Digital marketing saat ini sering dianggap sebagai strategi pemasaran yang paling efektif di era digital. Dengan bantuan algoritma dan data, pelaku bisnis bisa menargetkan konsumen secara lebih tepat melalui media digital seperti media sosial dan mesin pencari. Banyak yang beranggapan bahwa semakin baik optimasi algoritma, maka semakin efektif pula digital marketing yang dilakukan. Namun, anggapan ini tidak selalu sepenuhnya benar.
Pada dasarnya, digital marketing bekerja dengan memanfaatkan data perilaku pengguna, seperti apa yang mereka cari, klik, atau tonton. Data tersebut kemudian digunakan untuk menampilkan iklan atau konten yang dianggap sesuai dengan minat konsumen. Keberhasilan strategi ini biasanya diukur dari angka, seperti jumlah klik, interaksi, atau pembelian. Masalahnya, angka-angka ini tidak selalu mencerminkan apa yang sebenarnya dipikirkan atau dirasakan konsumen.
Dalam kenyataannya, perilaku konsumen tidak selalu rasional. Keputusan membeli sering kali dipengaruhi oleh emosi, suasana hati, lingkungan sosial, atau tren yang sedang berlangsung. Konsumen bisa tertarik pada sebuah iklan hanya karena terlihat menarik, bukan karena benar-benar membutuhkan produk tersebut. Sebaliknya, iklan yang sudah disesuaikan dengan minat konsumen pun bisa diabaikan karena konsumen merasa bosan atau terganggu.
Hal ini menunjukkan adanya perbedaan antara cara kerja algoritma dan cara berpikir manusia. Algoritma fokus pada pola dan data, sementara manusia memiliki pertimbangan yang jauh lebih kompleks. Jika strategi digital marketing terlalu fokus pada apa yang “disukai algoritma”, pesan yang disampaikan bisa kehilangan makna bagi konsumen. Bahkan, personalisasi yang berlebihan dapat membuat konsumen merasa privasinya terganggu.
Oleh karena itu, efektivitas digital marketing tidak bisa dilihat hanya dari seberapa bagus angka performanya dalam jangka pendek. Strategi yang terlihat berhasil secara data belum tentu mampu membangun kepercayaan dan hubungan jangka panjang dengan konsumen. Digital marketing akan lebih efektif jika pelaku bisnis tidak hanya mengandalkan algoritma, tetapi juga memahami perilaku dan kebutuhan konsumen secara lebih manusiawi.
Kesimpulannya, digital marketing yang efektif adalah yang mampu menyeimbangkan penggunaan teknologi dengan pemahaman terhadap perilaku konsumen. Algoritma memang penting, tetapi tidak bisa menggantikan pemikiran kritis dan empati terhadap konsumen. Dengan pendekatan yang seimbang, digital marketing dapat menjadi strategi yang tidak hanya efektif, tetapi juga relevan dan berkelanjutan.