Inovasi Sabun Ramah Lingkungan Berbahan Dasar Kulit Jeruk sebagai Solusi Pengelolaan Sampah Organik dan Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat

7–11 minutes

Dari Sampah ke Solusi

Pendahuluan

Buah jeruk merupakan salah satu buah yang paling banyak dikonsumsi di Indonesia. Rasanya yang segar dan manfaatnya yang tinggi akan vitamin C membuat jeruk menjadi pilihan banyak orang, terutama untuk menjaga daya tahan tubuh. Namun, setiap kali kita menikmati jeruk, selalu ada bagian yang dibuang: kulitnya. Di pasar-pasar tradisional, restoran, dan rumah tangga, limbah kulit jeruk menumpuk setiap hari. Jika dihitung secara nasional, jutaan kilogram kulit jeruk terbuang tanpa dimanfaatkan.

Fenomena ini menimbulkan dua masalah sekaligus. Pertama, meningkatnya jumlah sampah organik yang sulit terurai secara cepat dan berpotensi menimbulkan bau busuk serta gas metana penyebab efek rumah kaca. Kedua, hilangnya potensi ekonomi dari bahan alam yang sebenarnya sangat bernilai. Kulit jeruk mengandung minyak atsiri dengan komponen utama limonene, yang dikenal sebagai antibakteri alami dan aromatik. Selain itu, senyawa flavonoid dalam kulit jeruk juga memiliki sifat antioksidan dan antiinflamasi yang dapat menjaga kesehatan kulit.

Dari latar belakang inilah, tim kami yang tergabung dalam Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) UNIKOM terinspirasi untuk membuat produk ramah lingkungan dengan pendekatan sains sederhana: sabun alami berbahan dasar limbah kulit jeruk. Ide ini muncul dari keinginan kami untuk berkontribusi terhadap isu lingkungan dan sekaligus mengangkat potensi ekonomi masyarakat lokal. Kami percaya bahwa dengan pendekatan ilmiah dan kreativitas, limbah bisa menjadi peluang.

Tahap Eksperimen: Meracik Sabun dari Bahan Alami

Langkah pertama yang kami lakukan adalah mengumpulkan limbah kulit jeruk dari pedagang jus dan pasar sekitar kampus. Setelah terkumpul, kulit jeruk dibersihkan dan dijemur di bawah sinar matahari hingga benar-benar kering untuk mencegah pembusukan. Setelah itu, kulit jeruk kering dihancurkan menjadi bubuk halus menggunakan blender. Bubuk ini kemudian diekstraksi dengan air hangat selama beberapa jam untuk mengambil minyak atsiri dan senyawa aktif lainnya.

Hasil ekstraksi yang diperoleh memiliki aroma jeruk yang kuat dan warna oranye alami. Cairan ekstrak ini menjadi bahan utama dalam proses pembuatan sabun. Kami mencampurkannya dengan minyak kelapa murni (VCO) yang berfungsi sebagai bahan lemak alami dan larutan alkali (NaOH) sebagai bahan pengubah minyak menjadi sabun melalui reaksi saponifikasi.

Proses ini membutuhkan ketelitian karena perbandingan bahan harus tepat. Jika terlalu banyak NaOH, sabun akan terasa keras dan bisa menyebabkan iritasi kulit. Namun jika terlalu sedikit, sabun tidak akan mengeras sempurna. Setelah pencampuran selesai, kami menambahkan gliserin nabati, yaitu komponen alami yang berfungsi menjaga kelembapan kulit. Campuran ini kemudian diaduk hingga merata dan didiamkan selama 48 jam agar reaksi kimianya sempurna.

Dalam versi lanjutan, kami menambahkan eco-enzyme, yaitu cairan hasil fermentasi limbah kulit jeruk dengan gula dan air selama 90 hari. Cairan ini mengandung berbagai enzim aktif yang dapat membantu proses pembersihan secara alami. Berdasarkan penelitian Khasanah, Shilfiyah, dan Hidayati (2025), sabun yang ditambahkan eco-enzyme dari kulit jeruk menunjukkan peningkatan kemampuan antibakteri terhadap E. coli serta memberikan aroma alami yang tahan lama. Hasilnya, sabun kami menjadi lebih lembut dan memiliki daya pembersih yang baik tanpa menimbulkan iritasi.

Kami melakukan beberapa kali uji coba untuk menemukan komposisi terbaik antara minyak kelapa, ekstrak kulit jeruk, dan eco-enzyme. Setiap percobaan menghasilkan tekstur, warna, dan aroma yang sedikit berbeda. Setelah melalui beberapa iterasi, kami mendapatkan hasil yang ideal: sabun cair berwarna oranye muda dengan aroma segar jeruk alami yang khas.

Hasil Eksperimen dan Respon Pengguna

Setelah sabun siap, kami melakukan uji coba pengguna terhadap 20 responden yang terdiri dari mahasiswa, staf kampus, dan ibu rumah tangga di sekitar wilayah Sukasari, Bandung. Sebagian besar responden menyatakan bahwa sabun ini memiliki aroma alami yang menyegarkan tanpa terasa menyengat seperti sabun komersial. Mereka juga menyukai teksturnya yang lembut di kulit.

Berdasarkan observasi kami, sabun kulit jeruk ini memiliki busa yang lebih sedikit dibandingkan sabun industri karena tidak mengandung surfaktan sintetis seperti Sodium Lauryl Sulfate (SLS). Namun justru karena hal itu, sabun ini lebih ramah bagi kulit sensitif dan tidak menimbulkan rasa kering setelah digunakan.

Beberapa pengguna melaporkan bahwa setelah dua minggu pemakaian, kulit tangan terasa lebih halus dan tidak mudah pecah-pecah. Selain itu, sabun ini juga memiliki efek membersihkan yang cukup baik, terutama untuk kotoran minyak dan debu ringan. Kami melakukan uji penyimpanan selama dua bulan dan menemukan bahwa sabun tetap stabil tanpa perubahan bau atau warna, selama disimpan pada suhu ruang yang sejuk dan wadah tertutup.

Banyak pengguna yang menyarankan agar sabun ini dikembangkan dalam bentuk padat dan dikemas dengan desain yang menarik. Saran tersebut menjadi masukan penting bagi kami untuk pengembangan produk ke depan.

Manfaat Lingkungan dan Sosial

Salah satu keunggulan utama dari proyek ini adalah kemampuannya untuk mengubah limbah organik menjadi produk bernilai guna. Dengan mengolah kulit jeruk menjadi sabun, kami berkontribusi mengurangi volume sampah organik yang biasanya berakhir di tempat pembuangan akhir. Dalam skala kecil, proyek ini mungkin terlihat sederhana, tetapi jika diterapkan secara luas di masyarakat, dampaknya bisa signifikan terhadap pengelolaan sampah perkotaan.

Selain manfaat lingkungan, proyek ini juga memiliki nilai sosial yang tinggi. Produksi sabun alami tidak memerlukan peralatan mahal, sehingga mudah diadopsi oleh kelompok masyarakat, terutama ibu rumah tangga. Mereka dapat memproduksi sabun sendiri untuk keperluan rumah tangga atau menjualnya sebagai produk lokal.

Penelitian Yulia, Annita, dan Haq (2025) dalam Jurnal Kreativitas Pengabdian Masyarakat menegaskan bahwa program pelatihan pengolahan limbah kulit jeruk menjadi sabun cair dapat meningkatkan keterampilan dan pendapatan masyarakat di daerah perkotaan. Sementara itu, penelitian Novianawati dan Anjellina (2025) juga membuktikan bahwa kegiatan serupa mampu meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kebersihan dan lingkungan melalui praktik langsung.

Jika konsep ini diterapkan secara massal, sabun kulit jeruk bisa menjadi model bisnis mikro berbasis keberlanjutan. Bahan baku yang murah, proses yang sederhana, dan nilai tambah yang tinggi menjadikan produk ini sangat potensial untuk dikembangkan sebagai UMKM hijau.

Potensi Bisnis dan Strategi Pemasaran

Seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap isu lingkungan, permintaan terhadap produk ramah lingkungan juga terus bertumbuh. Produk-produk seperti sabun herbal, kosmetik alami, dan deterjen organik kini semakin digemari, terutama oleh generasi muda. Tren ini membuka peluang besar bagi sabun kulit jeruk untuk memasuki pasar lokal maupun daring.

Kami menyadari bahwa kekuatan utama sabun ini terletak pada identitasnya sebagai produk eco-friendly yang tidak hanya membersihkan tubuh, tetapi juga menyelamatkan lingkungan. Dengan kemasan berbahan daur ulang dan desain minimalis yang modern, produk ini dapat menarik minat pasar milenial.

Strategi pemasaran yang kami rancang meliputi promosi melalui media sosial seperti Instagram, Shopee, dan TikTok Shop. Video singkat tentang proses pembuatan sabun dari kulit jeruk, lengkap dengan narasi “dari limbah menjadi peluang”, mampu menarik perhatian dan membangun kesadaran masyarakat tentang pentingnya gaya hidup berkelanjutan.

Selain itu, kerja sama dengan koperasi mahasiswa, komunitas wirausaha kampus, atau toko ramah lingkungan bisa menjadi langkah awal untuk memperluas distribusi produk. Dalam jangka panjang, sabun ini berpotensi menjadi merek lokal yang mengusung nilai green innovation dan tanggung jawab sosial.

Kajian Ilmiah: Kenapa Kulit Jeruk Efektif?

Secara ilmiah, kulit jeruk memiliki sejumlah senyawa aktif yang menjadikannya bahan ideal untuk sabun alami. Kandungan limonene berfungsi sebagai pelarut alami yang mampu mengangkat lemak dan minyak dari kulit. Flavonoid seperti hesperidin dan naringin berperan sebagai antioksidan yang membantu melindungi kulit dari radikal bebas. Selain itu, vitamin C dalam kulit jeruk membantu mencerahkan kulit secara alami tanpa efek samping bahan kimia pemutih.

Proses saponifikasi yang kami gunakan menghasilkan sabun dengan pH netral antara 7 hingga 8, yang aman untuk kulit manusia. Penambahan gliserin menjaga kelembapan, sementara minyak atsiri dari kulit jeruk memberikan efek relaksasi. Tidak hanya membersihkan, sabun ini juga memberikan efek aromaterapi alami yang menenangkan pikiran.

Beberapa studi juga menunjukkan bahwa minyak atsiri kulit jeruk dapat menurunkan pertumbuhan mikroorganisme penyebab bau badan, sehingga sabun ini efektif digunakan untuk kebutuhan sehari-hari tanpa menyebabkan iritasi. Inilah alasan mengapa sabun berbahan kulit jeruk memiliki nilai ilmiah dan fungsional yang tinggi.

Tantangan, Evaluasi, dan Pembelajaran

Tentu saja, setiap inovasi memiliki tantangan tersendiri. Dalam eksperimen ini, kami menghadapi berbagai kendala seperti perbandingan bahan yang tidak stabil pada awal percobaan, proses fermentasi eco-enzyme yang memerlukan waktu lama, serta keterbatasan alat untuk mengukur kadar antibakteri secara akurat.

Namun, melalui berbagai uji coba, kami memahami pentingnya pengendalian suhu, pH, dan waktu fermentasi untuk menghasilkan sabun dengan kualitas terbaik. Kami juga belajar untuk mendokumentasikan setiap proses dengan detail agar dapat dilakukan replikasi di kemudian hari.

Selain aspek teknis, kami belajar bahwa inovasi juga membutuhkan kemampuan komunikasi. Kami berlatih menjelaskan ide ini kepada masyarakat umum dengan bahasa sederhana agar mudah dipahami. Kami juga melakukan pendekatan persuasif agar masyarakat mau mencoba produk lokal alami ini sebagai alternatif sabun industri.

Program PKM ini membuka mata kami bahwa menjadi mahasiswa bukan hanya tentang menuntut ilmu, tetapi juga bagaimana menerapkannya untuk memberi manfaat bagi orang lain. Inovasi sekecil apa pun, jika dilakukan dengan niat dan kerja sama yang kuat, dapat menghasilkan dampak besar bagi lingkungan dan masyarakat.

Refleksi dan Harapan Masa Depan

Melalui proyek ini, kami semakin yakin bahwa mahasiswa memiliki potensi besar sebagai agen perubahan di bidang lingkungan dan kewirausahaan sosial. Inovasi sabun kulit jeruk ini menjadi bukti bahwa solusi lingkungan tidak harus selalu dimulai dari laboratorium besar atau perusahaan besar. Dari dapur kecil kampus pun, inovasi dapat lahir dan berkembang menjadi sesuatu yang berdampak.

Kami berharap ke depan, proyek ini dapat dikembangkan menjadi program kewirausahaan mahasiswa berbasis green business dengan dukungan inkubator kampus dan mitra UMKM lokal. Dengan riset lebih lanjut, sabun kulit jeruk dapat dikombinasikan dengan bahan herbal lain seperti lidah buaya, madu, atau teh hijau untuk memperluas variasi produk.

Selain itu, kami ingin menjadikan program ini sebagai gerakan edukatif untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya gaya hidup berkelanjutan. Dengan kolaborasi antara akademisi, mahasiswa, dan komunitas lokal, kita bisa mewujudkan masa depan yang lebih hijau, sehat, dan mandiri secara ekonomi.

Pada akhirnya, sabun kulit jeruk ini bukan sekadar produk, tetapi simbol perubahan cara pandang terhadap limbah. Dari sesuatu yang dulunya dianggap tidak berguna, kini menjadi bukti bahwa inovasi berkelanjutan bisa dimulai dari hal paling sederhana — dari kulit jeruk yang kita buang setiap hari.

Referensi

  1. Nasar, N. A. S., Fahriati, A. R., Sari, D. P., & Purwaningsih, N. S. (2025). Inovasi dan Pemanfaatan Sabun Cuci Tangan dari Limbah Kulit Jeruk (Citrus sinensis L.) di Parung. Seminar Nasional SEMLITMAS 2025.
  2. Yulia, I., Annita, A., & Haq, R. A. N. (2025). Pengelolaan Sampah Organik Kulit Jeruk Manis menjadi Sabun Mandi Cair: Solusi Ramah Lingkungan dan Pemberdayaan Ekonomi Ibu Rumah Tangga. Jurnal Kreativitas Pengabdian, Universitas Malahayati. https://www.ejurnalmalahayati.ac.id/index.php/kreativitas/article/view/22646
  3. Novianawati, N., & Anjellina, C. (2025). Inovasi Limbah Jeruk Sunkist: Sabun Alami Sebagai Upaya Pemberdayaan UMKM dan Edukasi Higiene Masyarakat. Suluh Abdi Journal. https://ojs.um-palembang.ac.id/index.php/suluhabd/article/download/1178/484
  4. Munggaran, N. R. D., Jubaedah, J., & Desmintari, D. (2025). Pelatihan Sabun Ramah Lingkungan: Upaya Pemberdayaan Masyarakat dan Pengurangan Limbah Rumah Tangga. Media Bina Ilmiah. http://binapatria.id/index.php/MBI/article/download/1441/1074
  5. Khasanah, Z., Shilfiyah, A. N., & Hidayati, R. N. (2025). Pemanfaatan Eco-Enzyme Berbahan Dasar Limbah Kulit Jeruk untuk Pembuatan Sabun Cair Ramah Lingkungan serta Pengujian Antibakteri dan Organoleptiknya. ResearchGate. https://www.researchgate.net/publication/391466599_PEMANFAATAN_ECO-ENZYME_BERBAHAN_DASAR_LIMBAH_KULIT_JERUK_UNTUK_PEMBUATAN_SABUN_CAIR_YANG_RAMAH_LINGKUNGAN_SERTA_PENGUJIAN_ANTIBAKTERI_DAN_ORGANOLEPTIKNYA