menemukan cara praktis untuk memenuhi kebutuhan energi tanpa mengganggu fokus utama. Basreng memenuhi kebutuhan ini dengan sempurna: mudah dibawa, cepat dikonsumsi, dan menyenangkan untuk dinikmati. Kehadiran basreng juga mengajarkan mahasiswa tentang pentingnya keseimbangan antara produktivitas dan pemeliharaan energi pribadi, sekaligus mendorong mereka untuk menemukan solusi kreatif dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam konteks yang lebih luas, fenomena konsumsi basreng di studio perancangan mahasiswa arsitektur juga dapat dipahami sebagai bagian dari strategi adaptif terhadap tuntutan lingkungan akademik yang intens. Studio perancangan sering kali menuntut mahasiswa untuk bekerja dalam durasi panjang tanpa jeda yang jelas antara waktu belajar, berdiskusi, dan beristirahat. Situasi ini menuntut adanya mekanisme sederhana namun efektif untuk menjaga stamina fisik dan mental. Basreng, dengan karakteristiknya yang praktis dan mudah dikonsumsi, menjadi salah satu bentuk adaptasi spontan yang muncul dari kebutuhan tersebut. Kehadiran camilan ini menunjukkan bagaimana mahasiswa secara tidak sadar merancang “sistem pendukung” bagi aktivitas belajar mereka, serupa dengan konsep desain adaptif dalam arsitektur yang merespons kebutuhan pengguna dan konteks ruang.
Jika ditinjau dari perspektif ergonomi dan perilaku ruang, konsumsi basreng juga berkaitan dengan pola penggunaan studio perancangan. Studio bukan hanya ruang kerja, tetapi juga ruang hidup sementara bagi mahasiswa arsitektur. Aktivitas makan ringan di dalam studio menunjukkan bahwa batas antara ruang belajar dan ruang personal menjadi kabur. Mahasiswa makan, berbincang, dan bekerja di tempat yang sama, menciptakan suasana yang lebih cair dan informal. Kondisi ini justru mendukung terciptanya lingkungan belajar yang kolaboratif, karena interaksi tidak dibatasi oleh formalitas ruang kelas. Basreng, dalam hal ini, berperan sebagai elemen pemicu interaksi yang memperkaya pengalaman ruang studio sebagai ruang sosial dan kreatif.
Selain itu, fenomena ini juga dapat dianalisis dari sudut pandang ekonomi mikro mahasiswa. Dengan menjual basreng secara informal, mahasiswa belajar mengelola usaha kecil yang berorientasi pada kebutuhan komunitasnya sendiri. Mereka menentukan harga yang terjangkau, mengatur distribusi sederhana, dan menyesuaikan produksi dengan permintaan. Aktivitas ini mencerminkan praktik kewirausahaan berbasis komunitas (community-based entrepreneurship), di mana hubungan sosial dan kepercayaan menjadi modal utama. Pengalaman ini memberikan pembelajaran kontekstual yang berharga, karena mahasiswa tidak hanya memahami teori ekonomi atau pemasaran secara abstrak, tetapi juga mengalaminya langsung dalam keseharian.
Kehadiran basreng juga memperlihatkan dinamika solidaritas di antara mahasiswa arsitektur. Studio perancangan sering kali menjadi tempat di mana mahasiswa menghadapi tantangan yang sama secara bersamaan. Berbagi basreng menjadi simbol solidaritas dan kebersamaan dalam menghadapi tekanan akademik. Aktivitas ini menciptakan rasa “senasib sepenanggungan” yang memperkuat ikatan sosial. Solidaritas ini penting dalam konteks pendidikan arsitektur, karena proses desain sering kali membutuhkan dukungan sosial, pertukaran ide, dan kerja sama informal untuk menghasilkan karya yang lebih baik.
Dalam konteks pembelajaran kreatif, suasana yang cair dan suportif seperti ini justru dapat mendorong lahirnya ide-ide inovatif. Diskusi desain yang terjadi sambil menikmati camilan cenderung lebih santai dan terbuka, sehingga mahasiswa merasa lebih nyaman untuk mengemukakan gagasan, bahkan yang masih mentah sekalipun. Proses ini sejalan dengan teori kreativitas yang menekankan pentingnya lingkungan yang aman secara psikologis (psychological safety) untuk mendorong eksplorasi ide. Basreng, meskipun sederhana, menjadi bagian dari atmosfer yang mendukung terciptanya ruang aman tersebut.
Pada akhirnya, basreng menjadi simbol bagaimana mahasiswa arsitektur merespons tantangan akademik dengan cara yang kreatif, adaptif, dan berbasis kebersamaan. Fenomena ini menegaskan bahwa proses belajar tidak hanya ditentukan oleh kurikulum dan metode pengajaran, tetapi juga oleh praktik-praktik keseharian yang membentuk budaya belajar. Basreng, dalam kesederhanaannya, telah menjadi bagian integral dari pengalaman studio perancangan, menemani proses berpikir, berdiskusi, dan berkarya. Ia menjadi bukti bahwa keseimbangan antara kebutuhan fisik, psikologis, dan sosial merupakan fondasi penting bagi keberhasilan dan kreativitas mahasiswa arsitektur.
Dengan demikian, fenomena basreng di studio perancangan mahasiswa arsitektur tidak dapat dipandang secara sederhana sebagai kebiasaan makan camilan semata. Ia merupakan bagian dari sistem sosial, psikologis, dan budaya yang lebih luas. Basreng hadir sebagai solusi praktis, media interaksi sosial, sarana pembelajaran kewirausahaan, serta penunjang kesejahteraan mental. Kehadirannya memperkaya ekosistem belajar dan menunjukkan bahwa elemen-elemen kecil dalam kehidupan sehari-hari dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap kualitas pengalaman belajar.
Signature
Ditulis oleh: Erckhant Nanda Ilham Pratama – 10423039 – Teknik Arsitektur
Referensi
Kotler, P., & Keller, K. L. (2016). Marketing management. Pearson Education.
Putra, A. R., & Suryani, L. (2019). Pengaruh pola konsumsi makanan ringan terhadap energi dan konsentrasi belajar mahasiswa. Jurnal Gizi dan Kesehatan, 11(2), 85–94.
Rapoport, A. (1969). House form and culture. Prentice-Hall.